“Dancing in The Rain”, Berdamai dengan Gangguan Kesehatan

Anak itu bernama Banyu. Selintas dari penampakan fisik ia memang berbeda dari teman sebayanya. Tapi perbedaan yang menonjol adalah sikap perilakunya. Ia lebih suka sendiri, melukis, juga melakukan hal-hal yang bersifat rutin dan repetitif. Jarang yang memahaminya, kecuali Neneknya, Eyang Uti, dan Radin. Kisah Banyu yang menyukai hujan tertuang dalam “Dancing in The Rain”.

Dalam film yang rilis tahun 2018 ini memang fokusnya pada bagian pertama adalah hubungan Banyu dan neneknya. Baru pada paruh kedua menceritakan kehidupan Banyu saat dewasa bersama Radin.

Neneknya sejak Banyu kecil kerepotan mengurusnya. Ada sesuatu yang membuat tanggung jawab itu jatuh kepadanya. Ketika ia mengetahui Banyu mengalami spectrum autis, ia bak tertimpa tangganya. Ia mendapat ujian dan harus menjalaninya dengan tabah, agar Banyu suatu ketika bisa mandiri.

Kehidupan Banyu juga tak mudah. Kawan-kawannya menganggapnya anak terbelakang. Ia tak berteman. Hingga suatu ketika seorang anak berbadan besar menolongnya. Ia bernama Radin. Kemudian satu anak lagi bergabung, Kinara, anak yang ditolong Banyu. Trio itu pun kemudian menjadi sahabat, hingga suatu ketika penonton diberi tahu sebenarnya ada masalah pelik yang menimpa kawan-kawan Banyu.

Film Indonesia ini tayang di Iflix. Ketika melihat pemerannya Christine Hakim, aku jadi tertarik menyaksikannya. Pemeran lainnya adalah Dimas Anggoro, Deva Mahenra, Bunga Zainal, Djenar Maesa Ayu,dan Niniek L. Karim.

Aku tak punya ekspektasi apapun tentang film ini. Juga awalnya tak tahu temanya. Rupanya tentang penyandang autis.

Bagian pertama menurutku lebih baik dari yang kedua. Di sini hubungan antara nenek dan cucunya begitu kuat. Bagaimana si nenek menjalani hari demi hari bersama cucunya dengan sabar. Tindak tanduk dan perubahan emosi Banyu yang mengalami spectrum autis juga dikupas. Gilang Olivier sebagai Banyu kecil menjadi perhatian di sini. Ia memberikan performa yang kuat tentang perannya sebagai seorang yang jenius tapi juga kesusahan menjalani kehidupan sosialnya.

Bagian kedua malah kendor meskipun konflik baru muncul di sini. Beberapa adegan dialognya kurang tersampaikan karena artikulasi pemainnya kurang jelas. Dan yang sedikit mengecewakan plotnya kemudian mudah ditebak.

Dimas Anggara berusaha keras sebagai Banyu besar. Ekspresi dan tindak tanduk antara Banyu kecil dan Banyu besar tak jauh berbeda agar tak banyak gap. Sedangkan Deva dan Bunga tak begitu menonjol. Karakter Djenar sebagai ibu Radin terasa tipikal dan komikal.

Sebenarnya akan lebih baik jika unsur ‘dancing in the rain’ lebih kuat dan ditonjolkan sehingga sesuai dengan judulnya. Tema tentang autis belum banyak dibahas di film-film Indonesia sehingga hal ini menarik.

Detail Film:
Judul: Dancing in The Rain
Sutradara: Rudi Aryanto
Pemeran: Christine Hakim,Dimas Anggara, Deva Mahenra, Bunga Zainal, Djenar Maesa Ayu, Gilang Olivier, ,dan Niniek L. Karim.
Genre: Drama
Skor: 6.9/10
Gambar: Brilio, bookmyshow, rajablackwhite

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada September 22, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: