Tiba-tiba Jatuh Cinta pada Babad Prambanan

Berawal dari skroling iPusnas, tiba-tiba perhatianku tertumbuk pada naskah kuno. Ya lagi-lagi naskah kuno. Setelah naskah Pejompongan yang belum tuntas kubaca, kini aku tertarik membaca naskah Babad Prambanan. Dan kali ini aku sudah menamatkan jilid satunya lalu melanjutkan membaca jilid berikutnya.

Ternyata kisah Prambanan jauh lebih kompleks daripada kisah 1000 candi yang selama ini kukenal. Walaupun cerita dalam babad ini sebagian besar fiksi, aku kagum akan empu penulisnya karena bisa menghubungkan cerita-cerita raja besar jaman dahulu dan kisah dongeng lainnya, sehingga bisa jadi semacam antologi dongeng Jawa yang saling berkaitan.

Hingga babad ini kubaca, ada cerita tentang Jayabaya, perseteruan antara Kerajaan Pengging dan Prambanan yang berlarut-larut, kisah Roro Jonggrang yang rupanya hanya bagian kecil dari cerita, juga riwayat Jonggrang dan Bandung hingga akhir hayatnya. Setelah itu anehnya ada kisah mirip Dayang Sumbi dan Sangkuriang, juga ada cerita Ajisaka dan kerajaan laut selatan.

Menarik.

Aku tak tahu bahwa ada kisah lain Roro Jonggrang yang tragis. Entah lebih pahit mana antara jadi arca atau mengalami nasib seperti dalam kisah ini.

Dan, lagi-lagi aku penasaran dengan buto. Sebenarnya buto atau kaum raksasa dalam cerita Jawa dan India itu apakah makhluk berukuran raksasa, ataukah manusia liar dan kejam yang gemar menyantap daging manusia?

Aku belum selesai membaca naskahnya. Aku sudah membaca yang versi terjemahan. Versi ini masih agak susah dipahami, tapi ketika aku melirik versi aslinya jauh lebih lebih lebih sulit. Salut dengan para alih aksaranya.

Bagian Ajisaka ini membuatku teringat akan asal usul aksara Jawa. Kalau tuntas membaca babad Prambanan, mungkin aku akan membaca naskah kuno lainnya.

Gambar dari Perpusnas

~ oleh dewipuspasari pada Juni 25, 2026.

Satu Tanggapan to “Tiba-tiba Jatuh Cinta pada Babad Prambanan”

  1. Jadi pengen baca

Tinggalkan komentar