Mengapa Sebagian Pihak Kontra Masalah Plastik Berbayar?

Sampah plastik sebenarnya sudah lama menjadi masalah. Ada banyak hewan yang tewas karena limbah plastik di lautan dan daratan. Sampah ini memang sulit diuraikan, tinggal menunggu didaur ulang. Pemerintah pun mencoba jalan yang praktis, tas plastik di pertokoan pun berbayar. Benarkah efektif?

Efektif tidaknya kebijakan plastik berbayar bisa diukur di suatu daerah yang telah melakukan kebijakan serupa. Di Jakarta kebijakan ini naik turun. Suatu ketika pernah dijalankan kemudian dicabut dan kemudian dijalankan lagi. Latar belakang dan masalah yang dikeluhkan masyarakat tetap sama. Seolah-olah tak belajar dari masa lalu. Itulah mungkin perlunya pemerintah kita belajar sejarah.

Mengurangi pemakaian sampah plastik jelas sangat membantu. Tapi dengan mengenakan tarif untuk wadah plastik tersebut rasanya agak ganjil. Memang ada dua kemungkinan yang akan terjadi bagi si pembeli. Yang pertama tidak akan menggunakan wadah plastik karena enggan membayar dan barangnya sedikit. Yang kedua, ia terpaksa membelinya dan mungkin jumlahnya lebih dari 1-2 kantung karena ia berbelanja dalam jumlah besar.

Ya bisa jadi ada penurunan dari mereka yang menolak membayar. Mereka akan terpaksa membawa barang tersebut dengan tangan atau sudah siap dengan kantung belanjaan mereka.

Tapi sebenarnya sudah menjadi hak pembeli untuk mendapatkan kantung tempat menaruh belanjaan. Hanya, bentuknya tak harus wadah plastik. Ia bisa berupa kantung kertas ataupun kardus yang relatif mudah terurai. Tidak memberikan alternatif wadah lainnya, hanya memaksakan untuk membeli kantung plastik rasanya kurang arif. Lama-kelamaan sebagian pihak akan lebih suka membeli secara daringĀ  daripada toko fisik agar tidak repot membeli kantung plastik atau membawa tas sendiri.

Waktu ke India aku beberapa kali mendapat kantung kertas ketika berbelanja kue, roti juga buah-buahan. Jadi wadah tak harus kantung plastik.

Ibu-ibu jaman dulu termasuk ibuku juga suka membawa tas anyaman atau tas seperti keranjang piknik ketika berbelanja di pasar. Di sana pedagangnya ada yang membungkus dengan kantung kertas, ada juga yang dengan menggunakan dedaunan seperti ketika membeli daging sapi. Kue-kue jajan pasar juga dibungkus dengan daun pisang. Tentunya bagian lauk-pauk, sayuran, dan makanan matang dipisahkan agar tak berbahaya.

Ya masalah kantung plastik berbayar masih kontroversi. Alasan lainnya masih banyak yang menolak membayar karena tidak jelasnya larinya dana pembelian kantung plastik tersebut. Kemana larinya? Apakah ke toko tersebut? Atau disumbangkan ke Kementerian Lingkungan Hidup untuk investasi alat pengolah sampah plastik?

Jika lari ke toko wah bisa jadi bisnis yang legit. Ia akan meraih keuntungan masif. Seandainya ada 1000 pembeli perhari maka ia bisa meraup Rp 200 ribu/hari hanya dengan berdagang kantung plastik.

Ya kebijakan plastik berbayar ini masih memiliki celah yang tidak menguntungkan bagi masyarakat. Sampah plastik juga bukan hanya dari kantung plastik. Sebagian lainnya juga dari kemasan makanan dan minuman. Jika pemerintah ingin kebijakan pembatasan sampah plastik ini menyeluruh maka ia bisa menekan produsen makanan dan minuman untuk membuat kemasan yang mudah didaur ulang.

Edukasi dan sosialisasi ke masyarakat termasuk anak-anak akan bahaya sampah plastik juga perlu digencarkan. Pasalnya, masih banyak warga yang seenaknya membuang sampah plastik di sungai, selokan, dan tempat-tempat wisata.

Gambar:idntimes, kantor berita kemanusiaan

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 5, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: