The Menu, Ketika yang Disajikan Bukan Hanya Makanan Lezat

The menu
It’s official. Tonight will be madness” – Tyler

Awas jangan tertipu, The Menu bukan film tentang makanan lezat yang membuatmu ikut tergiur. Memang ada unsur kulinernya, tapi lebih dominan unsur horor thriller-nya yang bisa membuatmu terpaku.

Film The Menu diawali dengan sepasang pria wanita yang nampaknya berkencan. Ia adalah Tyler (Nicholas Hoult) dan Margot Mills (Anya Taylor-Joy). Keduanya rupanya adalah dua di antara mereka yang beruntung untuk bisa mengikuti makan malam istimewa yang eksklusif.

Makan malam tersebut terbatas. Hanya ada 12 pengunjung. Di antara mereka ada milyuner, kritikus makanan, dan mantan bintang film beken. Setiap orang harus membayar biaya yang sangat mahal untuk menikmati sajiannya.

Lokasi restoran Hawthorne tersebut di pulau terpencil. Kepala chef-nya adalah Julian Slowik (Ralph Fiennes). Bahan-bahan masakannya semua diambil dari pulau.

The menu
Sajian pertama adalah makanan yang dibentuk seperti pulau dengan hiasan aneka tanaman yang bisa disantap. Tak semuanya menyukai sajian tersebut.

Sajian kedua terasa janggal. Namun sebelum menu ketiga diantarkan ke meja, tamu restoran tercekat. Ada yang tewas.

Sebuah Film yang Motifnya Tak Jelas
Aku tak akan membocorkan jalan ceritanya. Cukup sinopsisnya seperti yang kuceritakan di atas.

Sungguh aku sebenarnya berharap masakan yang disajikan lebih banyak dan lebih dramatis. Melihat aksi para koki anak buahnya. Aku berharap masakannya nampak cantik, juga mengundang selera. Tapi alih-alih nampak sedap, seperti kata Margot, lebih banyak omong kosongnya. Walaupun si Tyler yang memuja acara masak, mengatakan cerita itulah yang bikin masakan menarik dan orang-orang berdatangan mencobanya.

The menu
Ceritanya memang cepat berubah, dari tur dan jelajah kuliner menjadi sajian horor yang mencekam. Memang ceritanya segar dan juga sajian thriller horornya terasa mantap, berdarah-darah. Pecinta horor berdarah-darah bakal menyukainya.

Namun masalahnya, yang membuatku tak nyaman dan ingin film segera berakhir adalah tak ada karakter yang membuatku bersimpati. Sosok Tyler dan Margot juga kurang layak mendapat simpati. Chef yang pongah juga bukan sosok yang simpatik. Tamu-tamu lainnya kurang menarik.

Malah Elsa, si staf restoran yang bertugas mengawasi tamu, yang diperankan Hong Chau yang memikat. Ketika ia bercerita tentang pekerjaannya yang diawali dari pukul enam pagi kemudian berakhir sekitar pukul dua pagi, membuatku merasa salut dan kasihan. Ia istirahat hanya empat jam setiap hari. Astaga.

Yang disuguhkan di film ini adalah kesadisan demi kesadisan yang tak ada landasannya. Motif pelakunya tak jelas. Hanya ingin mati, untuk apa?

Meski film ini banyak dipuji dan mendapat rating bagus, jelas film ini tidak masuk rekomendasiku. Terlalu sadis dan terlalu tidak jelas.

The menu
Agak disayangkan karena film yang dibesut oleh Mark Mylod ini dibintangi aktor dan aktris yang cukup beken. Ralph Fiennes dan Hong Chau yang menjadi magnet film ini. Sedangkan karakter dan nasib karakter yang diperankan Anya mengingatkanku pada film Split.

Gambar Searchlight Pictures/IMDb

~ oleh dewipuspasari pada November 25, 2022.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: