Lebaran: Yang Penting Bersih dan Nyaman

banner giveaway

Saat masih kanak-kanak, Ibu hanya membelikan baju baru jelang lebaran. Alhasil pada masa itu lebaran identik dengan baju baru. Sedangkan bagi kaum dewasa, lebaran itu perlu rumah yang tampil baru.

Belasan tahun silam, toko-toko yang menjual pakaian tidak sebanyak seperti saat ini. Pusat perbelanjaan seperti department store di kota Malang juga bisa dihitung. Kebiasaan masyarakat saat itu juga umumnya membeli baju baru jelang perayaan hari besar. Sehingga jika tidak lebaran, rasanya Ibu tidak bakal membelikan baju baru, selain baju-baju warisan kakak.

Jauh hari sebelum bulan ramadhan, Ibu sudah menyiapkan anggaran belanja baju. Masing-masing dari kami mendapat jatah baju 2-3 buah. Jika kami memilih baju yang murah, tentu dapatnya bisa lebih banyak asal jangan kualitas dikorbankan.

Membeli baju baru perlu strategi. Jika beli baju saat siang hari maka bisa lapar dan haus karena sedang berpuasa. Sedangkan jika malam hari bakal menganggu ibadah tarawih. Untuk itu, strateginya biasanya kami melakukan survei terlebih dahulu di beberapa toko atau memastikan model pakaian yang kami inginkan. Baru kemudian langsung membeli pakaian di tempat yang tuju. Lebih menghemat waktu. Pulang beli pakaian, bisa mampir dulu beli kembang api dan air mancur hehehe.

Saat ini setelah dewasa jumlah toko pakaian sudah sangat banyak. Membeli pakaian baru juga bisa kapanpun. Jadinya lebaran tak harus baju baru. Toh tidak semua orang memperhatikan apakah pakaian kita baru atau tidak.

Setelah kami merantau, Ibu mulai rutin memberikan bahan kain ke kami. Cuma terkadang saya pusing mencari penjahit yang benar-benar bisa menjahit dengan bagus. Apalagi jika jelang lebaran, para penjahit sudah banyak yang menolak layanan. Alhasil kain-kain dari Ibu sebagian saya koleksi dan baru tiga kain yang sudah dieksekusi.

Rumah pun Ingin Nampak Baru

Jika sebagian masyarakat merayakan lebaran dengan baju baru, sebagian lainnya berupaya agar rumah nampak baru. Di kampung-kampung kami, para pemilik rumah mulai mengecat rumah dan pagar. Terkadang mereka lakukan sendiri untuk menghemat biaya. Taman dan pot-pot bunga di halaman rumah dirapikan. Lantai digosok kuat-kuat agar cemerlang. Begitu juga dengan kaca-kaca.

Keluarga kami juga memiliki kebiasaan mengecat rumah dan pagar. Cuma memang tidak rutin tiap tahun, namun jika ada kelebihan dana saja. Ayah biasanya meminta bantuan tetangga atau paman untuk mengecat dan sekaligus menambal bagian yang bocor. Dan memang setelah rumah dicat, rumah nampak lebih segar dan cerah. Tapi meski sering dicat, temanya itu-itu saja. Kalau tidak putih ya krem atau krem kecoklatan. Pagar juga kalau tidak coklat ya hitam. Rumah nenek di sebelah juga temanya hampir seragam, kalau tidak putih ya biru muda. Ternyata zona nyaman seseorang sulit diubah termasuk dalam hal warna cat rumah.

Setelah urusan cat, maka kemudian urusan lantai, seperti lantai dan dinding kamar mandi yang harus digosok kuat-kuat biar cemerlang. Pot-pot tanaman di teras juga ditata rapi. Kolam ikan pun dikuras dan lumut dibasmi.

ngelapkaca (1)-cerianya mengelap kaca

Semangatnya Keponakan Dimintai Tolong Mengelap Kaca

ngelapkaca (3)

Meski Tubuhku Mungil, Aku Rajin Lho

Selesai? Belum. Urusan kaca masih menanti. Ada banyak kaca yang harus dilap biar kinclong. Kaca-kaca di dalam rumah, kaca-kaca di loteng, dan juga kaca jendela ruang tamu. Bagian ruang tamu inilah yang merepotkan. Kami bertiga harus hompipa dulu siapa yang kebagian mengelap kaca jendela dari luar.

Kini mengecat rumah bisa kapan saja, demikian juga menggosok lantai dan dinding kamar mandi. Namun, urusan mengelap kaca masih menjadi tradisi, meski juga pada bulan-bulan sebelumnya juga rajin dibersihkan.

ngelapkaca (5)-mengelap dengan serius

Mengelap Jendela dengan Serius

ngelapkaca (12)-susah nih yg tinggi

Aduh Yang Tinggi Susah Nih Dijangkau

Tahun ini tradisi ini kami wariskan ke para keponakan. Eh bukannya cemberut mendapat tugas mengelap kaca, mereka malah riang gembira dan bersemangat. Kedua keponakan langsung mengambil kain lap dan dibasahinya dengan air dari kran di halaman.

ngelapkaca (4)-malah kotor

Kaca Malah Buram Hahaha

ngelapkaca (14)-malah kotor2

Kain Lap Tidak Diperas Dulu

Bahkan saking semangatnya, airnya tidak diperas dulu. Masih basah-basah penuh air, kain lap itu disapukan ke jendela. Alhasil bukannya bersih, kaca jendela malah buram penuh air. Lantai teras pun basah dan kotor kena bekas kaki dua keponakan. Ibu saya atau nenek mereka malah kemudian naik pintam. Ya akhirnya saya deh yang membereskan, mengepel lantai dan menuntaskan pekerjaan mereka. Tapi yang penting tradisi berhasil diwariskan.

ngelapkaca (7)-capek nih

Kia Menyerah dan Kecapekan

ngelapkaca (15)-sampe naik pintu

Semangat Hingga Naik Kursi

Lebaran sudah tiba dan setelah Subuh rumah sudah disapu dan dipel bersih. Tidak ada renovasi rumah atau cat baru. Yang penting rumah bersih dan nyaman. Para tamu pun juga nampak tak peduli rumah nampak baru, asal bisa silaturahmi dan ngobrol dengan pemilik rumah dengan nyaman dan hangat.

Artikel ini diikutsertakan dalam #GiveAwayLebaran yang disponsori oleh Saqina.comMukena Katun Jepang Nanida, Benoa KreatiSanderm, Dhofaro, dan Minikinizz

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 24, 2015.

10 Tanggapan to “Lebaran: Yang Penting Bersih dan Nyaman”

  1. Kompak gotong royong ini yaaa~ ^^

  2. bener banget jaman dulu yg penting baju baru dan rumah di cat 😉

  3. Rumah saya ditinggal mudik, jadi gak dicat 😀

  4. Wah, semangat ya. Mudah2an juara 🙂
    Salam kenal mbak pusapa 🙂

  5. […] 13. Puspa (@dewi_puspa00@yahoo.com) – Lebaran: Yang Penting Bersih dan Nyaman […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: