Bagaimana Mewujudkan Gagasan menjadi Sebuah Tulisan?


Aku punya banyak ide. Tapi bingung bagaimana memulainya untuk dijadikan sebuah tulisan. Kadang-kadang ide tulisannya A eh kemudian tulisannya malah lari ke sana ke mari dan berujung ke B. Sebenarnya bagaimana sih cara mewujudkan ide menjadi sebuah tulisan?
Oh iya paragraf di bawah ini adalah metode yang kupraktikan berasal dari pengalaman. Mungkin ada banyak metode di luar sana. Metode yang kutuliskan nanti bisa jadi kurang pas bagi Kalian atau sifatnya terlalu personal.

Bahasan pertama, dari mana itu ide muncul? Ide bisa dicari atau muncul sendiri. Ketika Kalian beraktivitas atau sebaliknya, malas bergerak, ide juga bisa hadir sendirinya.

Ide tersebut bisa muncul saat kita membaca berita, membaca buku, nonton film, melamun, jalan kaki, atau malah ketika sedang mencuci baju, mencuci piring, dan sebagainya. Kalau aku, lebih seringnya ide muncul pada saat mencuci piring dan ketika naik kendaraan menuju kantor.

Ide juga bisa dicari. Kalian bisa melihat apa yang sedang tren di medsos, kata kunci yang sering digunakan untuk browsing, atau Kalian amati kondisi di sekeliling Kalian.

Jangan lupa agar ide tersebut dicatat. Aku sendiri suka mencatatnya di hape atau di buku agenda. Kusebut gudang ide. Ada juga yang menyebutnya bank ide.


Tahap kedua, bagaimana agar ide tersebut bisa mewujud menjadi sebuah tulisan?

Misalnya Kalian ingin menulis tentang pengaruh berdiam diri di rumah karena pandemi dengan produktivitas. Kalian bingung apa saja yang akan ditulis, sumbernya dari mana, dan sebagainya.

Oke tarik nafas🙂. Ada dua metode untuk menajamkan ide.

Yang pertama adalah memeram ide. Ada yang menyebutnya masa inkubasi. Kalian berpikir tentang gagasan tersebut, menjelajah apa saja yang berkaitan dengan ide tulisan tersebut, memikirkan apa saja yang berkaitan dengan gagasan tersebut. Berdiskusi dengan kawan juga bisa. Lalu berhentilah. Biarkanlah otak mencernanya. Kalau bisa peram semalaman. Besok paginya biasanya Kalian akan tahu jawabannya.

Aku suka menggunakan teknik ini jika sedang merasa buntu. Biasanya aktivitas seperti berjalan-jalan dan mencuci piring juga membantu menemukan jalan keluar masalah.

Cara kedua adalah membuat peta pikiran alias mindmap. Ini ada kaitannya dengan brainstorming. Misalnya Kalian punya kata kunci pengaruh berdiam diri di rumah dengan produktivitas. Dari kalimat tersebut maka Kalian bisa membuat peta pikiran seperti berikut:
– kenapa Kalian berdiam diri di rumah, ada latar belakangnya kah?
– definisikan apa itu berdiam diri, apakah waktunya hanya beberapa jam atau seharian atau sebulan
– lantas apa yang dimaksud dengan produktivitas?
– pada umumnya apa saja kegiatan produktif yang bisa dilakukan di rumah
– benarkah ada perbedaan antara masa produktif pada hari-hari biasa dan masa pandemi ini?
– apakah ada perbedaan unsur produktivitas antara pria dan wanita? Yang lajang vs berkeluarga? dsb.
– bagaimana mendapatkan data perbandingan tersebut, bertanya ke beberapa teman, atau melakukan survei ke misalnya 30 orang, atau cukup mengutip dari artikel dan publikasi ilmiah?
– apa kesimpulan dari tulisanmu


Nah, setelah punya bayangan lengkap tentang ide tulisan maka mulailah membuat kerangka tulisan. Semakin detail akan semakin baik karena akan menjadi panduanmu dalam menulis. Jika misalnya kesulitan untuk mengumpulkan data dengan survei maka Kalian bisa gunakan cara yang lebih mudah, tapi tentunya bobot tulisannya akan berbeda. Jika melalui survei maka Kalian bisa memasukkan tulisan Kalian ke konferensi. Apabila pembahasannya ringan maka bisa dimasukkan ke blog.

Biasanya aku memiliki semacam catatan untuk sebuah ide tulisan. Misalnya dalam satu bagian aku terganjal dengan definisi istilah tertentu, maka aku catat bagian yang kurang tersebut, ku-googling dengan menggunakan fasilitas perpustakaan online dari kampus atau juga bisa dengan Google Scholar. Jika tidak menemukannya, maka cukup dengan definisi di dalam kamus atau dari artikel populer. Setelah tulisan ini matang dan selesai, maka ide tulisan ini di gudang ideku kucoret. Kadang-kadang kuberikan tanggal dan statusnya, apakah ditulis di K, blog, atau malah berupa paper.

Metode lainnya untuk mewujudkan gagasan  yaitu menulis spontan seperti yang pernah kutulis. Ide yang tebersit langsung ditulis. Setelah usai barulah dilakukan cek ricek, dibaca lagi apakah ada tipo, alur gagasannya melenceng, dan sebagainya. Atau malah langsung diunggah.

Metode di atas bisa digunakan untuk tulisan formal dan non formal. Memang tidak semua orang cocok dengan teknik tersebut. Kalian pilih saja yang pas dengan karakter Kalian.

Gambar dari pexels dan pixabay

~ oleh dewipuspasari pada April 13, 2020.

2 Tanggapan to “Bagaimana Mewujudkan Gagasan menjadi Sebuah Tulisan?”

  1. Kalau aku, lebih seringnya ide muncul pada saat mencuci piring di motor menuju kantor.

    Ini epic banget mbak.. kerennn..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: