Hari Keempat Ketika Kompleks Rumah Melarang Orang Luar Masuk ke Lingkungan

Hari Senin pagi aku terkejut membaca pesan yang tersebar di warga kompleks perumahan aku tinggal. Selain imbauan untuk tinggal di rumah dan membatasi bepergian, ada larangan warga luar untuk memasuki lingkungan kami. Itu berarti pedagang keliling, pemulung, pengumpul barang bekas juga pengantar paket dilarang masuk. Wah seperti apa penerapannya?

Tidak ada sosialisasi sebelumnya. Tiba-tiba edaran itu hadir dan diterapkan. Beberapa warga bertanya-tanya, bagaimana jika memesan ojek daring, makanan pesan antar, juga ketika menunggu paket. Tidak ada jawaban memuaskan. Kami diminta mengambil di pos satpam depan.

Oh itu sebabnya Senin pagi itu begitu sepi. Biasanya pagi hari terdengar bunyi khas pedagang roti keliling, kemudian hadir bubur ayam. Tukang ayam kemudian datang, disusul tukang ikan dan tukang sayur. Biasanya juga berkunjung penjual jamu. Sore hari akan datang penjaja jagung manis,kadang-kadang es krim, lalu tukang tahu, sate, dan disusul penjual nasi goreng. Di luar mereka juga datang penjual baterai jam, perabot, pengumpul barang bekas, dan pemulung.

Sudah empat hari ini aku tak melihat dan mendengar mereka. Di satu sisi memang meminimalkan kontak dengan orang luar. Di sisi lain kami jadi susah ketika hendak berbelanja ikan dan sayuran. Kami harus pergi ke luar atau minimal ke pos satpam jika ingin menyantap makanan dan sedang malas memasak.

Aku merasa prihatin dengan nasib pedagang keliling dan pemulung tersebut. Bagaimana dengan nasib mereka? Memang hanya kompleks kami yang tutup karena sebagian penghuninya was-was tak sampai satu kilometer dari tempat kami ada yang dinyakan positif Covid-19. Tapi pelanggan para pedagang makanan ini juga lumayan di tempat kami, pasti mereka merasa sedih kehilangan salah satu sumber pemasukan. Aku sedih tak dapat berbelanja ke tukang ikan langgananku.

Mungkin pedagang sate punya firasat hal in terjadi. Ketika hari Minggu malam aku membeli sate, ia mengeluh betapa menurunnya pemasukan. Orang-orang takut ke luar rumah. Ia senang aku membeli dagangannya. Tapi sudah empat hari ini aku tak melihatnya.

Kondisi ini tak enak. Semi lockdown ini membuat repot penghuni dan membuat pedagang keliling jadi kesulitan mencari nafkah. Aku tak bisa membayangkan jika dilakukan di lingkungan yang besar. Bagaimana dengan nasib pedagang keliling, pemulung, dan lainnya? Apakah mereka akan dapat bantuan pangan dari pemerintah daerah? Mudah-mudahan iya. Semoga pandemi ini segera berlalu.

gambar: pogdesign

~ oleh dewipuspasari pada Maret 26, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: