Dua Pekan Mengikuti 30 Hari Tantangan Membaca Buku

Membaca buku di era digital ini terasa lebih susah dibandingkan lima tahun ke belakang. Dulu distraksinya tak sebanyak sekarang sehingga bisa fokus membaca hingga tuntas. Nah, pada pekan kedua 30 hari tantangan membaca buku ini aku tidak serajin pekan pertama yang bisa menamatkan enam buku. Kali ini aku hanya berhasil menamatkan satu buku dan membaca sekian lembar buku berikutnya.

Aktivitas membaca menjadi sebuah tantangan. Dengan kembali membentuk kebiasaan membaca buku aku juga berharap dapat melatih diri untuk berkonsentrasi.

Buku yang dulu kubaca pada pekan pertama yaitu “Wolf in The Winter” dan “Dan Damai di Bumi” belum kuselesaikan. Aku masih belum tertarik untuk melanjutkan membacanya.

Buku pertama dan yang berhasil kutamatkan dalam pekan kedua ini yaitu “3, Alif Lam Mim”. Ia adalah novel dari sebuah film. Pada umumnya novel laris yang diboyong ke layar lebar. Tapi yang ini sebaliknya. “Alif Lam Mim” bukan film yang masuk box office meskipun filmnya apik dan unik. Ia malah hanya tayang terbatas, hanya sekian hari. Hal ini dikarenakan isinya yang akan gawat jika salah dimaknai. Topiknya agak sensitif. Jika kubaca di komentar youtube akan trailer film ini, banyak yang salah memaknai film ini karena tidak ditonton secara utuh.

Novel ini mengisahkan tiga sosok yang dulu bersahabat akrab. Mereka Alif, Lam, dan Mim. Alif seorang polisi yang tegas dan tangkas. Lam seorang jurnalis idealis dan Mim aktif di sebuah pesantren.

Pada masa itu dikisahkan terjadi ketegangan antara kaum radikal agama dan pemerintah sehingga kemudian sila pertama dihapuskan. Mereka yang menggunakan simbol agama pun kemudian dicurigai. Hingga suatu ketika terjadi peristiwa pengeboman di mana pesantren tempat Mim dicurigai. Tapi rupanya itu hanyalah settingan pihak-pihak tertentu.

Jika hanya membacanya sekilas, sepertinya film ini menuduh pemerintah terlalu takut dengan agama. Tapi sebenarnya bukan itu yang terjadi. Novel ini perlu dibaca dengan pemikiran terbuka dan dibaca hingga tamat agar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Buku yang kedua kaya akan nilai etnik. Judulnya “Upacara”. Buku ini belum selesai kubaca. Buku ini luar biasa. Magis. Pembaca diajak mengenal suku Dayak dan ragam upacaranya dari lahir hingga mati. Sungguh ini sebuah karya sastra yang indah dan kaya akan nilai budaya. Aku tak sabar untuk menyelesaikannya.

Satu buku dan satu buku lagi yang belum selesai kubaca. Pekan ini peraihanku buruk.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 6, 2019.

4 Tanggapan to “Dua Pekan Mengikuti 30 Hari Tantangan Membaca Buku”

  1. Up

  2. Ada vidio nya gk?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: