“Cinta Itu Buta”, Kisah Romantis yang Ganjil


Film drama komedi romantis biasanya menarik untuk dinikmati. Meskipun biasanya temanya klise, tapi biasanya ada sesuatu yang membuat penasaran akan penokohan karakter dan penutup kisahnya. Film “Cinta itu Buta” mencoba untuk tampil progresif. Alih-alih memberikan kesan apik, ceritanya malah terasa ganjil.

Film “Cinta itu Buta”mengetengahkan seorang pemandu wisata dari Indonesia yang bekerja di Gamcheon, Busan, Korea Selatan. Diah (Shandy Aulia), namanya. Ia sudah bertunangan dengan Jun-Ho (Chae In Woo) dan berharap untuk segera menikah. Naasnya, suatu ketika ia melihat kekasihnya itu malah bermesraan dengan sahabatnya sendiri. Karena syok, ia kemudian pingsan dan disebutkan mengalami kebutaan sementara.

Saat berbelanja di sebuah minimarket, Diah yang kesulitan mencari serealia pun dibantu seorang pria asal Jawa bernama Nik (Dodit Mulyanto). Ia kemudian tiap hari muncul di tempat tinggal Diah membawakan makanan. Diah yang awalnya merasa terganggu, lama-kelamaan menerima kehadirannya. Apakah Nik dapat menghapus ingatan Diah kepada Jun-Ho?

Ceritanya memiliki premis yang menarik. Ada pekerja perantauan, mengalami masalah dan bertemu dengan sesama perantau. Mereka dibiarkan tampil kontras, yang satu cantik dan naif, lainnya memiliki penampilan biasa dan berpikiran sederhana.

Entah kenapa dari awal pengenalan tokohnya terasa kurang natural dan kurang pas. Diah digambarkan sebagai perempuan mandiri yang berani bekerja di luar negeri. Status bekerjanya sebagai pemandu wisata kurang jelas, apakah ia bekerja di sebuah agen wisata atau bekerja sendiri karena ketika sakit tak ada rekan kerja yang menjenguknya. Selain itu dialog-dialog dalam bahasa Inggris ketika Diah sebagai pemandu wisata nampak kaku dan tidak natural.


Yang bikin janggal lagi adalah masalah penyakit Diah. Ia mengalami buta sementara, tapi dalam film tak nampak upaya Diah untuk berkonsultasi tentang penyakitnya. Tahu-tahu ia disebutkan buta sementara saja dan ditinggalkan sendirian di tempat tinggalnya. Gambaran penyesuaian Diah dengan kebutaannya kurang tereksplorasi.

Memang ceritanya lebih fokus dengan sosok ajaib Nik. Menurutku gaya bercanda ala Dodit Mulyanto sebagian di antaranya berlebihan, malah terkesan mengerikan dan merendahkan perempuan jika konteksnya mereka baru saja bertemu dan berkenalan.

Lagu pengiring yang menemani sosok Nik saat baru menemukan tunangannya selingkuh juga terasa janggal, karena dalam liriknya menyebutkan kata Dolly sebagai tempat bertemu mereka. Tapi yang lebih janggal lagi adalah plot twistnya. Plot di akhir ini malah membuat cerita makin terasa ganjil.

Ya, duet Shandy Aulia dan Dodit Mulyanto pada film ini nampaknya kurang berhasil menjadikan “Cinta Itu Buta” sebagai drama romantis yang memberikan kesan apik. Poin plus dalam film ini adalah gambar-gambar cantik dari sudut-sudut kota Busan, juga pesan moral agar cinta hadir tak hanya lewat pandangan tapi juga lewat perasaan.

Detail Film:
Judul: Cinta Itu Buta
Sutradara: Rachmania Arunita
Pemeran: Shandy Aulia, Dodit Mulyanto, Chae In Woo, Gemilang Shinatria
Genre: Drama komedi romantis
Skor: 5.5/10

~ oleh dewipuspasari pada Maret 8, 2020.

2 Tanggapan to ““Cinta Itu Buta”, Kisah Romantis yang Ganjil”

  1. Wow, Dodit main film…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: