Kolak dan Bakso Jadi-jadian

Kolak
Tempatnya tak jauh dari sekolah. Kami hanya perlu berjalan kaki beberapa langkah untuk menuju ke sana. Ke sebuah warung sederhana, yang menyajikan bakso jadi-jadian dan kolak.

Sejak kelas empat SD kami sering pulang siang lebih dari jam pulang rata-rata. Ada guru yang demikian ketat memastikan kami belajar dengan giat dan semua yang ada di buku telah terserap. Kami sempat mengeluh dan lelah. Tapi kemudian kami rasai hasilnya.

Biasanya sebagai pelipur lara, kami jajan sepulang sekolah. Memang orang tua kami kerap memberikan bekal roti atau nasi karena rata-rata kami pulang jam dua siang. Tapi sering kalinya perut kami masih lapar. Apalagi jika materi pelajarannya susah.

Ya, ada beberapa penjual jajanan di sekitar sekolah. Ada nenek yang menjual jamu dan jajanan sederhana. Lalu ada es krim keliling yang es krimnya enak, tapi menurut kami kemahalan untuk anak SD.

Favorit kami adalah warung yang menjual kolak dan bakso jadi-jadian. Harganya murah meriah. Lima puluh perak pun bisa mendapatkannya.

Dengan lima puluh perak kami bisa mendapatkan semangkuk mungil kolak. Di dalamnya ada potongan ubi dan pisang. Lebih banyak ubinya. Rasanya gurih, manis, dan sedap. Aku menyukainya.

Warung ini tak banyak menyediakan bangku. Jadinya kami biasa duduk di batu-batu besar di bawah pohon rindang. Jika ada guru lewat, kami terpaksa bersembunyi sambil berharap tak terlihat. Kami bakal dimarahi di sekolah kalau ketahuan jajan sembarangan.

Bakso jadi-jadiannya tak kalah enak. Kaldunya sepertinya hanya menggunakan kaldu kemasan. Masih ditambah bumbu penyedap lainnya. Tapi rasanya lumayan enak.

Dengan lima puluh perak bisa dapat mie dan kuahnya saja. Biasanya kami suka masukkan kerupuk yang harganya perbungkus dua puluh lima perak. Rasanya enak disantap dengan kuahnya.

Seingatku si penjual tak menyajikan bakso betulan. Jadinya kuah bakso jadi-jadian itu disantap dengan kerupuk atau gorengan.

Mereka menjual weci atau ote-ote. Ini enak sekali jika disantap dengan kuah bakso jejadian. Disantap dengan tahu goreng isi alias tahu berontak juga sedap. 

Aku lebih sering memesan kolak daripada bakso jejadian karena micinnya yang banyak. Ibu pasti marah jika aku jajan dengan banyak micin. Ya sesekali saja. Toh aku sebenarnya juga jarang sekali jajan.

Ketika aku menyantap kolak di rumah, aku teringat dengan warung sederhana tersebut. Ehm apakah warungnya masih buka ya? Tiba-tiba aku kangen SD-ku. Bagaimana kabar guru-guruku sekarang ya?

~ oleh dewipuspasari pada Maret 14, 2022.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: