Ruang Privat Menjadi Ruang Publik

Apa jadinya apabila hal-hal yang dulunya masuk ruang privat kemudian dijadikan ruang publik? Ada banyak hal contohnya, dari catatan pribadi, hal-hal yang sangat personal, hingga sesuatu yang berupa aib. Dengan adanya media sosial termasuk blog, hal-hal yang dulu hanya perlu diketahui diri sendiri kini semuanya ingin dibagikan publik.

Aku masih ingat awal-awal adanya jejaring sosial, yaitu Friendster. Waktu itu belum ada Facebook dan kawan-kawannya, maka Friendster pun menjadi media untuk berbagi lebih banyak tentang diri. Kebanyakan adalah berupa foto dari profil pribadi, kemudian bertambah dengan semacam catatan yang bisa menjadi semacam diary.

Awal-awalnya menyenangkan kita memerlihatkan foto diri lalu kita juga bisa melihat foto orang lain. Di Friendster kita juga bisa berkomentar tentang karakter orang di halaman orang tersebut. Juga bisa berkirim pesan. Friendster seperti cikal-bakal Facebook dengan fitur-fitur Facebook makin komplit, dengan adanya wall, melihat laman dari kawannya teman dan sebagainya.

Awal-awal media sosial tersebut muncul masih menyenangkan. Kita bisa melakukan reuni dengan sahabat masa kecil. Tapi kemudian banyak yang menjadikan hal-hal yang bersifat privat menjadi publik, misalnya mengumbar dialog pasangan yang vulgar, keluhan terhadap teman atau pasangan, caci-maki dan sebagainya. Aku tak tahu apakah mereka sengaja ingin didengar atau tidak tahu jika sejuta pasang mata dari belahan dunia manapun bisa mengetahui hal tersebut.

Hal ini kemudian diperparah dengan unggahan vulgar di media sosial dengan platform video. Ada saja kasus aneh-aneh yang sebenarnya bukan postingan yang pantas. Ada yang digunakan untuk memeras, tapi ada juga yang memang ingin terkenal dengan cara tak benar.

Oversharing, semua di dalam dirinya seolah-olah ingin ditunjukkan ke publik. Padahal hal tersebut bisa sangat berisiko.Ketika ia menunjukkan lokasi dirinya berdasarkan waktu, maka ia sebenarnya terpapar oleh ancaman.

Sama halnya dengan menulis di blog. Ini juga menjadi peringatan bagiku. Awalnya aku menulis dengan ‘berlagak’ anonim. Siapa sih yang kenal aku. Namaku juga termasuk pasaran. Tapi kemudian aku mulai was-was ketika sebuah platform memajang nama lengkapku dan fotoku (waduh) dan kemudian segalanya jadi berubah. Aku tak lagi anonim sepenuhnya. Ini membuatku jadi lebih berhati-hati ketika menulis, tak sefrontal atau tak sebebas dulu.

Meski kadang-kadang di tulisanku aku menyertakan pengalaman personal, aku mencoba menyensor hal-hal yang terlalu privat. Foto-foto tentang diriku juga kuminimalkan. Hal ini dikarenakan suatu ketika ada yang menyalahgunakan fotoku untuk kepentingan dirinya. Mengerikan.

Satu lagi yang umum dari ranah privat menjadi ranah publik adalah soal beribadah. Entah kenapa agama dan ibadah yang sifatnya personal kemudian masuk ke dalam ranah publik. Ada pandangan kelompok yang coba dipaksakan. Ups aku sebaiknya berhenti untuk membahas ini karena aku ingin hidup tenang.

gambar: pixabay

~ oleh dewipuspasari pada April 28, 2020.

4 Tanggapan to “Ruang Privat Menjadi Ruang Publik”

  1. Itu benar sekali. Walaupun nggak semua ya, tergantung perilaku masyarakat dan hukum di sebuah teritori.

  2. Kesadaran yang bagus.

    Banyak panggung untuk artis-artis dadakan.

    Dimana yang dijual sedikit karya banyak drama.

    Drama yang mendobrak norma dan agama.

    Karena berontak itu menjual. Rebel Sell.

    Ah, kamu harus menyempatkan waktu membaca buku itu..

    Dan pernah diterjemahkan dalam bahasa indonesia..

    Radikal Itu Menjual.

    • Radikal itu Menjual, judul yang bagus. Yang cerita-cerita ‘aneh’ di Twitter, FB dan sekarang Quora itu mulai menggejala dan penceritanya seolah tanpa beban membeberkannya. Kalau untuk video, semua isi rumahnya dan hal-hal pribadinya oleh Youtuber dan penggiat konten video ingin diketahui banyak orang, demi mendapat pundi uang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: