Menangis Lirih di Bioskop

Dulu aku pandai menahan emosi. Aku bisa menutupi marah, sedih, atau apapun itu dengan senyuman lebar atau kecil. Bahkan, aku juga mudah membiarkan diriku bersikap datar tanpa ekspresi. Namun, setelah menua aku makin sulit menutupi emosi. Bahkan, aku bisa menangis saat menonton film-film tentang satwa yang sedih. Hanya tangisan itu lirih.

Tak ada suara. Tak ada sesenggukan. Tak ada hidung nafas tercekat atau pun lainnya. Hanya tangisan. Tangisan itu pun hanya menetes di ujung mata. Lirih, satu-persatu jatuh dalam keheningan.

Aku mudah sedih menonton film hewan. Film tentang kucing yang tersesat atau pun anjing yang disiksa. Sungguh aku tak ingin menontonnya, tapi aku penasaran.

Aku tak ingin orang-orang tahu aku menangis. Sayangnya sepertinya aku bakal tak bisa menahan tangis. Jadinya kupilih jam yang sepi, bangku di pojok, dengan masker, dan kalau bisa jaket bertudung agar aku seperti sosok transparan dan tak dikenali.

Aku tahu aku bakal menangis menonton Gohan. Ketika adegan yang sedih aku lantas teringat kucing-kucingku yang hilang dan yang telah pergi. Aku teringat Pang, Cemong, Koko, Opal Junior, Pong, Panda, Nero Nakal, dan kucing-kucingku lainnya yang hilang dan tak kembali.

Air mata itu lalu menetes perlahan. Sulit kuhentikan. Alhasil aku perlu buka hape untuk mengalihkan pikiran, agar tangisku tetap tak bersuara.

Aku tetap sedih hingga layar telah berisikan daftar kredit. Untungnya studio sungguh sepi. Kuhapus jejak air mata di wajah, aku menghela nafas, wajahku telah berseri.

Setiba di rumah, aku teringat lagi akan film hewan itu. Aku jadi sedih lagi teringat adegan buruk. Kupeluk kucingku satu-persatu. Aku sayang kalian selalu.

Gambar: imdblist/GDH Pictures

~ oleh dewipuspasari pada Mei 19, 2026.

Tinggalkan komentar