Tribut untuk Sang Redaktur

Lukisan
“Puspa…sini. Kalimat ini apa maksudnya?” Aku deg-degan setiap kali ada panggilan dari redaktur. Telingaku bersiap menerima kritikan atau perintah. Tapi aku hafal suara itu. Itu panggilan seorang redaktur yang kusegani karena kami sama-sama punya minat sama, dalam bidang seni dan budaya.

Aku disuruh mendorong kursiku untuk duduk di sebelahnya. Ia meminta penjelasanku tentang makna kalimat yang kutulis. Lalu ia mengubahnya ke dalam yang lebih sederhana.

Ia tetap menyuruhku duduk di sebelahnya hingga beritaku selesai ia periksa. Ada kalimat-kalimat yang ia ubah. Ada paragraf yang ia ubah pengaturannya. Dan judulku dirombak habis-habisan. Ia memberikan judul yang singkat, tapi juga menarik dan mengena. “Begini lho…ya Puspa…!”

Aku tersenyum dan merasa lega. Beritaku hari itu dimuat di halaman kedua di bagian atas tengah. Tulisanku untunglah tak banyak dipangkas. Setelah aku menyetor semua berita yang kudapat dari pagi hingga sore, aku lalu bersiap-siap pergi. Malam itu ada liputan malam. Aku harus ke lokasi hingga sekitar pukul 21.30-22.00 WIB.

Sungguh melelahkan jam kerjaku bisa lebih dari 12 jam, pernah juga 19 jam, tapi aku lebih sering menyukainya. Pasalnya, malam itu ada pertunjukan musik etnik. Aku meliput sambil menikmati seni.

Aku menyukai seni. Ketika berada di pos seni dan budaya, aku sungguh gembira. Ini bekerja sekaligus menyemai hobiku, menonton pertunjukan seni.

Tak mengapa pulang malam dan keesokan paginya harus bekerja. Aku betah memelototi lukisan demi lukisan. Aku suka menemani kurator memilah-milah karya seni sambil mengoceh sana-sini. Aku sering merasa takjub bagaimana seorang penari bisa begini bisa begitu. Panggung itu seperti sebuah keajaiban.

Wayang

Sama halnya panggung seni, menulis dan urusan cetak-mencetak koran itu ibarat karya seni. Aku kadang-kadang ikut memerhatikan bagaimana redaktur dan penata letak bekerja dengan penuh tekanan. Deadline…deadline. Mereka diburu-buru waktu untuk menyelesaikan halaman demi halaman koran agar tampilannya pas, berita tidak kepanjangan dan juga tidak terlalu pendek.

Aku juga memerhatikan begitu tangkasnya redaktur foto dan asistennya memilah-milah foto dan mengeditnya dalam waktu sekian detik. Lalu bagaimana semuanya kemudian memerhatikan halaman demi halaman sebelum diserahkan ke redaktur bahasa untuk cek typo dan sebagainya. Semuanya dalam posisi diburu waktu untuk siap cetak.

Bagaimana ketika pada masa wartawan masih menulis beritanya dengan mesin ketik. Bagaimana proses lay out-nya? Aku bertanya ke senior yang kami hormati yang waktu itu kemudian berpindah ke hal yang sifatnya administratif. Wah jangan ditanya, pastinya lebih ribet, tapi juga menarik ketika semua serba manual. Mengetik manual, foto juga dengan manual. Belum digital.

Mungkin karena pengalaman itulah aku kemudian sempat menjadi editor majalah internal perusahaan. Lalu sekarang menjadi editor majalah komunitas. Edit dan tata letak itu menarik.

Tulisan ini sebenarnya merupakan tribut bagi redaktur dan seniorku tersebut. Aku terkejut ketika tadi browsing namanya dan rupanya beliau telah meninggal tahun lalu.

Ia dengan senyumnya dan gayanya yang santai membuatku merasa senang bertugas di pos seni dan budaya. Pos itulah yang paling kusukai di antara pos lainnya yang pernah kurasakan selama menjadi wartawan. Aku begitu sedih ketika kemudian dipindahkan ke pos kesehatan dan kriminal.

Low taste, aku ingat komentarnya ketika aku berniat membuat berita feature tentang salah satu sosok. Aku tidak paham karena ia juga medhok sama sepertiku, di kupingku kedengarannya lotis atau lopis…hah apaan hahaha.

Ada satu ceritanya yang masih kuingat dan membuatku tertawa. Ceritanya ia diundang jadi pembicara. Ketika ia diberikan amplop saat berpamitan, ia merasa sungkan. Ia seperti malu-malu tapi mau. Yang mengundang adalah panitia acara sebuah workshop jurnalistik di kampus jadinya ia agak tak enak, tapi sebenarnya dalan hatinya mau juga jika diberi.

Ia pun berulang kali menolak. Si panitia pun terus memaksa. “Ini sekadar ucapan terima kasih Pak, mohon diterima.”

Akhirnya diterima juga. Ketika sudah dalam mobil, ia membuka isi amplopnya. Lalu ia tertawa terpingkal-pihak. Benar-benar hanya amplop berisikan kertas ucapan terima kasih.

“Duh malunya. Aku sudah kayak apa tadi ngototnya gak mau terima….wkkwk…”

Hahaha aku sampai sekarang juga masih ingat. Aku juga masih ingat wajahnya yang dipaksa sabar sambil menggeleng-gelengkan ketika membaca draft beritaku yang berantakan. “PUSPAaaa…!!!

Selamat tinggal Pak. Terima kasih atas antusiasme, semangat, dan dorongan kecintaan terhadap seni dan budaya. Selalu damai di sana. 

~ oleh dewipuspasari pada Desember 2, 2020.

2 Tanggapan to “Tribut untuk Sang Redaktur”

  1. Beliau Mas Arif Santosa ya?
    almarhum memang baiiikkk banget
    Al-Fatihah untuk beliau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: