“You Can’t Expense This!”, Dorama Akuntan yang Lucu dan Tambah Wawasan

“Jangan mengejar kelincinya!” – Sanako Moriwaka
Apa kalian pernah menyaksikan film “The Accountant” yang diperankan oleh Ben Affleck? Sudah ada sekuelnya di bioskop tahun lalu. Ceritanya tentang seorang akuntan forensik yang ahli dalam mengungkap penyalahgunaan dana. Nah, rupanya dorama Jepang juga punya serial seorang akuntan yang tak kalah lihai. Menariknya tokohnya adalah seorang perempuan. Judulnya adalah “You Can’t Expense This!”.
Dorama ini bisa kalian saksikan di Apple TV ataupun Netflix. Satu episode berkisar 49 menitan.
Serial yang dirilis tahun 2019 ini merupakan adaptasi dari novel berjudul “Kore wa Keihi de Ochimasen” karya Aoki Yuko.
Film ini bercerita tentang akuntan andal Departemen Keuangan perusahaan sabun Tenten. Ia adalah Sanako Moriwaka (Mikako Tabe). Setiap hari ia mengurus permintaan pembayaran dari berbagai departemen. Yang paling sering adalah perjalanan bisnis dan jamuan dari Departemen Penjualan.
Sanako sendiri dikenal teliti dan tegas. Jika ada data yang kurang, ia akan minta direvisi. Baginya hal yang menggembirakan setiap harinya adalah ketika debet dan kredit seimbang. Saat itu baru ia merasa lega.
Nah, selama berkutat di keuangan, ia juga punya firasat tajam akan penggunaan dana. Meski transaksi terlihat wajar dan pimpinan departemen sudah menyetujuinya, ia bisa mencium ada yang tak beres dari pengalaman dan juga peristiwa kebetulan.
Misalnya ada karyawan yang sering mengklaim perjalanan bisnis pada akhir pekan. Tapi ketika dicek tujuannya ternyata taman hiburan. Apakah pengeluaran semacam ini diperbolehkan?
Ada juga peristiwa di mana pihak humas belanja kamera yang sangat mahal. Padahal ketika mereka menyewa vendor untuk proses syuting iklan, pihak vendor biasanya juga menggunakan kameranya. Eh rupanya suami karyawan humas tersebut adalah sutradara amatiran. Apakah ada kaitan antara pembelian kamera itu dan usaha pasangannya?
Cerita yang tak kalah menarik adalah rahasia di balik rencana pembelian mesin kopi. Vendornya adalah perusahaan baru. Dan rupanya karyawan yang mengusulkan pembelian mesin tersebut memiliki utang dengan pemilik produsen mesin kopi itu. Apakah transaksi semacam ini diperbolehkan? Atau ada unsur etiknya?
Tiap episode menarik dan kadang solusinya sulit ditebak. Sanako memegang prinsip ‘jangan kejar kelincinya’, agar ia tetap fokus dan tidak terdistraksi. Kadang ada satu dua transaksi yang baginya kurang pas secara moral dan etik, tapi jika sesuai dengan ketentuan perusahaan, maka ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak bisa selalu curiga akan niat karyawan ketika mengajukan struk.
Mikako Tabe menjadi sosok Sanako yang kaku dan tegas. Ia nyawa dalam serial ini. Bagian yang lucu ketika ia diminta menjadi sosok karyawan teladan yang diwawancarai. Rupanya ia sangat kaku dan berupaya dengan keras untuk tersenyum, sehingga malah tampak mengerikan.
Ketiga rekan kerjanya di Departemen Keuangan juga memiliki kepribadian yang saling melengkapi. Atasannya, Hideki Shibata (Mitsuru Fukikoshi), santai dan sering bertengkar dengan manajer penjualan yang dinilai hanya asal menyetujui tanpa memeriksa dokumen anak buahnya. Kemudian ada seniornya, Yutaro Takura, yang pendiam dan suportif. Yang paling junior adalah Mayu Sasaki yang paling ceria tapi mudah goyah pendirian.
Ceritanya tak selalu serius sih. Ada bagian romantis dan komedinya. Yang konflik mesin kopi itu salah satunya. Rupanya ada beberapa karyawati yang merasa senang membuat kopi untuk rekan kantornya. Ia tak merasa terbebani. Hanya beberapa karyawati lainnya merasa itu hal yang seksis dan tak perlu ada di kantoran.
Seperti perusahaan pada umumnya, ada saja karyawan yang mencoba mengutak-atik angka agar dapat memanfaatkan fasilitas kantor untuk keperluannya. Ada juga karyawan tipe penjilat.
Film ini penyelesaian tiap kasusnya terkesan ringan, meski kadang ada kejutan. Jika kalian perlu tontonan yang santai tapi juga menambah wawasan, dorama ini terekomendasikan.
Sumber gambar: mydramalist
