Creativity is Great: Gara-gara Beatles Terdampar di Liverpool

beatles_abbey_road1

Hari Minggu adalah waktuku bersenang-senang dengan caraku. Apalagi jika bukan tidur sepuasnya. Belajar ini-itu untuk mempersiapkan ujian nasional memang cukup melelahkan dan menyita porsi tidurku.

Namun, minggu-minggu belakangan ini aku kesulitan memejamkan mataku di hari favoritku. Gara-garanya kakak yang sedang gandrung akan musisi legendaris asal Inggris. Pagi-pagi sudah berkumandang raya lagu-lagu Beatles.

Oh yeah I’ll tell you something
I think you’ll understand
When I say that something
I wanna hold your hand

Dan kakak semakin menambah kesemarakan hari Minggu seraya ikut bernyanyi dengan suaranya yang melengking. I wanna hold your hand….I wanna hold your hand…

“Kak..kecilin dong volumenya….ngantuk nih masih ingin tidur lagi,” rengekku.
Bukannya menuruti permintaan adiknya tersayang, kakakku malah menggodaku. “Hai puteri cantik. Anak gadis kok doyan tidur nanti susah dapat pacar lho…”

Aku kesal dan berbalik kembali ke kamarku. Kakak masih terus saja memutar lagu Beatles. Karena sudah berkali-kali aku mendengar lagu-lagu milik John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringgo Starr, aku mulai mengenali lagu-lagunya. Ada I Want to Hold Your Hand yang menjadi lagu favorit kakak. Berlanjut kemudian dengan Let it Be, Please Please Me, Yesterday, Come Together, dan seterusnya.

Akhirnya aku bisa terlelap namun rasa kantukku belum hilang sepenuhnya ketika terbangun. Sudah pukul 11 siang. Bisa-bisa ayah dan ibu marah jika aku terus-terusan tidur dan tidak bersantap siang dengan mereka.

“Hai tukang tidur, tahu saja sudah waktunya makan langsung bangun,” kakak lagi-lagi menggodaku. Melihat mataku melotot dan nampak sewot, ayah menentramkanku.
“Rully jangan goda melulu adikmu. Ia masih harus menyimpan energi untuk UN bulan depan”.
Aku menjulurkan lidah ke arah kakakku yang ditimpali dengan deheman dari Ibu.

“Jadinya mau lanjut kemana Din setelah lulus SMA?” tanya kakakku.
Aku selalu bingung jika ditanya tentang hal ini. Hingga saat ini aku belum bisa memutuskan bidang studi apa yang akan kupilih termasuk universitasnya.
“Belum tahu, Kak. Masih bingung pilih yang mana,” ucapku jujur.

“Bagaimana bila lanjut kuliah ke Inggris, Din?”
Eits, aku menatap heran ke kakakku. Ke Inggris? Rasanya di benakku tidak terbayang sama sekali untuk berkuliah ke luar negeri. Yang terbayang saat ini hanya kampus-kampus besar seperti Universitas Indonesia, ITS, ITB, UGM, dan sebagainya.

“Iya ke Inggris, Din, Sayang kan bahasa Inggrismu yang bagus jarang terpakai”. Kakak sadar juga jika kemampuan bahasa Inggrisku jauh lebih bagus dari dirinya. Tapi ke Inggris???

“ Ayo Din ke Inggris aja..boleh kan Bu..Ayah? Nanti aku bisa mampir dan diajak jalan ke Liverpool untuk berkunjung ke markas Beatles”.
Huuuh kakak. Ujung-ujungnya itu. Ke Liverpool untuk ke markas Beatles. Aku cemberut. Ayah dan Ibu tertawa.

“Boleh-boleh saja Dina berkuliah ke Inggris. Tapi cari beasiswa ya,” saran Ibu. “Rasa-rasanya Ibu dan ayah tak mampu jika membiayai kuliah ke luar negeri, lanjutnya.

Setelah makan siang, aku terdiam di depan meja belajarku. Rasanya begitu enggan untuk menyentuh buku saat ini.

Aku mendesah. Dulu aku memang berangan-angan berkuliah ke luar negeri. Ingin mencicipi bagaimana hidup di negeri orang. Karena itu aku rajin belajar bahasa Inggris. Namun, sejak ayah pensiun tahun lalu aku memikirkan kembali mimpi-mimpiku.

Kuraih map berisi brosur-brosur perguruan tinggi asing yang kudapat saat pameran. Kutelusuri info beasiswa yang ditawarkan oleh perguruan tinggi tersebut. Ada banyak brosur yang kudapat dari pameran yang digelar Kedutaan Besar Inggris. Salah satunya beasiswa S1 dari Liverpool John Moores University. Jurusannya termasuk lengkap dari teknik hingga kajian budaya dan seni musik.

Kakak kembali memutar lagu-lagu Beatles. Kali ini gitarnya yang ikut mengiringi lagu-lagu tersebut. Duhhh aku kembali mengantuk.

Ketika mataku terbuka aku heran melihat sekelilingku. Tak ada meja belajar dan tumpukan buku. Aku sedang duduk di sebuah bangku di pelabuhan. Pelabuhan yang ramai tapi nampak rapi. Ada sebuah papan besar yang menunjukkan tempat yang sedang kusinggahi. Albert Dock. Wilayah di Liverpool yang merupakan salah satu situs warisan budaya dunia dari Unesco.

Aku tertawa tak percaya. Aku sudah di Inggris. Aku berada di Liverpool. Sayang kakak tak bersamaku, tentu ia bersorak-sorak bila berada di tempat bersejarah idolanya.

Aku beranjak dari bangku dan berjalan perlahan menikmati panorama sekelilingku. Hawa pelabuhan terasa segar. Musim panas telah berganti musim gugur. Namun demikian, laju wisatawan menuju Liverpool serasa tak pernah berhenti.

Deretan restoran, galeri seni, dan museum terbentang di sepanjang jalan ini. Creativity is great dan ini terlihat jelas di Liverpool dengan banyaknya museum dan galeri seni sehingga juga disebut ibukota budaya Eropa. Tapi ada satu museum yang sangat ingin kukunjungi. Jika aku jadi kakak pasti menangis terharu bila mengunjungi museum ini. The Beatles Museum.

Seharusnya kakak yang mengunjungi museum ini. Melihat antusiasme pengunjung yang sebagian memiliki aksen khas Liverpool, scouse, rupanya museum ini menjadi kebanggaan warga kota dan tetap rajin dikunjungi oleh warga setempat. Waduh, aku jadi malu nih, cuma kenal Beatles dari beberapa lagunya. Tetapi setelah mengunjungi museum ini rasanya aku jadi makin akrab dengan Beatles. Bagaimana tidak, komplet banget isi museum ini mulai dari asal mula berdirinya Beatles, riwayat lagu dan konser-konsernya, juga kisah para personelnya. Aku seolah bertransformasi sebagai penggemar Beatles level pemula.

Kasihan kak Rully. Aku harus beli suvenir sebagai penambal laranya. Aku mengikuti arah para wisatawan yang menuju toko di belakang museum. Di Fab4store ada banyak pernak-pernik lucu tentang Beatles. Rupanya uang sakuku cukup untuk membeli kaus dan mug dengan gambar Beatles untuk kakak.

Kruyuk perutku mulai keroncongan. Aku menuju tempat makan yang lokasinya tak jauh dari museum. Karena hawa musim gugur yang sejuk, asyiknya sih bersantap scouse, masakan khas Liverpool yang mirip-mirip dengan semur daging yang biasa dimasak Ibu di rumah. Kuahnya sedikit lebih kental dan terasa hangat di kerongkongan.

Ketika menyantap scouse aku teringat pada Ibu dan juga kakak. Aku menunduk berpura menatap layar ponsel padahal mataku telah berkaca-kaca. Ketika aku mengangkat wajahku, yang nampak di depanku adalah sosok kakak. Aku kontan memeluknya. “Kak..Aku punya suvenir Beatles untukmu”.

Ia tercengang keheranan.
“Ada kaus dan mug Beatles buat kakak dari Liverpool,” lanjutku ceria.
Ia kemudian tertawa lebar dan menepuk bahuku.
Belajar yang rajin ya Din. Kakak doakan lulus UN dan dapat beasiswa keLiverpool.

Aku kemudian tersadar, perjalanan ke Liverpool adalah perjalanan bawah sadarku. Mungkin dalam beberapa bulan mendatang, aku bisa menjejak secara nyata ke Inggris dan ke Liverpool.

sumber gambar Beatles: http://www.showbiz411.com

 

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 26, 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: