“Kelas Memasak Lillian”, Ketika Makanan Melontarkan Keajaiban

Lillian kecil ingin sekali melihat mata ibunya kembali bersinar-sinar seperti dulu. Ia ingin ibunya tak berjarak seperti saat ini. Ia terus berlindung dengan buku-bukunya. Kepergian ayahnya dengan wanita lain membuat ia menutup diri. Hingga suatu ketika ia menemukan sebuah toko bahan masakan. Wanita berdarah Meksiko itu mengajarinya mengenal bahan dan bumbu. Sejak itu Lillian kecil mulai belajar memasak. Ia ingin masakannya bisa mengembalikan lagi ibunya.

Lillian terus mencoba dan mencoba. Ibunya hanya berkomentar singkat dan kembali lagi membacakan bukunya keras-keras. Hingga suatu ketika Lillian bereksperimen dengan kentang dan ibunya menjadi lebih pendiam.

Lillian hampir putus asa. Hingga suatu ketika Abuelita, nama perempuan pemilik toko bahan makanan itu memberinya resep yang unik. Sebuah kopi istimewa. Mulailah Lillian bereksperimen. Ia memasak susu segar lalu ditambahkan dengan kulit jeruk, kayu manis, cokelat parut, dan adas. Dituangkannya susu tersebut ke bubuk kopi. Setelah itu terjadi keajaiban. Sosok ibunya mulai kembali.

Buku berjudul “Kelas Memasak Lillian” ini salah satu buku favoritku. Ia mengenalkan latar belakang Lillian yang masa kecilnya tak menyenangkan. Sejak kecil ia harus mengurus rumah tangga dan mencoba ‘membangunkan’ ibunya dari tidur panjang. Minatnya terhadap masakan itulah yang membuat hidupnya tetap berwarna. Dan ia pun berterima kasih kepada masakan karena lewat aroma dan rasanya, ibunya yang disayanginya akhirnya ‘bangun’ dari kekecewaannya.

Dalam novel karya Erica Bauermeister ini ia fokusnya bukan pada Lillian, melainkan kelas memasaknya. Lillian memiliki restoran yang selalu ramai. Pada tiap Senin malam tiap bulan ia mengadakan kelas memasak. Murid-muridnya memiliki latar belakang yang beragam dari ibu rumah tangga, pasangan suami istri yang sudah lanjut usia, juga seorang remaja dan masih banyak lagi.

Di sana mereka jarang diberikan resep. Lillian mengajarkan seni memasak yang tidak konvensional. Ia mengajarkan cara membuat cake putih yang cantik dan begitu nikmat, juga cara memasak kepiting yang tidak menyakiti hewan tersebut dengan membunuhnya secara cepat, tidak dengan cara direbus.

Beberapa siswa kelas memasak kemudian dibahas, apa yang membuat mereka tertarik belajar memasak dan bagaimana kelas memasak itu kemudian mengubah kehidupan mereka. Seperti pasangan Carl dan Helen yang telah menikah puluhan tahun. Rupanya ada sebuah peristiwa yang nyaris memisahkan keduanya.

Juga ada kisah Caire yang memiliki bayi dan ingin sejenak bernafas dari kehidupan rutinitas yang membelenggunya. Ia mencintai keluarganya tapi sesekali juga ingin memiliki ‘me time’. Kelas memasak ini adalah hadiah dari ibunya. Awalnya ia enggan tapi kemudian ia paham bahwa kelas memasak itu salah satu momen yang membuatnya kembali ceria dan bersemangat. Ia jadi ingin memasak sesuatu yang istimewa bagi keluarganya.

Aku suka cerita tentang memasak di sini. Membuatku membayangkan bagaimana sebuah dapur yang nyaman dan hangat, juga proses memasaknya yang membuatku jadi lapar.

” Setiap makanan memiliki keajaiban. Seperti makanan, hidup pun memerlukan resep yang istimewa”.

Detail Buku:
Judul: Kelas Memasak Lillian
Penulis: Erica Bauermeister
Penerbit: Bentang
Genre: novel, roman kuliner
Skor: 8/10

~ oleh dewipuspasari pada April 16, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: