Visit Tidore Island- Pulau Menawan Kaya Rempah-Rempah

Ketika melihat foto-foto panorama pulau-pulau di Maluku Utara  milik kawanku aku terkagum-kagum, wah jadi ini yang disebut Tidore. Sebuah daerah kepulauan yang dulu sering disebut-sebut dalam sejarah dan menjadi perebutan tiga negara yang ingin menguasai perdagangan rempah-rempah.

Tidore memiliki tanah yang subur karena di pulau tersebut terdapat berbagai gunung seperti Gunung Maltara dan Gunung Api Kie Matubu. Hasil panen rempah-rempah dengan kualitas tinggi pun melimpah, terutama cengkeh dan pala. Kemasyuran rempah-rempah dari negeri Maluku Utara ini pun mengundang ketamakan bangsa Spanyol, Portugis dan Belanda.

Kejayaan Tidore sendiri semakin menanjak sejak berdirinya kerajaan di kepulauan tersebut pada tahun 1109. Pengaruh Islam kemudian masuk sehingga Tidore disebut kesultanan. Selanjutnya Tidore meluaskan pengaruh sehingga terbentuk persekutuan dagang sembilan bersaudara Uli Siwa yang terdiri atas Tidore, Halmahera, Makean, Jailolo hingga Papua. Tidore sempat bersaing bersama pulau tetangganya, Ternate, akan tetapi kemudian bersatu melawan segala bentuk penjajahan.

Saat Indonesia merdeka, Tidore seolah terlupakan. Sebagian kalangan lupa bahwa sejarah kolonilisasi di Indonesia berawal dari kedatangan bangsa Spanyol dan Portugis di kepulauan Maluku Utara. Sebuah pulau yang telah berbudaya dan maju dari segi pertanian dan perdagangan. Baru pada tahun 1999, gelar sultan pun diberlakukan kembali, sehingga saat ini Sultan Tidore ke-37 dijabat oleh Husain Sjah dengan Walikota H. Ali Ibrahim dan nama resminya adalah Kota Tidore Kepulauan.

Mengingat sejarah tersebut saya  jadi semakin ingin berkunjung ke Tidore yang memiliki luas total berkisar 13.862,86 Km2 kilometer persegi. Saya sangat menggemari kisah sejarah karena dengan sejarahlah kita bisa belajar agar tidak terperosok ke jurang yang sama. Saya sangat ingin berkunjung ke istana Sultan atau Keraton Tidore, mengunjungi Museum Kesultanan Tidore Sonyine Maligie dan Tugu Uang Seribu Rupiah, serta menelusuri Benteng Tore dan Tahula, benteng bekas Spanyol dan Tugu Pendaratan Sebastiano de Elaco, sambil mendengarkan kisah-kisah heroik leluhur bangsa Tidore dan perjuangan Sultan Nuku. Selain mengunjungi situs bersejarah saya juga ingin melihat tari-tarian dan kesenian tradisional, juga tentunya masakan khas Tidore yang lezat.

Ada banyak hal yang ingin saya lakukan seandainya mendapat kesempatan berkunjung ke Tidore. Yang pertama tentunya mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan obyek wisata menarik lainnya, seperti menikmati panorama bawah laut pulau-pulau di sekeliling Tidore seperti Pulau Maitara yang indah oleh karang dan ikan berwarna-warni, menikmati panorama pantai yang indah di Pantai Ake Sahu yang memiliki pemandian air panas dan Pantai Rum yang berpasir lembut, bermain air di Air Terjun Luku Cileng dan Air Terjun Goheba, menikmati pemandangan asri di Taman Cobo, mendaki puncak Kie Matubu dan berkunjung ke desa adat Lada-Ake dengan rumah-rumah tradisionalnya yang terbuat dari bambu.

Berikutnya adalah mencicipi aneka hidangannya yang enak. Ada banyak masakan khas yang bikin penasaran, seperti menyantap kue tradisional Kue Abu yang terbuat dari tepung beras dan gula merah. Apang Coe yang nikmat, menyantap Nasi Jaha Kuah bersama Dabu-Dabu Roa serta dipungkasi dengan menyeruput Kopi Dabe, yakni minuman khas Tidore berupa air jahe, gula merah serta kenari. Sajian lainnya seperti Uge Ake, Tela Gule, Mam Raha, Lapis Tidore, Sagu Tore, Popeda, dan Kue Bilolo juga menggoda untuk dicicipi.

Kesenian dan kerajinan tentunya juga tak boleh dilewatkan.  Seperti kesenian Baramasuwen atau yang sekarang disebut permainan bambu gila dan tradisi Barifola dimana sebenarnya kental akan nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan.  Ada juga tradisi Lufu Kie sebagai ucapan rasa syukur, acara Paji dama Nyili-Nyili untuk meneladani semangat perjuangan Sultan Nuku dan prajuritnya yang biasa dihelat setiap 12 April sekaligus memperingati ulang tahun Tidore, Tarian Soya-Soya yang diiringi alat musik tradisional Tifa, dan Taji Besi  yang merupakan puji-pujian kepada para nabi dan rasul dengan tetabuhan rebana.

Namun rupanya belum ada penerbangan langsung dari Jakarta menuju Tidore, sehingga wisatawan mendarat di Bandara Baabulah di Ternate baru dilanjutkan dengan naik kapal feri atau kapal cepat dari Bastiong, Ternate menuju Rum, Tidore. Meskipun perjalanannya harus melalui udara dan lautan, namun akan terbayar oleh pemandangan indah alam Tidore dan pengalaman yang berharga. Hemmm jadi ingin mengikuti visit Tidore Island, yuk ikutan lombanya berhadiah ke Tidore.

Sumber gambar: 1 I 2 I 3 I 4 I 5 I 6

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 18, 2017.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: