Mengabadikan Gagasan Lewat Tulisan

Bukuku

Tak ada yang bisa memungkiri pertambahan usia. Walaupun teknologi bedah plastik dan teknologi dunia kesehatan makin canggih, namun usia kita tak bisa diubah. Ketika kita menua bisa jadi ingatan kita mulai memudar. Kenangan dan gagasan kita di masa muda mungkin telah terlupakan bila kita tak rajin mendokumentasikannya.

Ada banyak kata mutiara berkaitan dengan pentingnya menulis. Salah satu yang kusuka adalah kalimat yang dilontarkan oleh Anaïs Nin. Kata ia, dengan menulis kita bisa menikmati hidup dua kali, pada saat momen itu terjadi dan ketika kita melalukan intropeksi.

“We write to taste life twice, in the moment and in retrospect.” –Anaïs Nin

Itu benar. Ketika aku membaca tulisanku di buku diary yang kutulis saat masih SMA atau saat aku membaca ceritaku yang kubuat pada masa kuliah, aku bisa membayangkan situasi masa itu. Apa emosi yang hadir di diriku sehingga bisa menulis seperti itu.

Ya, menulis itu banyak manfaatnya. Oleh karenanya aku mencoba untuk terus menulis setiap harinya. Namun menulis di blog pribadi, di platform blog, ataupun di diary masing-masing memiliki kekurangan masing-masing.

Menulis dalam buku rawan terkena rayap. Atau bagaimana jika buku terkena air? Menulis dengan pena memang bisa melatih otak dan otot. Namun agar tulisan bisa tetap aman terabadikan, maka cara lebih aman dengan memotret atau membuatnya jadi digital. Kan sayang jika tulisan bagus di buku lenyap karena rayap.

Demikian pula halnya dengan file di komputer atau di blog, semuanya tak serta-merta aman. Semuanya perlu dicadangkan agar tulisan tersebut juga tak lenyap seketika.

Ah betapa sesak dan perihnya hatiku ketika mengingat tulisan-tulisan yang kubuat di sebuah platform blog keroyokan hilang tak berbekas. Dulu aku terlalu yakin tulisan di internet tak bakal lenyap, tapi apa yang kemudian terjadi… sesak dan sesal kemudian.

Merasai sedihnya tulisan itu hilang dan memaknai pentingnya mengabadikan kenangan dan gagasan, aku punya harapan sederhana pada tahun 2022. Aku akan membuat manajemen pengetahuan ala diriku.

Sederhananya membuat tulisan tiap harinya. Lalu setelah terkumpul cukup banyak, tulisan-tulisan tersebut akan kubukukan. Ya, buku ber-ISBN dari Perpustakaan Nasional akan lebih terjaga dan terabadikan.

Ya tahun 2022 akan kugunakan sebagian waktuku untuk lebih banyak membaca dan menulis. Membaca itu penting karena bisa menambah wawasan, mendapatkan bahan untuk tulisan, juga memperbanyak diksi alias kosakata. Tanpa membaca, tulisan kita bisa jadi kering dan kurang bergizi.

buku

Sementara menulis itu penting untuk melatih kecakapan kita berkomunikasi, berlogika, dan mencegah demensia. Menulis juga bisa melonggarkan diri dari tekanan dan beban.

Aku sendiri sudah merasai manfaat menulis dan membaca. Namun aku masih belum merasa aman. Ya, aku kuatir tulisan-tulisanku lenyap bila laptopku bermasalah. Bagaimana jika tulisanku yang ribuan di Kompasiana lenyap karena servernya bermasalah?

Ya, menulis saja tidak cukup untuk membukukan ingatan. Aku perlu mengabadikannya dengan lebih baik, yakni dengan berani membukukannya.

Sudah ada lima buku solo yang kubuat sepanjang tahun 2020 dan 2021. Tahun 2022 harapanku bisa lebih banyak membuat banyak buku, baik buku solo maupun buku keroyokan. Syukur-syukur sekali dalam sebulan aku bisa melakukannya.

Aku mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Salampena, Salisma, dan lainnya dengan memberikan ide tulisan lalu mengajak para warganet untuk berani mengirimkan karya lalu dijadikan sebuah pustaka. Ini ide yang hebat danDua buku baru bermanfaat. Ini melatih warganet untuk berani menulis dan memiliki buku dengan namanya, meski baru keroyokan. Ini juga cara untuk mengabadikan ingatan dan kenangan.

Tema-tema yang diberikan oleh Salampena dan Salisma rata-rata bersifat personal dan keseharian. Sesuatu yang pernah dialami seseorang, meski pengalaman tiap orang tak sama. Cerita tentang Ibu, cerita tentang 2020 semuanya adalah kisah kehidupan yang personal. Ya, lewat tulisan yang dibukukan tersebut kita kemudian bisa mencicipi emosi dan melakukan intropeksi ketika membacanya lagi.

Semoga bisa komitmen membuat satu buku setiap bulannya. Kumulai dari Maret depan.

Lewat tulisan yang kemudian dibukukan, kita bisa mengabadikan kenangan dan gagasan.

~ oleh dewipuspasari pada Februari 20, 2022.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: