Yuk Ikut Awasi Realisasi Anggaran DKI

Tahun ini APBD DKI sebesar Rp 87,95 Triliun. Angka yang begitu besar dan luar biasa. Pengetokan APBD lalu begitu drama karena ternyata ada defisit 10 Triliun dan rencana belanjanya terkesan mengada-ada. Baru ketika kasus tersebut di-blow up maka kemudian dilakukan revisi anggaran.  Anggaran ini telah diketok akhir tahun lalu. Info anggaran tersebut bisa Kalian cek di tautan https://apbd.jakarta.go.id.

Di portal tersebut angka APBD-nya berbeda. Ia lebih besar, yaitu mencapai Rp 93 Triliun. Ada dua jenis anggaran, yaitu anggaran kegiatan dan nonkegiatan. Anggaran kegiatan dibagi berdasarkan satuan kerja perangkat daerah. Sedangkan anggaran nonkegiatan bisa berupa gaji, subsidi, hibah, dan sebagainya.

Aku memeriksa bagian anggaran nonkegiatan pada bagian gaji. Agak sedih melihatnya, lebih dari 20 persen APBD hanya digunakan untuk belanja pegawai. Jumlah besaran belanja pegawai tersebut lebih dari Rp 20 Triliun. Apabila misalkan dibagi rata dengan jumlah PNS-nya yang mencapai 65.435 orang maka gaji rata-rata per bulan berkisar Rp 25 juta. Wow. Tapi memang komponen belanja pegawai bisa jadi bukan hanya gaji.

Aku kemudian penasaran dengan bagian dinas perhubungan. Mereka masih berfokus pada MRT dan rencana peningkatan pelabuhan di beberapa pulau yang masuk Kepulauan Seribu juga Muara Angke. Ini bagus. Wah juga ada pelatihan mengemudi bagi pengemudi kendaraan umum. Bagus juga sih rencana kegiatan ini agar kendaraan umum tertib dan jalannya tidak ugal-ugalan.

Lalu aku ingin tahu dengan rencana kegiatan di kelurahanku. Di situ ada banyak komponen biaya. Ada gaji RT dan RW masing-masing Rp 2 juta dan Rp 2,5 juta. Total untuk anggaran peningkatan peran kelembagaan RT, RW, dan LMK tingkat Kelurahan ini lebih dari Rp 3 Miliar, sehingga sebaiknya perlu dimonitor penggunaannya karena nilainya tidak kecil.

Kemudian ada lagi honor untuk forum kewaspadaan dini. Itu forum apa ya aku tidak pernah tahu.  Kemudian ada juga pemberdayaan masyarakat untuk kegiatan seni dan olah raga. Wah ini juga aku baru tahu karena sepertinya tidak ada kegiatan semacam ini di kelurahan, termasuk juga tingkat RW dan RT. Nilai anggarannya lumayan besar. Kegiatan PKK juga nilai anggarannya tidak sedikit, yakni sekitar Rp 192 juta. Wah ini kegiatan PKK itu seperti apa ya? Soalnya di tempatku juga tidak ada tanaman obat keluarga, pemberdayaan keluarga, atau hal-hal lainnya.  Besaran untuk anggaran kegiatan di kelurahanku ini jika ditotal kurang lebih dari Rp 10 Miliar. Ini bukan angka yang kecil, sehingga jangan sampai anggaran ini hanya untuk bancakan pihak-pihak tertentu.

Yang membuatku gembira adalah kegiatan pembangkit listrik tenaga  sampah. Besarannya sekitar Rp 13 Miliar. Pembangkit listrik tenaga sampah ini didirikan dan beroperasi di Bantar Gebang sejak tahun 2019. Moga-moga adanya PLTS ini membuat timbunan sampah jadi berkurang.

Yuk ikut berperan aktif dalam masyarakat dengan memantau pembangunan di wilayahmu. Jangan sampai pajak yang kita bayarkan menguap tidak jelas.

gambar dari Viva dan APBD Jakarta

~ oleh dewipuspasari pada Februari 16, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: