Tukang Sate Keliling

Dua kali Ibu bercerita. Tetap saja nada suaranya sama. Sedih. Ia tukang sate keliling langganan kami. Sudah puluhan tahun ia berjualan. Ia membantu Ibu menyiapkan makan malam buat kami.

Tak setiap saat Ibu memasak. Kadang-kadang ia lelah atau memang lauk-pauk habis di kulkas. Sementara saat itu aku dan kakak sedang aktif-aktifnyanya melakukan berbagai kegiatan di sekolah, sehingga sering pulang saat petang.

Pada saat itulah Ibu menunggu. Ia duduk di teras dengan membawa dua buah piring. Ia menunggu tukang sate langganannya lewat. Ya tak lama kemudian terdengar teriakannya yang khas. Dengan cekatan ia pun membakar sate dan menyiapkan bumbunya.

Seingatku tinggal tukang sate itu yang lewat di gang kami. Tukang sate satunya lagi sudah tak berjualan. Eks tukang sate pernah menjadi loper koran, tapi setelah ia tak pernah kelihatan. Tukang sate bertubuh subur inilah yang kemudian bertahun-tahun menyusuri gang kami. Dan Ibu pelanggannya sejak aku masih remaja.

Aku tak tahu apakah ada lagi tukang sate keliling di gang kami. Ibu pasti sedih kehilangan salah satu kawannya. Berkat dia kami bisa makan malam dengan nikmat dan tak perlu susah-payah.

Tukang Sate Larut Malam
Jam sudah hampir tengah malam. Aku mendengar penjual sate meneriakkan dagangannya. Sudah malam. Apakah dagangannya belum habis?

Harga sepuluh tusuk sate ayam keliling Rp 13 ribu. Hanya naik tigaribu sejak aku pindah ke kawasan ini tujuh tahun silam.

Bedanya dulu penjual sate keliling ada sekitar lima orang. Selain mereka masih ada penjual nasi goreng, penjual gorengan, putu, gethuk, sekoteng, dan masih banyak lagi. Tapi sekarang sepi. Yang tertinggal hanya seorang penjual sate, seorang penjaja nasi goreng, dan penjual sekoteng. Dua yang terakhir agak lama tidak lagi terdengar.

Memang kemajuan jaman susah dilawan. Pesaing mereka sangat banyak. Ada penjual makanan online juga penjual makanan yang memiliki stan dan tempat makan.

Mereka berjuang dengan berjalan kaki menawarkan makanannya. Biaya mendirikan kios dan membayar sewanya cukup mahal. Profesi inilah yang mungkin dikuasai mereka sehingga mereka bertahan.

Aku ikut merasa nelangsa ketika hari hujan dan tak ada yang membeli dagangan mereka. Pikulan mereka cukup berat dan pasti mereka lelah berteriak dan melangkah.

Tukang sate tetaplah semangat karena Kalian memberikan bantuan lewat makanan Kalian😀

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Februari 14, 2019.

2 Tanggapan to “Tukang Sate Keliling”

  1. Wah ini gak boleh hilang walaupun ada online. Tetep butuh kalo ngedadsk lapar,haha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: