Budaya Merundung Dulu dan Sekarang

Dalam film-film remaja 90-an sering digambarkan seseorang melakukan perundungan (pem-bully-an) kepada para remaja lainnya yang ‘berbeda’ dengan mereka. Berbeda di sini bisa dikarenakan mereka siswa-siswi baru, kalangan minoritas, dan mereka yang dari segi fisik dan penampilan nampak mencolok.

Ada yang menyebutnya perploncoan. Ada juga yang mengistilahkannya ospek. Mereka beranggapan perundungan terhadap siswa-siswi baru akan melatih mental mereka. Mereka akan tegar dan menjadi orang yang kuat selama mereka bersekolah atau berkuliah di sana. Tapi benarkah?

Di tempat lain perundungan tetap berjalan meski ia sudah menjalani tahun pertama. Ia menjadi bulan-bulanan kawannya. Menjadi sasaran olok-olokan hingga yang mengarah ke fisik.

Perundungan itu menyisakan trauma. Mereka yang dirundung akan merasa terluka. Ejekan yang beruntung dan berulang-ulang akan menyebabkan mental seseorang malah turun. Ia bisa merasa rendah diri dan kemudian menganggap ejekan itu adalah kebenaran yang melekat pada dirinya.

Perundungan yang bersifat fisik juga bisa menyebabkan rasa trauma. Ia akan merasa tidak nyaman, misalnya enggan ke sekolah karena takut dirundung. Di beberapa kasus ada yang sampai menyebabkan korban terbunuh atau melakukan bunuh diri.

Perundungan jelas tidak membawa manfaat. Jika ingin melatih mental maka sebaiknya bukan mengarah ke ejekan fisik atau hal-hal yang membuatnya malah demotivasi.

Perundungan Era Digital
Era digital juga di sisi lain tak mengubah budaya. Kebiasaan merundung masih belum lenyap malah semakin parah. Mereka merasa kehidupan di dunia maya itu anonim atau berbicara dengan robot sehingga mereka pun sekenanya mencela dan menghina seseorang yang tak disukainya sekena hatinya.

Rata-rata yang menjadi korban adalah para selebriti dan influencer. Hal-hal sederhana seperti penampilan bisa menyulut para netizen untuk mengeluarkan kata-kata kotor untuk mencela. Tak heran jika kemudian selebriti memilih menonaktifkan kolom komentar karena isi komentar netizen sebagian besar tak beradab. Daripada mereka lelah fisik dan mental membaca komentar-komentar negatif tersebut, lebih baik menghindar.

Beberapa waktu lalu dua artis Korea meninggal karena bunuh diri. Diduga mereka tak sanggup menjadi korban perundungan. Apa saja dikomentari negatif oleh warganet. Seolah-olah kehidupan mereka sempurna dan apapun selama di dunia maya bebas dikomentari negatif.

Tak hanya di ranah medsos, kolom-kolom berita juga diwarnai oleh komentar dengan bahasa kebun binatang. Jika melihat isi komentar tersebut aku jadi tak yakin Indonesia didominasi sikap saling menghormati, ramah, dan tepa selira. Atau memang orang-orang lebih mudah berkata kasar di dunia maya daripada di dunia nyata?

Entahlah. Satu yang penting hal-hal di dunia maya kadang-kadang berbeda dengan realita. Apabila ada sebuah kasus yang viral memojokkan satu pihak sebaiknya jangan langsung percaya dan ikut merundung pihak tersebut. Bisa jadi realitanya sebaliknya. Apabila ingin ikut merundung dan mencela maka bayangkan calon korban itu adalah orang terdekatmu, adikmu, anak, atau malah dirimu sendiri.

Aku pernah mengalami perundungan di dunia maya. Tiga artikelku pernah dihujani dengan komentar-komentar yang sangat kasar. Satu di sebuah kanal blog keroyokan, dua lainya blogku pribadi. Yang terjadi, aku terluka dan kemudian memilih untuk tidak menulis lagi di kanal keroyokan tersebut. Komentar negatif itu menyedot energi positif. Membacanya saja bisa membuat lemas.

Merundung itu tidak keren. Merundung itu ulah pengecut.

Gambar: pixabay

~ oleh dewipuspasari pada November 27, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: