
Suatu ketika aku terlelap
Kemudian terbangun dengan pucat
Untunglah mimpi buruk semata
Ketika sesuatu mendekat, aku langsung tenang
Kucing-kucing memandangku bertanya-tanya Lanjutkan membaca ‘Suatu Malam’


Suatu ketika aku terlelap
Kemudian terbangun dengan pucat
Untunglah mimpi buruk semata
Ketika sesuatu mendekat, aku langsung tenang
Kucing-kucing memandangku bertanya-tanya Lanjutkan membaca ‘Suatu Malam’

Hari ini rencanaku mencicil menulis makalah
dengan membaca berbagai jurnal
Namun rasa malas berkuasa
Ditambah sejumlah pembenaran
Bukan makalah yang ingin kubaca
Juga bukan buku teks atau lainnya
Melainkan buku dengan sampul merah
Yang gambarnya anak perempuan dengan senyum merekah Lanjutkan membaca ‘Membaca Na Willa’

Satu hari dalam minggu kemarin aku menyaksikan dua film horor berturut-turut. Satunya film Hollywood yang merupakan reboot dari sebuah tokoh cerita yang populer. Satunya lagi adalah horor Indonesia. Ada satu kesamaan di antara keduanya. Menarik tapi sayangnya unsur di dalamnya begitu sadis. Membuatku bertanya-tanya, apakah level kesadisan dalam film horor belakangan ini naik level? Lanjutkan membaca ‘Tunggu, Mengapa Film Horor Kini Makin Sadis?’

Minggu siang ini begitu cerah. Langit berwarna biru muda dengan awan-awan putih seperti kapas. Aku memutuskan membaca lima belas menitan. Kupilih buku George Orwell di iPusnas. Bagaimana si Miskin Mati, judulnya. Lanjutkan membaca ‘Tercekat Baca Dua Bab “Bagaimana Si Miskin Mati”’

Kopi bubuk itu nampak normal, seperti kopi kemasan pada umumnya. Namun, penilaianku spontan berubah ketika bubuk kopi tersebut beradu dengan gula dan air yang baru kujerang. Lanjutkan membaca ‘Kopi Hitam Bak Arang’