Tahun 2049 Indonesia Didukung 100 Persen Energi Terbarukan, Mampukah?

Tenaga matahari paling potensial menjadi sumber energi listrik di Indonesia | sumber gambar: AntaraNews.com

Tenaga matahari paling potensial menjadi sumber energi listrik di Indonesia | sumber gambar: AntaraNews.com

Seorang kawan SMA, suka bercerita tentang panel surya yang dipasang di atap rumahnya di akun instagramnya. Ia sudah menggunakan panel suryanya sejak sekitar tahun 2015. Memang saat itu modal memasang panel suryanya masih mahal, tapi kemudian ia menikmati hasilnya.

Sejak dua tahun belakangan ini semakin banyak gedung-gedung  perkantoran di Jakarta yang menggunakan panel surya sebagai pembangkit listrik, termasuk Istana Merdeka dan Kantor Kementerian ESDM. Selain dalam rangka mendukung rencana pemerintah menggunakan 23 persen energi terbarukan pada tahun 2025, penerapan listrik surya atap ini juga merupakan bentuk tanggung jawab mereka untuk ikut menjaga lingkungan.

Bukan hanya gedung perkantoran, warga pun juga mulai banyak yang memasang panel surya. Dengan harga pemasangan panel surya yang semakin terjangkau, maka masyarakat mulai tertarik menggunakan panel surya sebagai sumber listrik untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Di Jakarta, ada sekitar 600 rumah tangga yang menggunakan panel surya berdasarkan data Kompas bulan Maret 2019. Jumlah ini terus bertambah seiring semakin tersosialisasinya Program Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap.

Dilansir dari Solopos (3/2021), harga pemasangan panel surya sekitar Rp 14-19 juta/kWp. Harga ini turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang mencapai Rp 30 juta/kWp. Dengan modal sebesar itu maka warga bersangkutan akan mendapatkan seperangkat modul surya, besi penyangga, kabel-kabel, dan perkakas penunjang lainnya.

Dengan kesadaran pengelola gedung dan masyarakat memasang panel surya menunjukkan masyarakat Indonesia sebenarnya terbuka dengan penggunaan energi terbarukan. Memang saat ini tarif pemasangannya masih mahal, tapi tahun-tahun mendatang bisa jadi tarifnya akan semakin terjangkau.

Semakin banyak warga yang memasang solar penel di atap rumahnya | sumber gambar: ekonomibisnis.com

Semakin banyak warga yang memasang solar penel di atap rumahnya | sumber gambar: ekonomibisnis.com

Matahari adalah sumber energi yang melimpah di Indonesia. Sebagai negara tropis, Indonesia selama enam bulan mendapatkan sinar matahari rata-rata sekitar 12 jam selama musim kemarau dan sekian jam pada musim hujan.

Oleh karena matahari adalah sumber energi yang paling banyak dan mudah didapatkan di Indonesia serta paling dimungkinkan untuk diolah menjadi listrik hingga lingkup rumah tangga, maka pemerintah Indonesia sebaiknya mulai menggalakkan sosialisasi Program Gerakan Nasional Sejuta Atap dan mulai memikirkan strategi bagaimana caranya agar masyarakat bisa mengakses solar panel dengan harga lebih terjangkau. Selain itu yang tak kalah penting adalah mengubah cara pandang masyarakat tentang matahari sebagai salah satu sumber energi terbarukan.

Indonesia menurut sejumlah pakar energi diprediksi akan mengalami krisis energi sekitar tahun 2050. Hal ini dikarenakan konsumsi energi seiring dengan laju pertumbuhan penduduk tidak sejalan dengan pasokan sumber energi yang tersedia, apalagi jika mengandalkan energi fosil. Sudah hampir dua dekade Indonesia menjadi pengimpor minyak. Persediaan batubara dan gas bumi di Indonesia juga diperkirakan habis sebelum tahun 2040.

Nah sebelum terlambat, sudah waktunya pemerintah dan semua elemen bergandengan tangan mulai memikirkan dan menerapkan energi terbarukan.

Masyarakat bisa mengakses tenaga surya | sumber gambar: bumienergisurya.com

Masyarakat bisa mengakses tenaga surya | sumber gambar: bumienergisurya.com

Pembangkit listrik tenaga surya menjadi sebuah harapan dan andalan. Selain Indonesia diberkahi cahaya matahari yang melimpah, tenaga matahari adalah energi yang bersih. Penggunaan tenaga matahari ini akan membantu meminimalkan CO2 dan emisi gas rumah kaca.

Saat ini pembangkit tenaga listrik dengan menggunakan tenaga fosil di Indonesia memang masih mendominasi. Pembangkit listrik tenaga fosil di antaranya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan energi dari pembakaran batubara; Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dengan bahan bakar solar dari minyak bumi; dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) yang menggunakan gas alam.

Listrik yang dihasilkan oleh tenaga fosil ini pun juga sangat besar. Berdasarkan data per Juni 2020 yang dirilis oleh Katadata, PLTU mampu menghasilkan tenaga listrik yang setara dengan 50 persen total kapasitas pembangkit listrik, atau sekitar 35,22 GW.

Sementara Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) baru berjumlah 22 PLTS yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain 22 PLTS yang berskala cukup besar, total ada 2.346 unit PLTS atap dengan total kapasitas mencapai 11,5MW per Juni 2020 dilansir dari Kontan (9/2020). Salah satu PLTS yang berskala besar adalah PLTS Likupang di Minahasa Utara yang bisa menghasilkan hingga 15MW.

Memang saat ini masih ada keterbatasan dalam berinvestasi solar panel. Tapi harapan selalu ada, siapa tahu harga pemasangannya makin murah sehingga pada tahun 2030 akan semakin banyak perkantoran, pusat perbelanjaan, dan masyarakat yang menggunakan panel surya.

Selain PLTS, Indonesia juga masih bisa menambah jumlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Saat ini tenaga listrik yang dihasilkan PLTA di Indonesia nomor dua terbanyak setelah pembangkit listrik tenaga fosil.

Jumlah PLTA bisa diperbanyak di Indonesia |sumber gambar: ListrikIndonesia.com

Jumlah PLTA bisa diperbanyak di Indonesia |sumber gambar: ListrikIndonesia.com

Air sendiri merupakan energi yang potensial karena Indonesia jumlah memiliki banyak waduk.  Meski investasi yang dikeluarkan untuk mendirikan PLTA lebih besar daripada pembangkit listrik tenaga fosil, namun energi yang dihasilkan bersih dan aman bagi lingkungan.

Di Indonesia sendiri juga sudah ada pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) seperti PLTP Kamojang dan PLTP Gunung Salak. Juga sudah ada pembangkit listrik tenaga angin atau bayu (PLTB) seperti PLTB Nusa Penida. Dalam beberapa tahun ke depan siapa tahu Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan peneliti energi dan investor mulai membangun pembangkit listrik dari sumber energi lainnya seperti pasang surut air laut (tidal), gelombang laut/ombak (wave farm), dan pembangkit listrik tenaga sampah. Semuanya ada di Indonesia, tinggal menunggu diterapkan.

Sebenarnya yang paling layak diterapkan dalam waktu dekat adalah pembangkit listrik tenaga sampah. Namun penerapannya juga tetap perlu dikaji bagaimana pengelolaan limbah B3-nya serta apakah tidak bertentangan dengan kebijakan pengelolaan sampah prinsip zero waste agar tidak gagal seperti yang pernah terjadi di Bali.

Saat ini pembangkit listrik tenaga terbarukan baru menghasilkan 15 persen kebutuhan energi. Dalam dua tahun ke depan masih ada kekurangan enam persen di mana pemerintah bisa menggenjotnya lewat PLTS dan PLTA. Dalam waktu kurang dari 30 tahun masih ada 85 persen target. Target 100 persen energi terbarukan sebelum tahun 2050 akan tercapai apabila pemerintah bersungguh-sungguh untuk berinvestasi dan menerapkan energi terbarukan. Tentunya perlu kerja sama dengan berbagai lembaga, investor, dan masyarakat.

Referensi:

Satu | Dua | Tiga | Empat | Lima | Enam | Tujuh | Delapan

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 27, 2021.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: