Lihatlah Sekelilingmu

Aku mengalami transformasi dalam mengungkapkan gagasanku di blog dan tulisan lainnya. Biasanya aku suka membungkus kritikan sosial ke dalam bentuk puisi atau ke format lainnya yang halus. Namun, rupanya situasi sosial di Indonesia tak berubah. Malah memburuk.

Sudah bukan lagi waktunya hanya diam dan berharap ada seseorang yang mampu membaca pikiran kita. Mereka bukan mutan seperti Profesor X. Hanya sedikit juga yang punya kemampuan telepati.

Saatnya kita lebih terbuka mengungkapkan ketidaksetujuan dan kritik sosial ke kita. Namun, tentunya juga didukung oleh data dan menggunakan bahasa yang lugas. Juga jangan ada sentimentasi kepada pihak atau politik tertentu. Kita tuangkan saja kegelisahan kita dengan harapan ada yang peduli dan membantu dalam memberikan solusi. Syukur-syukur kita bisa langsung bertindak.

Kabar para janda tua yang miskin dan masih harus bekerja, anak-anak yang rupanya yatim piatu tapi tinggal sendiri di rumah mereka, juga sekolah-sekolah yang rawan ambruk, dan jembatan yang putus, berita itu masih saja silih berganti menghiasi media. Belum lagi kabar sekolah Hindu yang rusak, gereja yang sulit mendapatkan perijinan perbaikan, dan mereka yang mendapatkan penindasan di sekolah-sekolah berkaitan dengan kepercayaan mereka terhadap agama lokal masih mewarnai negeri ini.

Sejak aku masih menjadi kuli tinta, berita ini sering kudapatkan dan kutelan tiap harinya. Rasanya tak banyak perubahan meskipun sudah lewat bertahun-tahun. Namun yang makin memprihatinkan adalah soal intoleransi yang makin akut. Sebenarnya apa yang terjadi di sekeliling kita?

Tidak semua masalah harus dibawa ke tingkat nasional. Bagaimana kinerja aparat kelurahan sehingga tidak tahu ada warganya yang menderita dan perlu pertolongan? Seperti apa bentuk kepedulian Pemda terhadap warganya, ketika ada yang merasa haknya menjalankan ibadah agama tercerabut. Apakah semuanya harus menunggu viral?

Masyarakat janganlah hanya dininabobokan. Dana APBD tiap daerah itu besar. Sebaiknya ada tanggung jawab dan amanah ketika menggunakan dana tersebut. Pajak itu dari hasil keringat warga. Warga akan sangat ikhlas jika dana tersebut digunakan untuk membantu sesama yang kekurangan, dimanfaatkan untuk pembangunan yang bermanfaat bagi banyak pihak, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang membuat lingkungan tersebut damai, aman, dan rukun meskipun terdiri dari banyak suku, ras, dan juga beragam agama.

Ketika menggunakan dana dari pajak dan retribusi tersebut lihatlah sekeliling apakah masih ada warga yang kesusahan, rumah yang tak layak pakai, sekolah yang nyaris ambruk, anak-anak yang nyaris putus sekolah, jalanan yang berlubang, dan sebagainya. Lihatlah juga hubungan antar warga berbeda agama, jangan hanya mendengar dari balik meja, menunggu laporan yang bisa jadi laporan itu dimanipulasi, hanya untuk menyenangkan pimpinan. Lihatlah di lapangan, kondisi sesungguhnya.

Aku tak rela bila uang pajak disalahgunakan, sementara masih banyak warga kekurangan. Lihatlah sekeling, masih banyak penjaja keliling yang lelah, dagangan mereka kurang laku, tapi mereka tetap tabah dan terhormat, tak ingin mengemis. Masih banyak pemulung juga mereka yang berjalan kaki menawarkan jasa, adakah yang bisa mereka kerjakan untuk mendapatkan uang.

Jangan sampai negeriku dibalkanisasi. Mereka hancur karena konflik agama yang sebenarnya dipolitisasi oleh kepentingan pihak tertentu. Lihatlah yang terjadi di Yugoslavia dan juga konflik berlarut-larut di Suriah dan Yaman. Bacalah sejarah, bacalah dari berita dan buku yang benar, jangan sekedar kata orang.

Lihatlah sekelilingmu. Ayo jangan hanya diam dan menunggu. Orang-orang tak bisa membaca pikiranmu. Berbuatlah sesuatu untuk sekelilingmu. Sekedar menulis juga akan menyentuh.

Lihatlah sekelilingmu. Ketika sesuatu nampak begitu indah dan begitu ideal, bisa jadi di situ ada masalah.

gambar dari pixabay

~ oleh dewipuspasari pada Februari 17, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: