Langit Mendung, Cokelat Susu, dan Kucing Gantian Minta Pangku

Hari Sabtuku sangat biasa. Aku jadi merasa bersalah karena tak melakukan apa-apa. Rasa kantukku menyerang meninabobokan aku yang sedang kelelahan fisik dan mental. Aku pun memutuskan seharian berdiam di rumah.
Saat memutuskan ingin pergi, langit tak bersahabat, gelap sekali. Tak apa-apa, toh aku yang menginginkan hujan setiap hari karena sumber air di mana-mana kering dan agar api segera padam di sana-sini.
Langit mendung tak akan membuat suasana hariku kelabu.
Minuman cokelat susu sudah ada di dekatku Kuputar musik cadas favoritku. Entah kenapa aku merindukan musik Emo dan Nu Metal yang dulu menemani masa remajaku. Masa-masa ketika aku tidak penakut dan tak mudah ragu.
Rasanya sulit memaksakan diriku mengerjakan ini itu. Ampun tugasku banyak banget dan harus kuselesaikan hari Minggu. Dari tugas membuat pitch deck film panjang, menyusun proposal dan juknis festival, hingga menyusul paper konferensi, tugas yang beragam dari bidang kreatif hingga yang serius di bidangku. Bukankah aku memang menyukainya dan tergerak untuk hidup di dua sisi itu?
Sementara langit di luar makin mendung. Kuputar tembang “The Adventure” dari AVA yang membuat benakku seperti melalang buana hingga ke planet-planet nun jauh. Kucing-kucing mulai menghampiriku.
Yang pertama adalah Lawa, kucing hitam seperti kelelawar. Dia kucing entah darimana, muncul tiba-tiba, dan tanpa persetujuanku langsung menetap.
Dia sejak belakangan ini mulai manja. Dia kini tak malu-malu minta untuk dielus dan disayang. Dia juga naik ke pangkuanku dan minta dielus-elus kepalanya.
Setelah Lawa pergi, kucing Sam juga ingin pangku. Ia sedang merajuk. Ia memutuskan mogok makan ini itu. Oooh Sam memang kucing yang sulit tapi aku sayang kucing yang galak lucu.
Sam kemudian si Keyong yang tadi tiduran di lantai kamar mandi. Bulunya masih basah ketika ia mendekat dan ketika ia menguap lebar, mulutnya bau sekali. Mungkin karena suka makan macam-macam, termasuk nasi bungkus dari tempat sampah, maka nafasnya paling bau meski badannya bersih.
Si Keyong tidur nyenyak sekali. Aku sampai lama-kelamaan pegal sendiri. Tidurnya aneh-aneh dari melingkar hingga kemudian melintang seenak hati.
Ampun Keyong, aku mulai kesemutan. Cokelatku juga sudah tak hangat. Aku mau menyalakan lampu depan. Gelap.
