Ibu Kota Pindah, Bagaimana dengan Nasib Hutan dan Satwa

Isu perpindahan ibu kota masih hangat dibahas. Memang Jakarta sudah terlalu padat. Bebannya sangat berat, sebagai kota pusat pemerintahan dan juga pusat bisnis. Kalimantan Timur menjadi salah satu pilihan yang dianggap terbaik. Ada dua hal yang mencemaskanku, bagaimana dengan nasib hutan dan orang utan.

Dulu ketika masih kecil, TVRI pernah menayangkan iklan tentang alam Indonesia yang begitu berkesan. Sebuah iklan layanan masyarakat tentang hutan. Di antara pepohonan yang lebat, terdapat flora dan fauna yang beragam. Aku merasa hutan-hutan Indonesia terutama di Kalimantan seperti Amazon. Begitu lebat dan begitu beragam isinya.

Ternyata sebagian hanya dongeng.

Selama duapuluh tahun kemudian ribuan hektar Indonesia menghilang. Ia digantikan perkebunan sawit, pertambangan batu bara, pemukiman, dan sebagainya. Cerita tentang hutan dan penghuninya yang beragam semakin terasa di awang-awang.

Penghuni hutan selalu terancam. Diancam oleh pembukaan lahan, ulah manusia yang tamak, dan juga asap. Hingga berganti-ganti pemerintahan, belum ada yang berani dan memberikan perlindungan terbaik bagi hutan dan penghuninya. Asap kebakaran hutan selalu rutin menghampiri dan tak ada yang ditangkapi, selalu dimaklumi.

Bahan makanan satwa semakin berkurang. Banyak satwa liar yang kemudian nekat ke pemukiman warga. Mereka lapar dan habitat mereka terus berkurang. Kasihan.

Kini salah satu paru-paru Indonesia bakal menjadi ibu kota. Perasaanku campur aduk.

Empat kali PP aku menuju Kalimantan. Setiap kali ke sana selalu ada yang terasa sesak di dada. Dari Samarinda, melalui Tenggarong, Kutai Kertanegara, menuju Bontang, jalanan memang sudah cukup mulus. Tapi di kanan kiri aktivitas penambangan batubara terus meningkat. Lahan hutan bopeng-bopeng. Tiap tahun semakin bopeng.

Jika Kalimantan Timur jadi ibu kota, apakah bisa dijamin hutan tetap terpelihara dan tidak dibuka menjadi pemukiman warga dan perkantoran? Entahlah, aku tidak yakin. Bagaimana dengan nasib orang utan dan bekantan, serta hewan-hewan lainnya yang hidup di dalamnya? Entahlah, sejak dulu komitmen pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk melindungi hutan dan satwa tersebut juga tidak begitu terlihat. Mereka seolah-olah kalah dengan tekanan pengusaha pertambangan dan perkebunan.

Jika memang akhirnya Kalimantan Timur menjadi ibu kota, usaha keras LSM serta masyarakat pecinta satwa dan hutan bisa jadi akan lebih keras. Tapi jangan patah semangat untuk mencintai satwa dan hutan, karena mereka memerlukan kita dan kita juga memerlukan mereka.

Sudah sejatinya manusia hidup selaras dengan alam. Pembangunan ibu kota baru harus memertimbangkan alam lingkungan, jangan semata-mata mementingan kepentingan manusia dan mengesampingkan satwa dan hutan.

Gambar: merdeka dan tempo

~ oleh dewipuspasari pada September 10, 2019.

4 Tanggapan to “Ibu Kota Pindah, Bagaimana dengan Nasib Hutan dan Satwa”

  1. Aku pernah dengar katanya klo lahan yg disediakan itu berupa lahan kosong jadi tidak membuka hutan

  2. Mungkin kalau ibukota pindah malah nggak berani main2 lg para perusak lingkungan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: