TTS, Kantor Pos, dan Malang Kini

Kantor pos

Mengisi TTS itu masihlah menyenangkan meski memang terkesan jadul. Apalagi jika kemudian TTS tersebut bisa terselesaikan. Nah, dua hari sejak koran mingguan tersebut rilis aku sudah menyelesaikan kotak-kotak TTS tapi kemudian bingung mencari kartu posnya.

Dulu mudah membeli kartu pos untuk mengisi TTS di toko-toko alat tulis. Tapi kini rasanya sulit menemukannya. Beli secara daring pun tak banyak menemuinya.

Akhirnya aku dapat kartu pos yang halaman belakangnya kosong dan bisa diisi jawaban TTS. Aku pun pergi ke kantor pos besar untuk membeli perangko dan mengirimkannya.

Kantor pos besar di Malang tersebut lokasinya ada di sekitaran Alun-Alun Kota Malang. Selama dua minggu di Malang aku hanya PP ke rumah ortu dan ke rumah sakit, jadinya kesempatan ke sini kumanfaatkan sebaik-baiknya.

Kantor posnya sepi. Sebelum menuju loket, kita mengambil dulu kartu antrian dan kemudian menunggu dipanggil. Aku pun membeli perangko kilat seharga Rp 5 ribuan.

Tempatnya bersih dan lapang. Sejak dulu aku masih SMP hingga sekarang rasanya tak banyak perubahan. Sayangnya tidak ada loket penjual benda pos koleksi, padahal aku lagi mengincar kartu pos edisi koleksi.

Alun alun malang

Masjid jami malang
Sambil menuju lokasi angkot biasa ngetem yaitu di Gramedia, aku memerhatikan sekelilingku. Alun-Alun Malang sepi dan ditutup sejak pandemi. Yang ramai adalah Masjid Jami’ yang ada di dekat kantor pos.

Lalu sepanjang jalan Kayu Tangan kuperhatikan ada bangku-bangku untul duduk-duduk. Rupanya konsep boulevard itu serius, ya harus serius sih karena dananya milyaran, tapi aku belum mengetahui seperti apakah grand desainnya.

Pembatas di tengah jalan beberapa bagian nampak dibongkar. Wah apakah bakal jadi satu arah, entahlah.

Kalau kuperhatikan Malang dulu dan kini perubahannya lebih ke adanya beberapa mal dan makin banyaknya perumahan. Dulunya yang hijau dan berupa sawah telah berupa fungsinya.

Bangku jalan
Jalan di sekitar tempat tinggalku nampak tak terurus. Tidak mulus. Saluran air rata-rata ditutup, entah apakah sering dibersihkan. Tak heran bila banjir makin sering menghampiri kota asalku ini dan air di selokan juga kadang-kadang meluap jika musim hujan.

Ceritaku makin ngalor ngidul. Mungkin sebelum nanti kembali ke Jakarta, aku perlu berjalan-jalan ke sekitar sekolahku semasa SMA atau ke museum musik. Entahlah, mungkin untuk menyerap sisa-sisa kenangan masa lalu atau untuk mencari inspirasi.

~ oleh dewipuspasari pada Februari 13, 2021.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: