Mbah Satinem yang Konsisten Berjualan Cenil Lupis

Nenek itu giginya sudah tak lengkap. Tubuhnya mulai ringkih dan punggungnya mulai membungkuk. Tapi jangan tanyakan semangatnya. Meskipun sudah lanjut usia, ia tetap bersemangat bangun tengah malam untuk memasak dan kemudian berjualan saat matahari masih malu-malu untuk bersinar. Ia bernama Mbah Satinem, penjual jajan pasar tersohor dari Yogyakarta.

Mbah Satinem sudah puluhan tahun berjualan jajan pasar. Ilmu ini diwarisinya dari ibunya. Sejak kecil ketika hanya tamat SD, ia sudah digambleng ibunya untuk membuat kue dan kemudian menemaninya berdagang.

Membuat jajan pasar perlu waktu tidak sebentar untuk menyiapkannya. Setelah berjualan biasanya ia membeli bahan di pasar. Selanjutnya ia mengolahnya sekitar tengah malam, dibantu suami dan anak perempuannya.

Mbah Satinem membuat adonan. Kemudian memarut kelapa dan menyiapkan adonan gula merah cair. Jajan pasar yang dijual adalah cenil lupis yang terbuat dari tepung ketan dan beras ketan. Lainnya adalah semacam gethuk dari singkong. Nantinya jajan tersebut diberi parutan kelapa muda dan dikucuri gula merah.

Jajanan ini nampak sederhana. Tapi rasanya enak. Aku juga menyukainya dan sering mencarinya saat pulang ke Malang.

Mbah Satinem mengolahnya dengan cara sederhana. Ia tetap menggunakan api dari kayu bakar. Adonan itu diolahnya sendiri dengan penuh cinta kasih.

Nama Mbah Satinem mulai melejit ketika bertemu dengan asisten Pak Harto. Waktu ke Yogya Presiden saat itu saat ingin menyantap jajan pasar. Lalu si asisten bertemu Mbah Satinem. Sejak itu Pak Harto menjadi pelanggannya. Nama Mbah Satinem pun dikenal.

Meski pembelinya banyak, Mbah Satinek tak berubah. Tempat dagangannya masih sederhana. Yaitu emperan. Ia dibantu anaknya pergi dengan bermotor lalu menata dagangan. Biasanya pukul 05.30 pagi ia sudah siap. Pembeli pun berdatangan.

Kini namanya makin dikenal sejak ia muncul dalam serial kuliner berjudul “Street Food”. Ia muncul mewakili Indonesia. Selain jajan pasar juga muncul masakan gudeg dan mie yang terbuat dari singkong khas Gunung Kidul.

Berbekal ketekunan dan ketelatenan usaha Mbah Satinem tak goyang oleh perubahan jaman. Meski saat ini kue beragam dan perubahannya berlangsung cepat, tapi jajan pasar seperti yang djual Mbah Satinem masih memiliki tempat.

Wah jadi pengin menyantap cenil, lupis, gethuk, kelepon, dan ketan hitam lalu diberi parutan kelapa dan gula merah. Jajan ini enak dan membuatku kangen akan hal-hal yang sifatnya sederhana.

Gambar:detik

~ oleh dewipuspasari pada Januari 20, 2020.

3 Tanggapan to “Mbah Satinem yang Konsisten Berjualan Cenil Lupis”

  1. Pernah kesitu sekali kalinya wkt jamannya msh kerja di Jogja (Bintaran Tengah) dan skrng sudah kembali ke kampung halaman di Purwokerto..Jogja aku pasti akan kembali

  2. Pernah kesitu sekali kalinya wkt jamannya msh kerja di Jogja dan skrng sudah kembali ke kampung halaman di Purwokerto..Jogja aku pasti akan kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: