Kisah Penjual Onde-Onde

Penjual onde-onde
Kakek itu senantiasa berdiri di tiang listrik beberapa saat sambil menawarkan dagangannya…”Nde….onde…”. Bila tak kunjung ada pembeli, maka ia kembali melanjutkan perjalanannya. Berjualan onde-onde dari satu gang ke gang, menjemput rejekinya.

Rasanya kakek itu tak menua. Atau aku mengenalnya ketika ia memang sudah tua. Aku selalu mengenang penjual onde-onde tersebut sebagai kakek beruban dan bertopi baret yang masih gagah. Ia berjalan dengan mantap. Dagangan onde-ondenya ditaruhnya di wadah berbentuk kotak dari logam dengan kaca di bagian depan. Wadah tersebut digantungkannya sehingga berada di depan dadanya.

Sejak aku kecil, aku selalu melihatnya lewat di jalan depan rumah. Kadang-kadang ibu membelinya, jumlahnya cukup banyak untuk arisan, atau satu dua buah karena kasihan melihat si kakek yang telah berjalan sekian lama. Seingatku harganya seratusan perak masa itu.

Onde-ondenya berukuran lumayan besar. Diameternya sekitar empat cm. Awal-awal kurasai, onde-ondenya harum, lunak dan agak kenyal dengan isian kacang ijo yang cukup banyak. Namun, lama-kelamaan onde-ondenya teksturnya agak liat dan isiannya berkurang.

Karena dosis kasihan ibu banyak maka aku kerap menyantap onde-onde si kakek tersebut. Hingga suatu ketika aku merasa jenuh menyantap onde-onde.

Hari demi hari berlalu, hingga kemudian aku tak lagi melihat si kakek tua tersebut. Sejak kapan ia tak lewat di sini?

Lalu ada kabar kakek tua tersebut meninggal. Aku bertanya-tanya di mana kakek tua tersebut tinggal dan dari mana onde-onde yang ia jual. Apakah ia membuatnya sendiri ataukah ‘hanya’ menjualkannya berkeliling? Aku tak pernah bertanya dan memintanya bercerita saat itu.

Dan kini ketika melihat onde-onde yang diberikan paman buatku, aku kembali teringat akan kakek penjual onde-onde tersebut. Ia salah satu orang yang kuingat selama perjalanan hidupku.

Mengingatnya membuatku juga mengenang penjual-penjual makanan pada masa kecil yang wajah dan rasa makanannya masih kurekam di benakku, penjual es tung-tung, dawet nangka, jamu beras kencur, gethuk kacang, bakso urat, dan masih banyak lagi. Apa kabar mereka?

~ oleh dewipuspasari pada Januari 3, 2021.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: