Semalam di Kereta Bima Sakti, Cerita Muram dalam Petualangan Imajinatif

Cerita fantasi meningkatkan daya imajinasi. Ketika membaca cerita dengan genre ini, benak pun berkelana ikut menikmati perjalanan menuju negeri ajaib. Memang kejadian di cerita fantasi sulit diraih secara riil, tapi bisa memberi inspirasi dan motivasi. Tak ada yang mustahil di bumi ini. Siapa tahu kalian juga bisa mencicipi pengalaman seperti yang dialami Giovanni di buku Semalam di Kereta Bima Sakti.

Tokoh utama dalam buku ini adalah Giovanni. Ia anak dari keluarga kurang berada. Ayahnya pergi melaut tak kunjung pulang dan ibunya sakit. Giovanni sesuai sekolah, bekerja hingga matahari terbenam di percetakan. Sedangkan kakak perempuannya mengurus rumah dan memasak.

Giovanni sering dirundung temannya. Hanya Campanella yang masih berteman dengannya. Suatu ketika guru di sekolahnya menjelaskan tentang Bima Sakti dan ada Festival Alpha Centauri di tempat tinggalnya. Giovanni ingin bermain di festival tersebut bersama Campanella, tapi ia bersama teman-teman sekelasnya yang suka merundungnya.

Sedih, Giovanni ingat harus membeli susu untuk ibunya. Tapi ketika tiba di sana, ia diminta kembali lagi nanti. Giovanni yang sedih kemudian naik ke atas bukit. Tiba-tiba ada keajaiban. Terdengar suara kereta lalu terdengar suara misterius “Stasiun Galaksi Bima Sakti…”

Giovanni terkejut. Ketika matanya terbuka, ia telah masuk dalam gerbong. Ketika hendak duduk, ia melihat Campanella di sana. Kawannya itu menggumamkan sesuatu yang aneh. Ia kemudian berkata ingin ke Stasiun Angsa Putih.

Mulailah petualangan mereka yang aneh dan ajaib bersama kereta Bima Sakti.

Cerita yang Imajinatif Tapi Agak Sulit Dipahami
Aku menduga-duga cerita buku ini yang agak susah dipahami karena terjemahannya. Ada beberapa buku Asia yang kubaca bahasanya kurang mengalir dan susah dipahami karena terjemahan yang kurang halus dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia. Namun kemudian aku membaca di Goodreads, juga tak sedikit yang mengeluhkan cetakan dalam bahasa Inggris.

Kekurangan bahasa ini rupanya dijelaskan dalam bagian akhir buku. Buku ini rupanya buku terakhir yang ditulis oleh Miyazawa Kenji, ditemukan ada di dekat bantalnya pada tahun 1933, ketika ia meninggal. Naskah buku ini belum rampung dan masih dalam proses revisi.

Ada beberapa versi revisi. Buku ini menggunakan versi keempat, tetapi masih ada beberapa bagian dan halaman yang sepertinya hilang. Tidak ada penjelasan tentang apa itu ilusi empat dimensi yang sempurna.

Membaca buku ini ibarat kombinasi The Little Prince dan The Polar Express. Ada keajaiban di dalam cerita yang imajinatif ini dan pesan-pesannya lebih pas untuk kaum dewasa.

Meski buku dan ilustrasinya seperti buku anak-anak, buku ini sebenarnya memiliki tema yang suram, dengan dialog dan monolog yang dalam. Ada pesan kematian, penyesalan, dan kehidupan setelah kematian.

Aku membaca buku ini kali kedua dengan menyaksikan animasinya yang berjudul sama, Night on the Galactic Railroad. Animasi yang dirilis tahun 1985 ini menggunakan dua tokoh kucing untuk menggambarkan Giovanni dan Campanella. Namun, secara keseluruhan, ceritanya selaras dan setia dengan versi novelnya.

Secara keseluruhan cerita dalam film ini menarik dan imajinatif meski tidak sempurna. Setelah buku ini aku berakhir, aku merasakan kesedihan

Selama membaca buku dan menyaksikan filmnya, aku jadi lebih paham mengapa Bima Sakti disebut Milky Way, seperti sungai susu.

Detail Buku:
Judul Buku: Semalam di Kereta Bima Sakti
Penulis: Miyazawa Kenji
Penerbit: Penerbit Mai
Penerjemah: Armania Bawon Kresnamurti
Ilustrator Sampul dan Isi: Pola
Tebal: 114 halaman
Tahun Terbit: 2022

~ oleh dewipuspasari pada Maret 17, 2025.

15 Tanggapan to “Semalam di Kereta Bima Sakti, Cerita Muram dalam Petualangan Imajinatif”

  1. Baca ulasan ini aja imajinasinya udah kepancing, Mba Dewi. Heheh. Animasinya bisa ditonton dimana Mba? Rasanya jadi pingin ikut nonton juga

  2. Behind the pembuatan bukunya sangat miris yaa..

    Penulisnya ditemukan meninggal di sebelah karyanya yang masih belum sempurna. Dan lanjutannya, apakah diselesaikan oleh seorang ghost writer?

    Buku imajinasi begini, butuh konsentrasi saat membacanya.Adalah hal yang tepat ketika dibaca ketika dalam perjalanan.

  3. Saya sselalu kagum dengan para penulis novel fantasi, mereka bisa menciptakan dunia tersendiri dengan cerita yg menakjubkan. Jadi penasaran juga pengen baca novel ini

  4. penasaran kak sama kombinasi ceritanya The Little Prince dan The Polar Express yang ada di kereta bima sakti dari Miyazawa Kenji ini, lebih penasaran lagi karena ini karya yang tidak lengkap tapi masih bisa terbit, keren sih ini editornya kak

  5. Aku suka dengan novel genre fantasy. Ada pengalaman seru yang penuh dengan imajinasi, dan teratrik juga baca novel ini. Walau sulit dipahami, tapi tidak apa-apa ya, baca aja dulu.

  6. Buku yang seperti ini yang bikin penasaran untuk di baca tapi rasanya makin seru kalau bisa baca langsung versi aslinya jadi ga perlu terjemahan lagi ya

  7. Kisah fantasi memang bisa sangat menarik. Imajinasi kita jadi terangsang. Bahkan dari judulnya pun biasanya kisah fantasi suka langsung menarik perhatian

  8. Salah satu tantangan membaca buku terjemahan, memang ada di proses translasi-nya ya. Kadang yang paling sulit menerjemahkan konteksnya, bisa jadi apa yang ditulis oleh si penulis, konteksnya jadi kurang sesuai ketika diterjemahkan ke bahasa lain.

  9. bagusnya memang membaca langsung novel bahasa inggrisnya. jadi lebih bisa dipahami. kayak pas molly baca dunia shopee

  10. Saya juga suka baca buku fantasy seperti ini. Keren

  11. aku suka cerita fantasi sih tapi belum pernah membaca cerita fantasi yang suram, mungkin ditulis saat penulisnya akan meninggal, ada pesan yang ingin disampaikan tapi belum tuntas tersampaikan

    resiko cerita terjemahan memang kurang mengalir sih

  12. Judulnya aja udah bikin penasaran! Dari review ini, kayaknya novel ‘Semalam di Kereta Bima Sakti’ punya daya tarik unik dengan nuansa kelam tapi imajinatif. Fix masuk wishlist bacaan

  13. Salfok dengan info penulisnya Miyazawa Kenji dan karya ini ditemukan ada di dekat bantalnya pada tahun 1933, ketika ia meninggal. Tapi walau demikian karyanya masih bisa terbit ya Mba walau ada part yang hilang krn mgkn revisi

Tinggalkan Balasan ke Efa Butar butar Batalkan balasan