Serba-Serbi “Spider-Man: Far From Home”

Film “Spider-Man: Far From Home” telah dirilis 3 Juli lalu. Filmnya mendapat sambutan hangat meskipun tidak semua menyukai alur ceritanya. Aku sendiri belum membuat ulasannya dan menurutku filmnya jauh di bawah ekspektasiku meskipun lumayan menghibur.

Berikut beberapa serba-serbi yang terlihat dalam film sekual “Spider-man” yang masih dibintangi oleh Tom Holland.

Filmnya menggambarkan keberagaman, seperti yang mulai banyak di’galakkan’ di film-film Hollywood. Di sini terlihat keragaman ras dari kawan-kawan SMA Peter Parker dan juga pemain lainnya. Ada Zoha Rahman, aktris berdarah Pakistan, yang di film menjadi kawan SMA Peter yang mengenakanjilbab. Ada pula sosok pemain Australia, Angourie Rice, yang memerankan Betty Brant, kawan SMA Peter yang menjalin hubungan dengan Ned Leeds. Zendaya yang merupakan aktris kulit hitam menjadi MJ, gadis yang disukai Peter. Ada juga aktor yang merupakan transgender, bernama Zach Barrack, tapi perannya tidak menonjol.

Inisial MJ di sini ternyata tidak merujuk ke Mary Jane, gadis yang di film-film Spider-Man sebelumnya menjadi kekasih Peter Parker. Mary Jane digambarkan gadis cantik periang yang memiliki rambut merah. Di sini MJ merupakan singkatan dari Michelle Jones, perawakan dan karakternya berbeda dengan Mary Jane. Masa depan hubungannya belum jelas, apakah nantinya ia tetap bersama Peter, atau Peter menemukan MJ lainnya.

Dalam sebuah adegan, Happy nampak memutar musik untuk menyemangati Peter. Eh rupanya Peter salah menerkanya. Ia mengira lagu itu milik Led Zeppelin, padahal itu lagu AC/DC yang berjudul “Back in Black”.

Adegan lainnya adalah awal film diputar yang menurutku agak berlebihan dalam memuja Tony Stark. Memang sih Tony Stark sebagai Iron Man banyak melakukan pengorbanan, tapi pembukaan filmnya terasa berlebihan, meskipun ada alasan bahwa video itu dibuat kawan-kawan Peter dan film ini ditujukan untuk kaum remaja.

Sosok bibi Spidey yang diperankan Marisa Tomei dikritik karena nampak muda sehingga Spidey dan bibinya nampak seperti kakak adik. Tapi usia Marisa tahun ini mencapai 54 tahun.  Ia nampak awet muda, kalau diperhatikan baik-baik baru kelihatan wajahnya mulai keriput.

Sepertinya film ini ada kaitan dengan proses pengawasan oleh para superhero pasca kejadian blip namun sebelum proses percobaan kembali ke masa lalu dalam “Avengers: End Game”. Di situ beberapa superhero menanyakan ke Black Widow apakah mereka sekarang mengawasi aktivitas alam, seperti gelombang tinggi dan sebagainya. Nah, di dalam film “Spider-Man” memang ada kaitannya dengan aktivitas alam yang abnormal.

Ada juga satu adegan di mana Spidey mengenakan kostum yang mirip dengan yang dikenakan Spidey di dunia paralel yang berkulit hitam. Ini sebuah easter egg tentang realitas lain selain di bumi.

Satu lagi, filmnya sebenarnya memilki rating PG-13 karena ada adegan ciuman. Namun di Indonesia menjadi rating segala umur. Wah kenapa ya? Apakah agar film ini dapat lebih banyak menjaring penonton?

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 12, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: