Mereka yang Tak Bisa Bekerja dari Rumah

Meski sudah ada anjuran untuk bekerja dari rumah (work from home) dari Pemerintah untuk mereka yang berada di Jakarta, namun tak semua perusahaan dan pekerja bisa menerapkannya. Selain karena pekerjaan tersebut tak bisa dilakukan secara remote, juga ada yang sifatnya bergantung pada pesanan dan pembelian saat itu.

Infonya mendadak. Anjuran ini baru disampaikan hari Jumat petang ketika orang-orang sudah pulang kerja. Tentu saja tak semua perusahaan jadinya punya waktu untuk menerjemahkan anjuran tersebut. Jadinya meski sudah ada yang telah menerapkan bekerja secara remote terutama di perusahaan multinasional, tapi lebih banyak yang tetap berangkat ke kantor?

Kenapa bertahan bekerja di luar? Pertama, kalau tidak masuk maka uang transport dan tunjangan bisa jadi dipotong. Jika lama tidak masuk maka lama-kelamaan juga bisa dipecat. Hal ini tentu beda dengan pegawai negeri atau perusahaan yang memang bonafid dan menjamin kesejahteraan karyawannya. Tapi tidak semua perusahaan seperti itu. Tak ada layanan, tak ada produksi maka tak ada pemasukan. Lantas bagaimana mereka akan membiayai penghasilan karyawannya?

Kedua, tidak semua pekerjaan bisa dilakukan di rumah. Pekerjaan konstruksi, sales seperti sales kendaraan dan properti, pedagang keliling, petugas dan kasir ritel, pelayan di rumah makan, satpam, pengendara ojek, sopir taksi, dan sebagainya, tidak bisa dilakukan di rumah. Sehari dua hari tidak masuk mungkin dimaklumi tapi dua pekan mungkin mereka sudah tak lagi bekerja di sana dan tak mendapat pendapatan.

Kebutuhan lock down memang menjadi buah simalakama di negeri ini. Memang cara ini bisa meminimalkan pertambahan penderita. Tapi tak semuanya bisa bertahan hidup dua pekan tanpa mencari uang. Andaikata memang kebutuhan makanan dijamin pemerintah jika terjadi lock down, tapi melihat cara pemerintah daerah dalam membagikan bantuan selama ini rasanya kok ragu kebutuhan makanan tersebut diterima oleh mereka yang berhak.

Mungkin selain pembatasan pergerakan yang lebih penting adalah negeri ini menutup diri dari kedatangan tamu atau wisatawan asing selama dua pekan ke depan, juga menghentikan perjalanan ke luar negeri. Pasalnya sebagian yang terpapar memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri atau berinteraksi dengan turis asing.

Wah aku juga sendiri juga besok dan seterusnya masih bekerja di tempat kerja. Harapannya sih memang bisa bekerja dari rumah karena pekerjaanku sebagai konsultan TI sebenarnya memadai untuk dilakukan secara remote. Tapi entahlah, mungkin lihat situasi ke depan.

Bagi yang memang tak bisa bekerja dari rumah, tetap semangat dan tabah. Dan yang paling utama, jaga kesehatan Kalian.

~ oleh dewipuspasari pada Maret 16, 2020.

4 Tanggapan to “Mereka yang Tak Bisa Bekerja dari Rumah”

  1. Sbgai guru kmi msh diminta turun ke sekolah, meski anak2 sdh diliburkan.

    Syukurnya di wilayah kmi ini, msh kondusif.

  2. Bagai buah simalakama, pilihan yang sulit. Kalau mereka ga kerja, anak istri ga bisa makan(istilahnya). Semoga Corona segera berlalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: