Semangkuk Sup Daging Berlada

Sebuah mangkuk dengan uap yang masih mengepul berada di hadapanku. Biasanya pada saat-saat seperti ini aku segera membuka aplikasi kamera, lalu mengambil beberapa gambar makanan itu. Namun, kali ini aku tidak ingin itu.
Kuperhatikan tampilan makanan di dalam wadah. Makanan berkuah ini relatif sederhana dibandingkan milik restoran hits lainnya. Hanya ada potongan daging sapi yang dipotong lumayan tebal berbentuk persegi panjang. Daging ayam berbentuk dadu ikut menemani karena aku memintanya.
Di bawah bawah dan samping, sawi hijau dan sawi putih memberikan warna. Demikian juga dengan potongan tomat. Ya, warna makanan ini disumbang oleh bahan-bahannya.
Kuahnya sendiri berwarna kecokelatan. Kucicip sesendok rasanya ringan tak seberat yang kubayangkan. Tunggu, setelah lidahku merasainya, rasa kompleks yang menyenangkan mulai menyebar.
Ada rasa gurih dari kaldu daging, aroma segar dari sayuran, rasa asam manis samar dari tomat dan kecap manis. Ooh rasa pedas apa ini yang sedikit menusuk seperti serangan gerilya. Aku tahu ini pedas lada, bukan cabe bubuk kemasan.
Aku teringat pelayan restoran tadi bertanya kepadaku sambil meminta maaf sebelumnya. Apakah aku benar-benar sehat atau sedikit kurang enak badan?
Aku tak paham maksud pertanyaan. Ia nampaknya tahu itu dan menjelaskan maksudnya. Jika jawabannya nomor dua, maka lada akan ditambahkan sedikit lebih banyak untuk membuat badan lebih nyaman.
Oh itu maksudnya. Untunglah aku mengiyakannya meskipun sebenarnya aku baik-baik saja. Aku suka sengatan lada dan aromanya terhadap hidung dan lidah.
Dagingnya empuk dengan sedikit lemak menempel yang memberikan rasa dan tekstur yang kaya. Ya, bahan-bahan yang ada dalam mangkuk ini masing-masing menyumbang peranan terhadap rasa dan teksturnya.
Ehm tak heran apabila komentar buruk dari seorang influencer makanan yang punya banyak pengikut tak mempan. Sebulan lalu linimasa medsos dipenuhi oleh komentar buruk itu yang menganggap masakan restoran ini masuk sad food dan tak punya sesuatu. Dia juga memamerkan foto makanan yang tak habis dengan ekspresi wajahnya dan kawan-kawannya yang seperti muak.
Setelahnya komentar buruk pun ikut berhamburan. Tapi tak lama arus komentar buruk itu melambat setelah pihak restoran memberikan jawaban yang elegan. Mereka meminta maaf karena masakan tersebut tak sesuai harapan dan akan terus meningkatkan kualitasnya.
Jawabannya sederhana, tapi terasa tulus dan jujur. Setelah itu netizen berbalik membela restoran. Mereka yang sering ke restoran tersebut juga bermunculan.
Ini seperti plot twist sebuah film. Di akhir influencer kuliner dan lingkaran pertemanannya diketahui sering dibayar untuk menaikkan nama restoran dan menjatuhkan pesaingnya. Dia nampaknya besar kepala dan merasa setiap komentarnya akan didukung, hingga dunia tak lagi berpihak dan kelicikannya terbongkar.
Nama restoran itu pun bersih dengan sendirinya. Bahkan, tak sedikit yang khusus datang ke restoran tersebut karena penasaran. Termasuk aku.
Aku pernah menonton video pemilik resto yang diwawancarai salah satu saluran teve. Dengan tertawa ia berkata bahwa restorannya sering dijuluki selera makanan orang tua karena menunya kebanyakan rebusan dan interior restorannya begitu sederhana. Ia mengakui menu-menu masakannya memang terinspirasi dari neneknya yang membesarkannya karena kedua orangtuanya meninggal ketika ia masih anak-anak.
Hahaha selera orang tua. Aku jadinya sekarang sudah tua karena menyukai masakan berkuah ini. Mungkin efek placebo atau memang karena masakan ini sehat, aku merasa suasana hatiku dan tubuhku membaik.
Aku memesan teh melati yang dihidangkan dengan kue mungil berwarna putih transparan. Apa kue itu agar-agar? Rasanya seperti embun, krenyes dan sejuk. Pas dengan aroma dan raaa teh melati yang agak sepat dan harum.
Ini bukan ulasan kuliner. Aku hanya ingin hadir di restoran ini karena nenekku juga pernah mengajakku ke sini waktu aku masih kecil. Aku lupa akan menu dan rasa yang kami pesan dulu, hanya ingat teh melati ini yang membuatku tersenyum gembira.
Selera orang tua? Mungkin memang karena aku menua jadi cocok dengan menunya. Tapi kulihat bangku restoran mulai terisi lebih dari separuhnya. Pengunjungnya juga beragam usia.
Aku membayar ke meja kasir. Di sana ada potret pemilik restoran ketika masih muda. Ah apa yang kulihat, ada foto nenek di salah satu foto bersamanya. Rupanya mereka saling kenal.
Aku tersenyum lebar. Rupanya nenek di surga sedang mengajakku bernostalgia dan mengingat lembar kenangannya dan memori kami bersama.
Sudah kubilang ini bukan ulasan makanan. Aku hanya ingin bercerita.
Gambar dari film “My Love is Soup”
