Humaira:Istri Nabi yang Penuh Semangat

Humaira

Aisyah binti Abu Bakar mendapat julukan Humaira karena raut wajahnya yang kemerahan. Ia adalah istri Nabi Muhammad yang ceria dan penuh semangat. Ialah yang menemani Nabi pada masa-masa penuh pergolakan hingga Nabi wafat dalam pelukannya. Seperti apakah perjalanan hidup Aisyah dari kanak-kanak hingga di akhir hayatnya?

Dalam novel fiksi sejarah bertajuk Humaira Ibunda Orang Beriman dikisahkan Aisyah kecil hingga ia menjadi wanita yang berpengaruh di kanca politik pasca Nabi meninggal. Buku ini ditulis dengan sudut pandang Aisyah ketika bertutur kepada keponakannya tersayang, Abdullah, putera kakak perempuannya, Asma.

Aisyah merupakan putri kedua Abu Bakar dan Ummu Ruman. Ia menjadi saksi banyaknya penderitaan kaum muslimin pada tahun-tahun pertama Islam diturunkan. Ia melihat Bilal dan sepupunya, Thalha, yang dihajar habis-habisan oleh Umar bin Khatab yang masa itu masih dipihak kaum musyrikin. Ia melihat Abu Jahal yang bernama asli Abu al-Hakam menyiksa Sumayyah karena tak mau menyembah berhala.

Setelah Khadijah dan Abu Thalib wafat, Nabi menikahi Aisyah yang saat itu berusia sembilan tahun dan telah mendapat haid. Sejak itu Aisyah merasa menjadi wanita dewasa melebihi usia sebenarnya.

Kehidupan kaum muslimin semakin keras, pertentangan secara terbuka pun terjadi. Abu Jahal dan Abu Sofyan beserta istrinya, Hindun, terang-terangan ingin menundukkan mereka dan membawanya kembali ke adat-istiadat lama. Kaum muslimin pun kemudian hijrah ke Madinah. Namun perang tak bisa dihindari.

Pada masa itu, Nabi melakukan pernikahan politis dengan beberapa wanita dari suku lain untuk menjalin persekutuan. Aisyah tidak dapat menutupi rasa cemburunya meskipun dalam hatinya yakin ia masih istri kesayangan Nabi.

Cerita dalam buku ini sebagian di antaranya mungkin sudah banyak diketahui umum. Namun, buku yang memadukan karya fiksi dan sejarah ini lebih detail dalam mendeskripsikan sosok Humairah, perubahan emosi dan karakternya, juga situasi masa itu.

Aisyah sering menjadi saksi ketika Nabi mendapat wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril. Ada beberapa surat yang diturunkan setelah peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Ia memiliki ingatan yang tajam tentang ayat-ayat suci dan hadits sehingga ia menjadi penasihat dan guru pada masa kekalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khatab.

Dalam buku ini juga diungkapkan kecemburuan Aisyah ke para istri Nabi seperti halnya wanita biasa. Begitu pula kekagumannya pada kecantikan para putri Nabi juga rasa penasarannya pada sikap misterius Fatimah.

Dulu saya sangat heran mengapa Aisyah kurang mendukung kekalifahan Ali sehingga pemerintahan masa itu begitu kacau. Ya, dalam buku ini dikisahkan terjadi perang saudara dan kekacauan setelah Nabi wafat. Ada kemunculan nabi palsu, kehadiran kaum Khawarij yang merasa paling benar, dan intrik politik dari para turunan Abu Sofyan. Namun, gesekan antara Aisyah dan Ali rupanya terjadi sejak Nabi masih hidup meski Aisyah berupaya menutupinya dan berdamai.

Buku ini cukup tebal yaitu 616 halaman. Gaya bahasanya yang lugas dan mengalir membuat pembaca akan terbuai untuk membacanya hingga tuntas.

Detail Buku:
Judul         : Humaira Ibunda Orang Beriman
Penulis     : Kamran Pasha
Penerbit     : Zaman
Rating         : 8/10

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 20, 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: