Rujak Cireng

rujak cireng

Ih gorengan apaan sih ini? Kok kayaknya kurang niat, cuma aci. Komentarku dalam hati. Sejak pindah ke ibukota aku baru menemui jajanan aci digoreng ini. Sekalipun aku suka gorengan, aku tak pernah merasai cireng, hingga suatu hari.

Hari itu cuaca sungguh panas. Pukul dua siang memang bukan waktunya untuk keluyuran di jalan. Konon jam segitu adalah panas-panasnya. Ketika pulang berbelanja menuju ke rumah aku melihat penjual gerobak yang susah payah mendorong gerobaknya.

Kontur jalan di sekitaran tempat tinggalnya naik turun dan beberapa bagiannya berkelak-kelok. Ketika si penjual dari area bawah menuju ke atas maka ia akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong gerobaknya ke atas. Setelah tiba di atas maka ia akan kembali mengeluarkan energinya untuk maju sekaligus menahan gerobaknya karena jalanan menurun.

Aku kasihan melihatnya. Penjual itu nampak kepayahan dan berkeringat. Aku pun berhenti dan kemudian membeli barang dagangannya. Rupanya ia berjualan cireng isi duaribuan. Aku tak paham jenis jajanan itu tapi karena murah aku membelinya beberapa. Aku meminta yang masih hangat.

Berkenalan dengan Cireng Isi

Hari itu hari Sabtu. Anak sekolah banyak yang libur atau hanya ekskul. Oleh karenanya jajanannya tak laku. Jajanan ini juga bukan jenis jajanan yang disukai umum. Eh entahlah itu sekadar asumsiku.

Ya akhirnya aku mencobai cireng pertamaku. Cireng isi keju. Masih hangat dan harum. Kulitnya terasa renyah krispi di luar tapi kemudian tekstur di baliknya adalah kenyal dan lembut.

Perkenalan pertama dengan cireng yang berhasil. Memang aku tak begitu menyukai. Tapi rasanya tak buruk, unik dan gurih.

Jajanan ini populer kali pertama di Bandung, kota yang disebut pusat jajanan. Sebuah aci digoreng dengan di dalamnya ada isian bervariasi, bisa dipilh antara rasa keju, oncom, dan ayam. Kemudian makanan ini makin berevolusi dengan isiannya makin beragam, dengan isian telur, sosis, kornet, dan semuanya yang bercita rasa pedas.

Perkenalanku dengan cireng yang membuatku jatuh hati adalah kombinasi antara cireng dan bumbu rujak. Sesuatu yang gurih dengan tekstur unik bertemu dengan saus manis asam pedas.  Selaras.

Rujak Cireng Bikin Jatuh Hati

Lagi-lagi aku meremehkannya. Makanan apa sih rujak cireng ini, cuma aci goreng dengan bumbu rujak. Namun, makanan yang terlihat sepele ini rupanya menghasilkan perpaduan yang selaras. Ia memberikan pengalaman bersantap yang menyenangkan.

Ada kombinasi sesuatu yang krispi renyah dengan di dalamnya lembab dan kenyal dalam sebuah aci gorengan. Ia kemudian dipertemukan dengan sambal rujak, pertemuan antara kacang tanah, asam jawa, cabe, dan gulai merah. Yang terasa di lidah adalah sesuatu yang kenyal gurih juga manis pedas.  Enak.

Aku menyukainya.

Biasanya rujak cireng isi duapuluh buah harganya berkisar Rp 20-25 ribu rupiah. Bisa disantap berdua atau berempat.

Gara-gara rujak cireng aku jadi tidak meremehkan lagi sebuah aci digoreng. Meski jika ada gorengan lain seperti pisang goreng atau tapai goreng aku lebih memilih mereka daripada sebuah aci digoreng.

Omong-omong di kantin kampus, cireng dihargai Rp 2000 dapat tiga. Penjualnya sering kehabisan bahan. Oleh karenanya ada termin gorengan pertama dan seterusnya hingga bahan dan adonan yang ia bawa ludes tak bersisa. Dan mahasiswa sangat doyan gorengan. Termasuk karyawannya.

Suatu ketika kawanku yang pandai memasak memutuskan untuk membuat cireng sendiri. Ia mencoba menakar-nakar berapa banyak tepung tapioka yang digunakan beserta caranya. Rupanya kata ia, membuat cireng tak mudah untuk menghasilkan bagian dalam lembab dan kenyal lalu bagian luarnya renyah.

Aku tak lagi meremehkan cireng.

~ oleh dewipuspasari pada Juni 12, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: