Miu Sakit

Tubuh si Miu panas. Nampaknya ia demam. Aku cemas, apakah ia harus ke dokter ataukah kurawat di rumah. Akhirnya kupilih nomor dua. Kubiarkan ia tidur di selimut, dengan kipas, dan kubuatkan bubur dari makanan basah dan kaldu ayam. Ia mau makan. Ia sebenarnya haus dan lapar, hanya lemah.
Dua kali ia kusuapi. Aku harus sabar dalam menyuapi. Aku berdoa ia segera pulih.
Raut wajah Miu nampak sedih. Ya, kemarin ia masih makan lahap dan lincah bermain. Kini hanya meringkuk dan tidur sepanjang hari
Tubuh Miu lemah sejak kecil. Dulu induknya, Mumu, pernah stress dan tak mau menyusui anak-anaknya sehingga harus kusuapi. Mungkin seminggu lebih aku melakukannya, hingga Mumu sadar diri.
Karena kurang gizi sejak kecil, tubuh Miu tumbuh perlahan. Dalam usia hendak tiga bulan, tubuhnya masih segitu saja. Ukuran fisiknya seperti fisik kucing berusia satu bulan. Kasihan.
Ayo Miu segera pulih. Nanti main lagi bareng Mui. Jangan sedih, kamu disayangi.
