Libur Panjang Saat Ramadan

Aku pernah merasakan libur panjang saat bulan Ramadan. 30 hari penuh. Jarang-jarang ada momen seperti itu. Alhasil bulan Ramadan pada tahun tersebut menjadi salah satu yang berkesan.

Seingatku libur bulan puasa yang begitu panjang digagas oleh Presiden Gus Dur. Aku lupa alasan di baliknya, tapi bisa jadi tujuannya agar para siswa bisa memanfaatkan bulan Ramadan untuk beribadah sebaik-baiknya.

Waktu itu bukannya aku merasakan kelonggaran aktivitas, aku malah disibukkan dengan belajar. Saat itu bakal diadakan olimpiade matematika dan even lomba cerdas-cerdas matematika. Alhasil aku malah belajar kelompok dan sesekali guru matematika kami datang untuk melihat perkembangan kami.

Soal-soal olimpiade matematika lumayan susah. Ia tak seperti soal matematika pada umumnya. Dalam satu soal bisa ada beberapa konsep dan rumus matematika yang perlu digunakan. Kadang-kadang soalnya juga menjebak, perku kehati-hatian dalam memaknai soalnya. Oh ya soalnya biasanya dalam bahasa Inggris.

Aku belajar dengan giat setiap paginya. Kadang-kadang kami belajar di sekolah. Kadang-kadang di ruang tamu rumahku. Jika belajar di sekolah kami suka melakukan selingan dengan bermain tenis meja. Hehehe badan jadi berkeringat saat berpuasa, tapi kami jadi lebih rileks.

Ya masa itu momen yang menyenangkan meskipun cukup berat. Kami bercanda sambil belajar dengan serius.

Ada kejadian lucu yang pernah kualami. Saat itu kami sedang belajar kelompok di rumahku. Aku tak menyangka guru matematikaku akan datang. Dalam hati aku bertanya-tanya, kok dia tahu alamat rumahku ya dan tahu kami belajar di rumahku ini. Tapi dia kan juga wali kelas, mungkin dia tahu dari biodata anak didiknya.

Singkatnya kami jadi belajar lebih serius dengan kehadiran guru tersebut. Eh di tengah keseriusan itu nenekku yang rumahnya di sebelah rumahku menyetel radio keras-keras. Ia memutar musik dangdut. Waduh aku antara malu dan mau tertawa. Tapi untunglah tak lama, sepertinya ibuku atau kakakku memberitahu nenekku jika ada guru di antara kami.

Meskipun kami belajar giat, kami tak berhasil mendapatkan medali emas di olimpiade matematika tersebut. Tapi kami beberapa kali menjadi finalis lomba matematika yang bergengsi. Aku juga pernah meraih juara harapan dalam bidang matematika. Sampai saat ini matematika masih menjadi mata pelajaran favoritku selain kimia dan sejarah. Bisa jadi faktor belajar intensif matematika itulah yang membuatku bisa lolos masuk teknik informatika di kampus bergengsi yang terletak di Surabaya Timur.

Aku merindukan momen itu. Libur Ramadan sebulan penuh, belajar matematika dengan tekun, dan bermain tenis meja sewaktu-waktu.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Mei 22, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: