Masyarakat Twitter vs YouTuber vs Instagram

Konon ada preferensi tersendiri antara seseorang dan pilihan medsosnya. Dulu Facebook banyak dipilih tapi sekarang popularitasnya mulai menurun meski masih kuat di posisi pertama. Kanal media sosial lainnya yang naik pesat adalah Twitter, disusul Instagram dan YouTube. Beda platform konon juga beda karakteristik penggunanya. Ngomong-omong Kalian masuk masyarakat mana?

Facebook mulai menurun karena medsos ini mulai dianggap monoton. Selain itu Facebook beberala waktu lalu sering digunakan untuk menyebar kabar hoaks dan ujaran kebencian.

Aku sendiri juga dulu malas ber-Facebook. Paling-paling hanya menyebar tautan tulisan. Tapi akhir-akhir ini, tepatnya hampir tiga tahun lalu aku kembali ke Facebook untuk mengelola komunitas. Rupanya Facebook masih manjur untuk kegiatan komunitas. Berita-berita komunitas paling cepat dibahas dan didiskusikan di sana.

Memang Facebook masih jadi wadah untuk curhat. Curhat apa saja, curhat ala emak-emak. Jika mengganggu maka langsung kuklik pilihan untuk tak ditampilkan, tapi tetap berteman. Ya, kan nggak enak memutuskan pertemanan hanya karena aku tak suka akan curhatnya hahaha.

Masyarakat Twitter disebut juga Republik Twitter kareka penggunanya yang besar. Eh ada filmnya lho dengan judul “Republik Twitter”. Omong-omong tentang Twitter, masyarakat Indonesia itu paling cerewet.

Dulu aku juga cuma membagikan tautan. Tapi kini aku mulai mencermati jika Twitter itu kanal yang menarik. Di sini netizen bisa melakukan apa saja. Ia bisa curhat, melakukan hal buruk seperti menyebarkan kabar hoaks, bertengkar yang disebut twitwar, juga bercanda hal-hal yang sepele. Candaannya itu kocak ditambahi meme yang membuat tertawa. Ada saja biasanya yang baru tiap harinya.

Aku suka memerhatikan trending topic-nya. Ada dua jenis topik yang sedang hits, topik yang populer secara alami tapi juga ada yang bikinan dengan adanya buzzer. Topik hits alami yang kocak lebih menarik daripada twit politik yang saling serang.

Masyarakat Twitter biasanya menganggap diri mereka sebagai netizen yang suka bercanda, gampang tertawa dengan humor receh, mudah tersentuh dan membantu dengan adanya kata-kata ‘lakukan kewajiban’, mudah kepo dan suka menebak-nebak, juga suka dengan promo. Sebagian menyebut diri mereka sebagai sobat miskin.

Berbanding terbalik dengan Twitter, kaum Instagram kerap diejek sebagai golongan pamer terselubung. Konten di Instagram dianggap bikin perih hati dan dengki karena memamerkan tempat-tempat yang indah, makanan yang lezat, dan aksesoris yang mahal.

Memang ada benarnya juga sih, tapi tak semuanya. Banyak juga yang tak memamerkan kekayaan tapi digunakan untuk menunjukkan karya dan juga berjualan. Ada yang suka mengunggah hasil gambarnya ke instagram. Ada juga yang suka membuat ilustrasi dan ditampilkan. Hasilnya ia kemudian diajak kerja sama untuk membuat ilustrasi buku.

Memang instagram saat ini banyak digunakan untuk berjualan dan sarana endorse para selebgram. Tapi masih banyak hal positif di sana. Misalnya dengan menunjukkan keindahan alam Indonesia maka Indonesia makin dikenal.

Aku sendiri jarang-jarang buka instagram tapi aku lumayan suka dengan tampilan media sosial tersebut, apalagi jika kontennya berisi foto karya seni atau tarian. Kalau untuk IG Story apalagi IGTV aku enggan menyimaknya.

Biasanya yang fanatik dengan Twitter tak suka dengan selebgram yang pindah ke Twitter. Hal ini baru saja dialami seorang YouTuber dan selebgram yang mengalami penolakan oleh kaum Twitter karena ia dianggap kelompok riya.

Bagaimana dengan YouTuber? YouTuber ini makin pesat karena kecepatan internet di Indonesia makin cepat dan banyaknya WiFI gratisan.

YouTuber ada dua, yang idealis dengan konten bermanfaat juga kelompok yang memberikan konten ‘clickbait’ dan konten abal-abal. Sayangnya konten yang laris ditonton malah nomor dua. Ada banyak video prank, video dengan konten pergaulan bebas, dan video pamer kekayaan yang malah populer. Hasilnya adalah YouTuber beken yang sebagian besarr menghasilkan duit lewat video-video yang bersifat racun.

Aku pernah mengobrol dengan aktivitas penyiaran. Baginya konten teve jauh lebih aman daripada konten di YouTube. Konten di YouTube belum diatur, ditutup jika ada pengaduan saja. Padahal kontennya bisa saja tak mengandung SARA ataupun hoax, tapi tetap tak mendidik dan meracuni perilaku. Buat apa sih kebiasaan prank?  Apa ya enaknya terkenal dan dapat duit banyak tapi malah merusak mental banyak anak?

Aku yakin jika masyakat mulai enggan menonton video tak bermanfaat tersebut maka video di YouTube yang bagus-bagus akan lebih menonjol. Sebenarnya ada cukup banyak video dokumenter yang menunjukkan permasalahan di Indonesia, video yang menunjukkan karya anak bangsa yang membanggakan dan sebagainya. Moga-moga masyarakat makin pintar dalam memilih tontonan YouTube sehingga video yang tak bermanfaat itu tersingkir dengan sendirinya.

Membuat video itu susah. Aku pernah belajar membuatnya dan mengakui jika proses editing itu susah dan melelahkan meskipun tayangannya singkat. Oleh karenanya aku salut dengan YouTuber yang konsisten dan komitmen untuk membuat video yang bermanfaat.

Hingga saat ini aku hanya aktif di Facebook dan Twitter. Kadang-kadang aku membuat thread tentang bincang film. Kalian bisa ikut berdiskusi film denganku di @dewi_puspa00 hehehe sekalian promosi.

Gambar: pixabay

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 1, 2019.

2 Tanggapan to “Masyarakat Twitter vs YouTuber vs Instagram”

  1. Wah siapa itu selebgram yg pindah ke twitter dan tak disukai. Krn apa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: