Toleransi, Radikalisme, dan Teroris

Toleransi Agama

Disebutkan kesenjangan sosial dan kemiskinan menyuburkan radikalisme dan terorisme. Untuk itulah pemerataan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan sosial penting dilalukan. Tapi kiranya apa cukup hal tersebut diminimalisir dengan senjata ekonomi?

Indonesia rupanya masih belum bersih dari aksi teroris. Peristiwa di Sigi Sulawesi Tengah membuka mata bahwa rakyat sipil di Indonesia masih harus berhati-hati dengan kegiatan teroris ini.

Jika kegiatan teroris di Prancis mendapat sorotan oleh warga dan pemerintah Indonesia, maka peristiwa ini rasanya masih adem-ayem, tak begitu banyak diberitakan. Hanya ramai dan digaungkan di media sosial. Padahal kegiatan teroris dengan latar radikalisme membuat masyarakat merasa tak nyaman dan tak aman.

Ketimpangan ekonomi mungkin salah satu akar masalah dari radikalisme dan terorisme. Namun, yang tak kalah penting adalah sikap mental dan keteladanan.

Pemahaman tentang toleransi beragama ini mulai pudar. Radikalisme juga mulai ditularkan sejak di bangku sekolah dan juga kampus-kampus negeri. Hal ini nyata dan pemerintah juga sebaiknya tak menutup mata.

Apabila ingin toleransi beragama ini ditegakkan maka pemerintah perlu tegas kepada kaum radikal dan juga teroris. Indonesia adalah negara beragama dan pemerintah juga wajib mengayomi seluruh warganya tanpa memandang agama yang dianutnya. Bukannya negara ini milik semua agama, bukan hanya satu agama.

Ya, perlindungan terhadap warga untuk dapat menjalankan ibadahnya dengan tenang perlu ditingkatkan lagi. Bukan hanya bagi agama mayoritas, namun juga agama lainnya yang hidup yang di Indonesia. Jika ada yang berbuat kekerasan maka perlu diberantas hingga tuntas.

Masalah ekonomi juga perlu terus dilakukan pemerataan. Adanya dana desa yang begitu besar perlu terus dipantau pemanfaatannya.

Apabila rakyat sudah sejahtera dan pemahaman masyarakat akan toleransi beragama menguat mungkin Indonesia baru bisa kembali menyandang negara yang rakyatnya penuh toleransi beragama, guyup, dan memiliki empati. Seperti karakter bangsa Indonesia dulu yang kita pelajari di PPKN.

Tapi saat ini sayangnya toleransi beragama di Indonesia mulai dipertanyakan. Jangan hanya terus dipertanyakan, tapi lakukan sesuatu agar tak makin banyak korban.

Gambar: batamnews

~ oleh dewipuspasari pada November 29, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: