11 Alasan Masih Betah Berkompasiana

Konon menulis itu bisa membuatmu lebih sehat secara mental. Ada juga yang berkata menulis itu bisa membuatmu jadi diri sendiri, bisa melatihmu berpikir logis dan sebagainya. Setiap orang punya alasan tersendiri untuk menulis, begitu juga dengan manfaat yang telah ia peroleh. Aku sendiri juga punya sejumlah argumen apabila ditanya alasan masih betah menulis di Kompasiana, meskipun telah memiliki blog pribadi. Nah berikut 11 alasanku betah berkompasiana.

Aku masih ingat hari pertama aku menulis di Kompasiana. Waktu itu aku sedang sibuk membuat kajian untuk sebuah proyek TI di sebuah instansi. Kemudian aku mengalami jalan buntu karena data yang kami miliki ternyata kurang memadai. Sambil menunggu data dikirim, aku pun melihat-melihat foto liburanku ke Sempu dan kemudian terpikir untuk membuat tulisan. Sebuah tulisan yang berdasarkan pengalaman, apakah mungkin ke Pulau Sempu tanpa perlu menginap?

Biasanya artikel tentang pulau Sempu mengupas tentang menginap di dekat laguna dan dilakukan secara berombongan. Lantas bagaimana dengan mereka yang waktu berliburnya terbatas dan jadwal liburannya tidak sesuai dengan jadwal open trip?

Ternyata hal itu memungkinkan. Perjalanan berangkat dan kembali ke Pulau Sempu bisa dilakukan dalam sehari. Tapi memang perlu berangkat pagi-pagi dan kembali ke kota Malangnya sudah gelap. Nah di sana aku menjumpai berbagai hal yang merisaukan tentang perkemahan dan ulah wisatawan yang bagiku malah mencemari alam pulau Sempu. Aku bersyukur ketika kemudian aktivitas berwisata ke pulau Sempu makin dibatasi saat ini untuk menjaga kelestarian alamnya.

Ternyata tulisan pertamaku mendapat sambutan hangat. Saat itu penulis Kompasiana alias kompasianer belum sebanyak saat ini. Mereka memberikanku ucapan selamat atas tulisan pertamaku dan mendorongku untuk terus menulis.

Tulisan pertamaku di Kompasiana

Ya inilah alasan pertamaku betah berkompasiana, 1) aku merasa disambut dan mendapat dorongan untuk terus menulis.

Kompasiana berbeda dengan blog pribadi. Di blog pribadi tuan rumahnya adalah aku sendiri. Sedangkan Kompasiana adalah rumah bersama penulis dengan fasilitas dari pengelola Kompasiana. Apabila penghuni lama rumahnya tidak ‘welcome’ maka mungkin tamunya bakal tidak kerasan. Hingga saat ini aku masih menulis di Kompasiana dan tak terasa jumlah telah mencapai 919 tulisan.

Alasan kedua yaitu 2) tidak ada yang menggurui dan merasa paling benar.

Jika memerhatikan profil para penulis di Kompasiana, ada yang merupakan pejabat di sebuah instansi, ada yang dikenal sebagai pakar, tapi banyak pula yang warga biasa, para pekerja biasa sepertiku. Banyak pula yang mahasiswa, pensiunan, dan ibu rumah tangga.

Dalam sebuah peristiwa mereka memiliki sikap dan pandangan yang berbeda dalam menyikapinya sesuai dengan pengalaman dan wawasan masing-masing. Isu kenaikan tarif listrik, misalnya. Seorang mahasiwa berkeluh kesah dengan tarif kosnya yang naik. Ibu rumah tangga juga mengeluhkan biaya bulanannya yang jadi membengkak. Sedangkan dari para pejuang energi alternatif mencoba menyosialisasikan penggunaan solar cell untuk penerangan dan sebagainya.

Semua penulis punya pandangan tersendiri Bebas. Tak ada yang menganggap sebuah pendapat itu salah dan paling benar. Biasanya memang ada yang mengajak berdiskusi atau meluruskan apabila alur berpikirnya kurang benar. Tapi sejauh ini aku tak melihat kompasianer yang merasa dirinya paling hebat dan paling benar.

Siapapun bisa beropini di Kompasiana

Berhubungan dengan alasan di atas, alasan berikutnya yaitu 3) kesetaraan. Semua kompasianer itu setara. Mereka yang profesor dan mereka yang masih mahasiswa itu sama. Yang membedakan adalah status hijau dan biru hehehe. Status hijau itu berkaitan dengan verifikasi data penulis. Sedangkan status biru umumnya diberikan ke kompasianer senior yang tulisannya dianggap berkualitas.

Untuk status ini menurutku bukan hal yang patut dipersoalkan. Banyak kompasianer yang lebih suka dirinya tetap anonim karena ia hanya ingin punya wadah bersuara. Ia tak masalah tak bisa ikut nangkring atau ikut even Kompasiana karena mungkin baginya menulis dengan anonim itu lebih nyaman. Dan memang tak sedikit tulisan dari para anonim atau mereka yang menggunakan nama-nama samaran ini yang berkualitas.

Meskipun ada warna hijau dan biru tapi semuanya tetap setara. Kalau tulisan seseorang bagus ya tetap diapresiasi tanpa memandang ia pemilik status hijau atau biru.

Masih berkaitan dengan alasan nomor 1, 2, dan 3 maka alasan nomor 4) adalah bahasa dalam berkomentar. Meskipun tulisan kompasianer tidak sesuai dengan pendapatnya jarang yang menggunakan bahasa kebun binatang untuk mengutarakan ketidaksetujuannya. Meskipun ia marah dan berbeda pendapat, bahasanya dalam berkomentar masih tertata, sesuai rambu-rambu kesopanan.

Jaman dulu memang masih ada beberapa komentar kasar yang lolos, terutama dalam artikel yang mengupas politik dan agama. Tapi untungkah komentar ini kemudian cepat dihapus karena memang tidak sesuai dengan kultur organisasi dan norma kesopanan yang berlaku umum. Beberapa komentar masih ada yang mempromosikan konten judi, tapi sekarang sudah cepat terdeteksi dan dipangkas.

Tak terasa enam tahun berlalu. Sembilan ratus lebih artikel telah kutulis dan satu juta pembaca telah kuperoleh. Sebenarnya bukan jumlah pembaca yang utama, melainkan sapaan dalam wujud komentar atau sekedar ‘vote’ yang lebih menyenangkan. Oleh karenanya alasan berikutnya, nomor 5) yaitu saling menyapa dan guyup.

Ada banyak kompasianer yang rajin menyapa dan memberikan ‘vote’. Mereka tak peduli apakah artikelnya bakal dikunjungi balik atau tidak. Awalnya aku tipe yang pemalu. Aku hanya menulis dan enggan berinteraksi. Tapi lama-kelamaan aku merasa mendapat kawan-kawan baru. Ada komentar yang membuatku hangat, ada yang membuatku tertawa terbahak-bahak, dan sebagainya. Sejak beberapa waktu lalu aku jadi lebih terbuka dan juga suka menyapa. Aku juga memberikan apresiasi tanpa diminta, memberikan ‘vote’ ke kompasianer baik yang kenal maupun tidak karena karya mereka menarik, bermanfaat, insiratif, atau menghibur. Seingatku aku tak pernah memberikan ‘vote’ tak menarik di Kompasiana karena hal tersebut bisa membuat si penulis turun semangat dan sedih.

Buku Kompasiana: Etalase Warga Biasa

6) Saling belajar adalah alasan yang membuatku betah di Kompasiana. Dari tahun 2013 hingga sekarang ada evolusi tentang gaya menulisku. Dulunya masih kaku dengan banyak menggunakan ‘saya’ lama-kelamaan lebih cair dengan menggunakan kata ‘aku’. Jika dulu aku suka menulis tentang wisata dan makanan, kemudian aku memberanikan diri menulis tentang opiniku terhadap situasi masa kini.

Aku sering mendapat ‘insight’ dari kompasianer senior yang kukagumi. Ada kompasianer bernama Pak Ronnie yang suka mengupas jurnal ilmiah terkini dengan bahasa yang mudah dipahami awam. Aku sampai penasaran dengan penulis ini dan kemudian makin kagum ketika aku googling dia merupakan seorang profesor di universitas di luar negeri. Selain tulisannya bernas, ia juga rendah hati.

Dari kompasianer seperti Pak Ronni, Pak Djulianto yang pakar sejarah, Pak Tjipta yang ramah, dan Pak Isson yang kaya data aku jadi banyak belajar untuk terus meningkatkan kualitas tulisanku.

Belajar bersama kompasianer

7) Even yang menarik menjadi alasan berikutnya. Di Kompasiana ada banyak even menarik. Dulu acaranya disebut nangkring untuk even kopi darat. Kemudian juga ada even lomba menulis dengan hadiah yang menarik. Aku beberapa kali merasai jalan-jalan secara gratis karena lomba tersebut, dari ke pulau Seribu, Lampung, Yogyakarta, hingga ke Macao. Menyenangkan. Aku jadi makin bersemangat untuk terus menulis dan mengasah diri.

8) Membentuk citra diri adalah alasan kenapa penulis perlu bergabung dengan Kompasiana. Dulu aku rajin menulis tentang travel dan wisata di berbagai media online. Selain itu aku juga suka membahas tentang ulasan buku. Hal inilah yang kemudian membuatku membuat blog khusus kuliner dan buku yaitu pustakakulinerku dan keblingerbuku. Lantas aku menulis apa lagi di Kompasiana jika sudah ada blog tersebut?

Aku kemudian menulis film. Awalnya aku sempat menjadi kontributor di Cinemania Indonesia. Aku juga suka menulis film di blog pribadi ini. Kemudian aku pun mulau menulis film di Kompasiana dan kemudian aktif di komunitas film Kompasiana bernama KOMiK. Tapi tetap aku juga suka menulis hal-hal lain di luar film seperti traveling, kuliner, gaya hidup, finansial, dan juga fiksi. Menulis tentang musik juga sebenarnya adalah passion-ku karena hingga saat ini aku suka sekali menonton orkestra dan konser musik rock.

Sebenarnya aku berniat untuk membuat citra sebagai penulis di bidang teknologi informasi. Tapi hal ini tidak mudah karena aku sehari-hari bersinggungan dengan topik tersebut. Agak enek jika setiap hari membahas hal tentang IT. Tapi mungkin suatu saat akan kumulai dengan menulis IT terutama berkaitan dengan proyek-proyek IT yang pernah kugarap dan bidang tatakelola TI.

Aneka momen kompasiana yang menyenangkan

Alasan nomor 9) yakni memiliki wadah untuk minat. Minatku itu banyak. Aku suka makan, jalan-jalan, berkunjung ke museum, membaca buku, nonton film, dan nonton konser. Nah di Kompasiana aku menemukan wadah untuk hobiku makan-makan bersama Kapeka alias Kompasianer Penggila Kuliner. Hanya untuk masalah musik memang belum ada wadah komunitas yang aktif. Sedangkan untuk film saat ini aku aktif sebagai pengelola KOMiK alias Kompasianer only Movie Enthusiast Klub. Siapa tahu nanti juga ada wadah untuk kompasianer penyayang hewan dan kompasianer yang berminat di bidang TI.

Berhubungan dengan komunitas maka alasan nomor 10) yaitu aku bisa memberikan dan mewujudkan gagasan dalam berkomunitas. Aku punya banyak ide berhubungan dengan komunitas. Karena menurutku ada banyak hal menarik menjadi seorang penggemar film.

Ada beberapa gagasanku yang terwujud seperti membuat nobar tematik, peringatan hari film nasional, nobar maraton, dan terakhir adalah membuat buku tentang film. Sebenarnya masih ada lagi ide yang belum terwujud yaitu belajar membuat skenario dan mengedit film. Mungkin bakal jadi acara ke depan.

11) Sebuah keluarga baru adalah alasan terakhirku kenapa masih betah berkompasiana. Ya, aku menemukan keluarga baru di sana, kawan-kawan penulis yang tak hanya gemar menulis tapi juga membuatku terhibur, bisa diajak bercanda, berdebat, dan membantuku mewujudkan gagasan.

Aku suka kangen dan merasa ada yang kurang jika lama tak berjumpa darat dengan kawan-kawan kompasianer. Ada dua acara penting di KOMiK yang kuwujudkan dengan bantuan Babeh Helmi. Ia senior yang tak sungkan memarahiku jika aku salah dan meluruskanku. Ia sendiri juga sabar dan terus memberiku semangat jika aku merasa hampir putus asa untuk mewujudkan gagasanku.

Ada beberapa kompasianer yang sudah seperti kuanggap sepupu, paman atau bibi jauh. Inilah yang membuatku mau repot-repot ke Puncak atau ke Taman Mini untuk bertemu mereka, sekedar bersilaturahmi, menyampaikan gagasan untuk kemajuan Kompasiana mendatang, dan sebagainya.

Tahun ini Kompasiana merayakan ulang tahunnya ke sebelas pada 23 November di Bellpark. Aku dan kawan-kawan berencana membuat stan komunitas KOMiK dan mengadakan launching buku keroyokan pertama komunitas kami. Monggo jika Kalian tertarik untuk mengenal komunitas kami dan berkenalan dengan Kompasiana.

Tur merah putih KOMiK dan nobar kemerdekaan

Itulah sebelas alasanku masih betah berkompasiana. Urusan menulis di blog sendiri telah mengalami perkembangan sehingga kemudian muncul istilah #BeyondBlogging. Siapa tahu dari urusan blog kemudian lahir penulis-penulis andal yang namanya bisa mendunia.

#11TahunKompasiana bukanlah waktu yang singkat. Usia 11 adalah usia yang cukup matang bagi sebuah organisasi. Ke depan akan ditemui banyak peluang dan ancaman yang apabila bisa dilalui dengan baik akan makin membesarkan organisasi tersebut.

Selamat ulang tahun Kompasiana.

Kredit gambar: cover, gambar 7, dan 8 (penutup) dari Pak Agung, mba Willy Wijaya, dan Babeh Helmi

~ oleh dewipuspasari pada November 10, 2019.

2 Tanggapan to “11 Alasan Masih Betah Berkompasiana”

  1. Bisa aku ambil hikmahnya dari menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: