“Gie”, Berjuang Lewat Tulisan

“Lebih baik diasingkan, daripada menyerah pada kemunafikan” (monolog Soe Hok Gie dalam “Gie”).
Sejak masih kecil Soe Hok Gie dikenal sebagai seorang yang kritis. Tapi gara-gara kekritisannya ini ia mengalami beberapa masalah, termasuk tidak naik kelas. Soe Hok Gie yang merasa dirinya siswa tercerdas di kelas pun protes dan ingin memberi pelajaran kepada gurunya. Ia mengajak sahabatnya, Han, mengikuti si guru. Tapi ketika ia melihat kondisi kehidupan si guru, ia pun mengurungkan niatnya.

Soe Hok Gie kemudian tertantang untuk menunjukkan bahwa sekolah salah memberi penilaian ke dirinya. Ia rajin membaca dan kemudian belajar membuat artikel yang bernas. Kepekaannya terhadap isu politik dan humanis, juga persahabatannya dengan teman-teman anggota Mapala UI membuatnya bersemangat untuk membuat perubahan terhadap negeri ini.


Ia memiliki cita-cita agar pemerintahan Indonesia bersih terhadap korupsi, peduli terhadap nasib rakyat, serta kebijakan dan wakil pemerintahan tidak berdasarkan kepentingan agama, suku, partai, golongan, dan etnis tertentu. Ia berjuang lewat tulisannya yang tajam. Harapannya terkendala oleh situasi kondisi masa itu, tahun 1965-an yang panas. Sahabat masa kecilnya, Han, terancam diciduk karena menjadi partisipan partai terlarang. Ia juga merasa dimata-matai. 

Cerita Berlatar Tahun 1965 Pada Era Nasakom
Film “Gie” yang disutradarai Riri Riza memiliki latar waktu sekitar tahun 1956-1966, atau pada saat Gie masih bersekolah hingga ia menjadi staf pengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Ada dua pemeran Gie. Soe Hok Gie remaja diperankan oleh Jonathan Mulia dan ketika mulai berkuliah ia dimainkan oleh Nicholas Saputra. Keduanya berperan sama-sama apik, terutama Nicholas Saputra yang luwes memerankan seorang berjiwa pemberontak yang sekaligus pencinta alam. Berkat performanya ia meraih piala Citra sebagai pemeran utama pria terbaik.



Dari jajaran pemain, para pemerannya oke-oke. Ada Lukman Sardi, Indra Birowo, Thomas Nawilis, Wulan Guritno, dan Sita Nursanti sebagai kawan-kawan Gie. Lalu ada Robby Tumewu dan Tutie Kirana sebagai orang tua Gie. Di sini Donny Alamsyah memulai debutnya, ia menjadi rival Gie bernama Jaka.

Alur ceritanya agak datar dan durasinya lumayan panjang, dua jam lebih. Terus terang agak membosankan. Di sini ceritanya berdasarkan catatan harian Gie, dengan berfokus pada kejadian tahun 1965 dan 1966.

Yang menarik dari film ini selain beberapa fakta sejarah yang jarang diketahui oleh awam, juga desain kostum dan setnya yang detail. Kostum dan aksesoris seperti bandana, dress mini, dan tas yang umun dikenakan masa itu dibidik. Situasi di Salemba kemudian di Cikini dan beberapa tempat lainnya di Jakarta digarap cukup detail dengan masih ada becak, mobil antik, dan juga sebuah toko sepatu yang legendaris, menyesuaikan tahun 50-60 an. 

Dari segi visual, film ini di beberapa bagian menggunakan efek pewarnaan yang mendukung sehingga suasana terkesan jadul. Lagu-lagu soundtracknya juga enak disimak. Dua di antaranya “Donna Donna” yang dibawakan Sita Nursanti dengan iringan gitar akustik dan “Gie” yang ditampilkan Eross SO7 dan Okta.

Selain mendapat piala Citra untuk pemeran utama pria terbaik, film yang dirilis tahun 2005 ini juga meraih predikat film terbaik. Ia juga meraup banyak nominasi, delapan nominasi piala Citra lainnya termasuk untuk sutradara terbaik. 

Gie diketahui kemudian meninggal muda. Ia kemudian dimakamkan di Taman Makam Prasasti, yang lokasinya tak jauh dari Tanah Abang.

Tentang meninggal muda ia menganggapnya sebagai keberuntungan lewat bait puisinya. 

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda” (Soe Hok Gie).

Gambar: themoviedb dan flixable

~ oleh dewipuspasari pada April 24, 2020.

12 Tanggapan to ““Gie”, Berjuang Lewat Tulisan”

  1. Mendengar nama Gie..
    Saya paling terkesan, dengan kutipan berikut: ” Hanya ada dua pilihan, menjadi Apatis atau Mengikuti Arus. Tetapi saya lebih memilih menjadi Manusia yang Merdeka”.

    🙂 Salam kenal,, mari beeteman

  2. Sayangnya di filmnya Gie nya terlalu ganteng. Jadi gagal fokus deh lupa isi ceritanya…

  3. Mbak.. boleh request gak

    Hehehe..

    Bahas Franz Kafka dong..

    • Waktu itu ada yang pernah bahas di Kompasiana. Aku sendiri belum nonton filmnya. Ada di mana?

      • Franz Kafka.. salah satu penulis yang keren juga mbak.. sekeren soe hok gie.. gitu

        Idealis.. tragis..

        Pokoknya metaforis..

        Tapi.. ya, cuman saran.. haha.. gak harus juga,

        Filmnya setahuku.. ada diambil dari karyanya.. tapi film lama gitu, dari zamannya Orson Weles sudah ada.

        Kalau gak salah judulnya, The Trial

  4. Saya pikir ada penggambaran.. di film itu, dimana soe hok gie.. anti sukarno.. padahal sudah menjadi penyakit tiran.. untuk demam kekuasaan.. yang

    Pada akhirnya menggigil.. dan kehilangan kewarasan dan akal sehat..

    Mungkin gara -gara perang dingin juga.. ya

    • Hehehe ntar jadi spoiler kalau kubahas detail. Dalam film tersebut memang kayaknya Gie sangat membenci para tokoh tua. Bapak Soekarno seperti raja Jawa dengan banyak istri dan keraton. Memang pada masa itu tahun 55-66 Indonesia mengalami masa suram, Pak Soekarno berubah menjadi seperti diktator. Ada sisi buruk dari seorang penguasa tapi memang jasa Pak Soekarno dan pendiri bangsa tak bisa disepelekan. Mungkin karena terlalu lama berkuasa Beliau menjadi seperti itu. Juga tak ada yang ‘berani’ mengemukakan pendapat karena takut atau mungkin bosan pendapatnya tersebut tak didengar. Pandanganku sendiri ke Pak Karno sama seperti ke Pak Harto. Beliau sama-sama orang baik, jasanya besar, hanya nampaknya ‘keblinger’ dengan kekuasaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: