Gara-gara Hotel Resort Musdalifah, Akhirnya ke Sumenep

Seumur-umur rasanya baru lima kali aku ke Madura. Itu pun hanya seputar Kamal dan Bangkalan dan ke sebuah lokasi saja. Aku belum pernah menjelajahinya. Ketika pasangan memberikan ide untuk menginap di Sumenep dengan iming-iming hotelnya bagus, maka aku pun setuju. Aku belum pernah ke bagian ujung utara Madura.

Perjalanan sekitar 4,5 jam dari Surabaya. Kami mengisi perut dulu di Bebek Sinjay Bangkalan. Setelahnya sekitar tiga jaman kemudian kami melewati jalanan yang relatif mulus. Baru setengah perjalanan  berikutnya kami melewati jalan yang begiu gelap. Sangat gelap dan minim penerangan. Kiri kanan pepohonan dan pantai, jarang rumah penduduk. Rupanya kami melewati rute utara yang merupakan rute alternatif.

Akhirnya kami tiba di hotel resort Musdalifah. Dari depan bangunannya biasa saja. Di bagian tengah, penginapannya nampak luas dan kaya pepohonan rindang. Ada banyak kursi-kursi di teras.

Wah sepertinya hotelnya keren nih, pikirku.

Setelah masing-masing KTP kami diperiksa karena konsepnya syariah, maka kami pun diantar masuk kamar.

Eh dari situ aku bengong. Kamarnya seperti kamar hotel melati, bahkan banyak hotel melati dan hotel bintang satu yang lebih baik dengan harga terjangkau.

Kamar hotelnya seperti vila di Puncak yang sederhana. Di dalam kamar hanya ada televisi dan lemari juga kamar mandi dalam. Tak ada air botol juga pemanas air.

Karena aku capek dan jam sudah menunjukkan hampir pukul 23 00 aku pun ingin membersihkan diri baru tidur. Ketika menyalakan air aku merasa jengkel. Airnya bau. Entah airnya yang bau atau kamar mandinya yang beraroma kurang sedap.

Tapi aku cepat pulas karena lelah.

Keesokan paginya kami pun sarapan. Kami memesan nasi rawon dan teh manis hangat senilai sekitar Rp 50-an ribu.

Tehnya manis sekali dan rawonnya begitu encer dan dagingnya belum empuk. Ya sudahlah aku lapar, kumakan saja.

Ketika kutanya pasangan, tarifnya berapa ia berkata jika awalnya tarifnya sekitar Rp 800-an ribu kemudian ada promo menjadi sekitar Rp 250-an ribu. Wah jangan-jangan harganya memang Rp 200-an ribu. Tapi dibandingkan hotel di Semarang, Solo ,Ambarawa, atau Yogya yang Rp.150-an ribu, kamar dan pelayanan mereka lebih baik.

Di sini yang bagus adalah penampakan luarnya. Duduk-duduk di luar dengan pepohonan memang menyenangkan. Tapi dalaman kamarnya suram, terutama toiletnya, atau mungkin harus naik ke kelas kamar yang lebih mahal.

Aku bertanya-tanya mungkin biaya pemeliharaannya begitu besar sehingga dalaman kamar malah terasa kurang dirawat. Ke depan Musdalifah Resort perlu meningkatkan kualitas kebersihkan toilet, sanitasi, dan juga kualitas makanannya.

Karena…aku juga ingin suatu ketika kembali ke Sumenep.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada September 20, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: