Erwin Prasetya dan Masa-masa Puncak Karya Dewa 19


Berita duka kembali mewarnai dunia hiburan. Setelah kabar kepergian Glenn Fredly, berita meninggalnya Erwin Prasetya dan kemudian Didi Kempot mengejutkan. Tapi kali ini aku ingih mengupas Erwin yang namanya tak bisa dilepaskan dari nama band papan atas Indonesia, Dewa 19.
Band Dewa 19 namanya memuncak sekitar akhir tahun 90-an hingga pertengahan tahun 2000-an. Ketika vokalisnya Once Mekel, Dewa 19 berada di puncak ketenaran. Tapi menurutku dari segi kualitas, puncak karya Dewa 19 ketika vokalis masih dipegang oleh Ari Lasso dengan formasi Ahmad Dhani Manaf, Erwin Prasetya, Wawan Juniarso/Wong Aksan, serta Andra Junaidi Ramadan, dan Ari Bernadus Lasso.

Ada lima album yang bagus pada masa-masa awal Dewa 19, yakni tahun 90-an. Album tersebut “Dewa 19″, Format Masa Depan”,”Terbaik-terbaik”, “Pandawa Lima”, dan “The Best of Dewa 19”.

Apabila disuruh memilih album favoritku maka bisa dipastikan aku menyebutkan “Terbaik-terbaik”. Memang album “Dewa” memiliki tembang hits “Kirana” dan “Kamulah Satu-satunya”. Tapi album yang satu album sering kudengarkan secara utuh dan aku cukup hafal lirik lagu-lagunya hingga kini adalah “Terbaik-terbaik”. Album ini juga masuk di urutan ke-26 dari 150 album terbaik Indonesia versi Rolling Stone.

Dalam album yang dirilis tahun 1995 itu ada 11 nomor. Lagu-lagu tersebut adalah “Ips”, “Cukup Siti Nurbaya”, “Satu Hati”, “Terbaik- terbaik”, “Hanya Satu”, “Cinta ‘kan Membawamu Kembali”, “Manusia Biasa”, “Restoe Bumi”, “Hitam Putih”, “Jalan Kita Masih Panjang”, dan “Jangan Pernah Mencoba”.

Aku tak tahu milik siapa album tersebut di rumah. Yang pasti pemiliknya sangat dermawan karena meminjamkan kaset tersebut dalam waktu yang lama. Dan aku pun bisa mendengarkan satu album penuh secara berulang-ulang hingga lumayan hafal syair-syairnya.

Dalam album ketiga Dewa 19 ini terjadi peningkatan musikalitas. Para personel sepertinya bebas menunjukkan performa terbaiknya. Ada semacam eksperimen seperti dalam tembang “Terbaik-terbaik” yang musik dan gaya bernyanyinya berbeda dengan lagu-lagu Dewa sebelumnya. Di sini Ahmad Dhani atau Dhani Manaf yang bernyanyi. Ritme lagunya unik. Untungnya eksperimen ini berhasil. Bagian reff-nya mudah diingat.
“..terbaik, terbaik kupersembahkan untukmu yang terbaik
Sebagus…sebagus karya agung pujangga-pujangga dahulu…”

Lagu “Siti Nurbaya” memiliki unsur rock dengan tema penolakan nikah paksa. Di sini sentuhan Andra dan Erwin terasa dengan rif gitar dan bentotan bas yang mantap.

“Satu Hati (Kita Semestinya)” terasa adem dan kalem. Liriknya berulang. “Cinta kan Membawamu Kembali” memiliki unsur dominan permainan piano.

“Hanya Satu” dan “Jalan Kita Masih Panjang” memiliki nuansa yang mirip. Liriknya mudah diingat. “Hanya Satu” memiliki nada bersahutan. Entah kenapa aku cukup hafal dengan lirik lagu ini.

Hanya satu yang ada di alam ini
Telah tercipta di dunia untuknya
Hanya satu (satu)
Pasti hanya satu
Mereka harusnya mengerti
Hanya satu (satu)
Pasti satu (satu)
Satu
Bukalah hati peluklah ia
Mungkin hanya satu
Yang sanggup memberinya
Damai (damai)
Jiwa (jiwa)

Yang musiknya kaya dan terasa megah di sini adalah “Restoe Boemi”. Gaya bernyanyi Ari dan Dhani unik. Liriknya tak pasaran, menarik. Bagian solo gitarnya asyik.

Kuyakinkan restu bumi
Bangunkan jiwaku
Basuhi raga kita
Restu bumi leburkan hati
Sucikan dari debu dunia

Seorang bijak ‘kan memahami
Cinta bukan dicari
Diraih
Cinta pun hadir sendiri


Erwin dan Dewa 19
Nama Erwin Prasetya tak bisa lepas dari Dewa 19. Ia merupakan anggota formasi awal dengan posisi sebagai basis dan backing vocal. Berdiri tahun 1986, band ini kemudian menarik perhatian Team Records dari Aquarius Musikindo. Album pertama mereka pun meluncur tahun 1992. Dan sukses besar dengan meraih penghargaan BASF. Dalam album pertama, Erwin ikut menyumbang menulis lagu “Dewa dan Si Mata Uang”,

Selanjutnya pada album “Format Masa Depan” yang dirilis tahun 1994 mereka masih mendulang sukses dengan “Aku Milikmu” dan “Tak’kan Ada Cinta yang Lain”. Selain dua tembang tersebut juga ada lagu yang menurutku enak didengar yakni “Mahameru”, “Still I’m Sure We’ll Love Again”, dan “Masihkah Ada”. Erwin ikut berkontribusi dalam tembang berlirik bahasa Inggris, “Still I’m Sure We’ll Love Again”. Dalam album ini Wawan sudah keluar lalu digantikan personel sementara yakni Ronald Fristianto dan Rere di bagian drum.

Aku suka akan “Mahameru” dan “Still I’m Sure We’ll Love Again”. Menurutku dua tembang ini adalah masterpiece. Tembang “Mahameru” pernah kuulas. Lagu ini mengingatkan akan perjalanan panjang yang pernah kulalui, juga ketika masih suka berpetualang ke alam bebas. Sementara lagu berikutnya sebenarnya sederhana tapi terasa menyentuh dan emosional. Lagu tersebut bercerita tentang kesempatan kedua yang dimiliki seorang pria setelah sebelumnya pernah menyakiti hati kekasihnya.

Dalam album “Terbaik-terbaik”, Erwin ikut menulis lagu “Restoe Boemi” yang bernuansa megah. Sedangkan album “Pandawa Lima” dengan album hitsnya “Kirana”, “Aku di Sini Untukmu”, dan “Kamulah Satu-satunya”. Erwin ikut bergabung menciptakan lagu “Kirana”, “Kamulah Satu-satunya”, “Selatan Jakarta”, dan “Sebelum Kau Terlelap”.

“Kirana” menceritakan masa-masa pahit ketika terjerat narkoba. Sedangkan “Kamulah Satu-satunya” adalah tembang cinta untuk kekasih pujaan.

Ketika kemudian Ari Lasso pergi dan menyumbangkan dua lagu dalam “Elang” dan “Persembahan dari Surga” dalam album “The Best of Dewa 19” yang dirilis tahun 1999.



Sejak dalam “Bintang Lima”, Erwin kemudian menjadi pemain tambahan bukan lagi personel tetap. Ia juga masih hadir dalam album “Cintailah Cinta” yang dirilis tahun 2002. Kepergiannya dari Dewa terasa senyap. Ia kemudian digantikan Yuke Sampurna yang dulu merupakan basis The Groove.

Ia kemudian sempat bergabung dengan TIC Band ketika menggarap album ketiga, NuKLa, EVO Band dengan hitsnya “Agresif”, dan Matadewa. Ia juga menciptakan lagu “Misteri Ilahi” dan “Relakan Aku Pergi” untuk Ari Lasso dalam album solonya “Sendiri Dulu”.

Lagu terakhirnya yang dirilis tahun 2020 adalah “Aku dan Laguku”. Ia berkolaborasi dengan Nicko Septiawan.

Erwin lahir pada tahun 1972 di Surabaya. Ia kemudian dimakamkan di Surabaya tepatnya di Pemakaman Keputih.

Selamat jalan Erwin. Rest in peace.

Gambar dari surya kepri, tribunnews dan liputan6





~ oleh dewipuspasari pada Mei 6, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: