Merinding Sendiri


Cerita horor itu suka bikin penasaran. Meski membacanya kadang-kadang bikin deg-degan, tapi kadang-kadang rasa penasaran mengalahkannya.
Aku sendiri penakut. Paling enggan jika diajak jurit malam ataupun mencari-cari rumah hantu. Lebih enak tidur berselimut daripada malam-malam berkeliling ke tempat singup.

Masuk ke wahana rumah hantu saja juga ogah. Oh iya aku pernah cerita sepertinya naik wahana kereta hantu. Aku berdua dengan kawan pada masa baru awal masuk kerja. Satu kereta jalan di depan, berisi dua kawanku lainnya. Aku penakut, kawanku lebih penakut lagi padahal ia pria. Ia duduk jongkok dengan posisi menghadap ke kursi, kepala menempel ke senderan bangku. Nanti kalau sudah mau ke luar wahana beritahu ya Puspa.

Eh aku baru tahu ada pria yang lebih penakut daripadaku. Tahu gitu aku enggan ikutan wahana seram ini, kan penakut. Duh gimana ya kalau aku nanti takut. Aku menguatkan nyaliku. Kereta berjalan dan satu-persatu penampakan pun muncul.

Meski aku tahu itu hanya boneka tapi kehadirannya yang muncul sekonyong-konyong mengagetkan. Ia tak hanya muncul di depan, tapi juga di kiri kanan, juga bagian atas.

Lebih baik mataku terpejam aja kali ya. Tapi nggak enak. Aku pun membiarkan mataku terbuka tapi mulutku kututup dengan tangan. Aku takut berteriak.

Oke kayaknya mau udahan. Eh ada yang muncul dari bawah. Kawanku berteriak. Wah. Akhirnya ia dapat juga sensasi naik kereta seram. Ia segera mengatur posisi duduknya sehingga terlihat normal. Aku sendiri langsung lemas. Ke wahana rumah hantu malam-malam rasanya lebih seram.

Oh iya waktu itu memang ada semacam wahana hiburan malam di Surabaya. Tempatnya waktu itu tidak ramai. Kami mencobai beberapa wahana.

Kawanku mengajak naik roller coaster mini. Ukurannya tidak begitu tinggi. Yang bikin ngeri di sebuah tikungan itu suaranya yang seperti mesin kurang oli.

Kasar banget waktu menanjak turun, untung sabuk pengamanku kuat, aku takut sekali terlempar. Roller coaster ini sama menakutkannya seperti rumah seram. Dulu aku juga selalu tertantang jika diajak naik wahananya. Aku mau-mau saja naik roller coaster halilintar dan niagara di dufan. Ketika posisi melajunya menghadap ke bawah aku berteriak.

Lalu pengalaman seram rolller coaster berikutnya di Singapura. Roller coaster gelap total berasa di The Mummy. Posisi pertama adalah kami diajak melaju kencang dengan posisi kereta mundur ke belakang. Ya setelahnya kami melaju ke sana ke sini dengan cahaya begitu temaram.

Ketika melihat ada dua roller coaster berhadapan dengan tema Transformer aku menggeleng, enggan. Untung belum beroperasi normal saat itu, kalau ya aku bakal susah menolak. Akhirnya diajak ke zona Pterodaptyl Jurrasic Park. Ada bagian di mana kereta gantung ditarik kencang ke bawah. Walah bikin cemas.

Mousecoaster di Malang sepertinya perpisahanku di Malang. Kereta berisi dua penumpang, satu di depan satu di belakang. Ada turunan yang panjang dan sudut yang tajam. Sabuknya terasa ala kadarnya. Aku waktu itu di kursi depan dan hampir berteriak karena posisiku sampai berdiri hampir tegak. Aduh jantungku, aku lemas.

Ternyata itu bukan perpisahan. Aku masih beberapa kali ditawari masuk wahana hantu dan roller coaster, ada kalanya aku bisa menolak. Semakin bertambah usia rasanya aku semakin mudah cemas.

Kali ini tantangannya membaca cerita seram. Aku pun memenuhi tantangan. Aku baca horor malam-malam. Bahkan pernah hingga tengah malam.

Eh kok aku jadi seram sendiri ya. Aku jadi merinding sendiri. Lalu suatu ketika aku menghirup bau wangi. Waduh gawat nih.

Di situ sudah ada peringatan. Mending bacanya saat hari terang. Dan jangan membacanya sendirian.

Aku jadi ingat beberapa bulan silam ada suara di belakangku saat aku hendak tidur. Aku langsung menyetel surat-surat di hapeku dan sinyalnya mati hidup. Aku membaca doa-doa dan terpaku tak bisa tidur. Esoknya di kantor, seharian aku lesu.

Horor itu memang bikin penasaran. Ada kalanya memang ceritanya menarik, menggugah rasa ingin tahu yang sangat. Horor memang bikin deg-degan dan mengasah daya khayal. Asal jangan kejadian di dunia nyata dan jangan sampai pelaku utamanya sekaligus korbannya adalah kamu atau sahaya.

Gambar dari pexels/Ahmed Adly

~ oleh dewipuspasari pada Mei 30, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: