Talas dan Gemblong

Salah satu agenda ketika berkunjung ke Bogor kemarin sebenarnya adalah membuat film pendek dengan nuansa Bogor. Judul naskah skenario yang kubuat adalah “Talas dan Gemblong”. Lho kok?!
Alasan pemilihan judul sebenarnya sederhana, kedua makanan tersebut, gemblong dan talas mewakili kota hujan. Namun, dalam film pendek ini tentu saja maknanya simbolik, bukan makna harfiah.
Gemblong melambangkan sesuatu yang manis dan lengket. Juga, bisa berarti ‘gila’ untuk bahasa gaul anak muda zaman sekarang. Sedangkan talas bermakna tawar. Namun jika talas dimasak dengan baik, akan menjadi makanan yang lezat.

Dalam naskah film pendek yang belum jadi ini gemblong bisa dimaknai pertemanan yang awet dan manis karena gemblong lengket dan legit. Gemblong juga bisa bermakna impian dan rencana akan kehidupan masa dewasa yang manis.
Talas karena rasanya cenderung tawar bisa dimaknai sebagai kehidupan yang jauh dari rencana ketika seseorang dewasa. Misalnya ada tragedi di keluarga sehingga tiba-tiba ia kesulitan menyelesaikan pendidikan.
Kehidupan yang dijalani nampak tawar, jauh dari impian. Namun talas ternyata juga lezat apabila diolah dengan baik, baik digoreng maupun dibuat kudapan lainnya. Kehidupan dewasa yang jauh dari rencana, bisa lebih berwarna, tidak hambar, bila diterima dengan ikhlas dan kemudian tetap dioptimalkan. Misalnya seseorang yang awalnya arsitek kemudian menjadi komikus.
Ya, talas dan gemblong nampak berbeda. Namun, keduanya sebenarnya sama-sama sedap bergantung pada preferensi dan pengolahannya.

Kalau kamu sendiri lebih suka talas atau gemblong? Atau mau dua-duanya?
