Ironi Long Weekend

Toko oleh-oleh sesak

Berlibur sekarang sudah menjadi gaya hidup masyarakat urban. Pada long weekend tol menuju Cikampek dan Cipularang sudah macet total sehari sebelum liburan. Tiket kereta api dan pesawat pun sudah jauh-jauh hari ludes. Alhasil liburan panjang terkadang menjadi momok bagi sebagian orang

Liburan identik dengan bersenang-senang. Mereka yang ingin berlibur tentu ingin refreshing melepaskan diri dari kepenatan.

Dengan banyaknya acara bertema liburan dan artikel pelesiran maka banyak warga yang ingin menghabiskan hari libur dengan pulang ke kampung halaman atau berlibur ke daerah lainnya. Alhasil kemacetan yang dulu hanya terjadi saat mudik kini juga terjadi saat long weekend.

Setahun lalu kemacetan hanya terjadi di tol menuju Cikampek dan Cipularang, tapi kini semakin menjadi-jadi dan menjalar ke tol dalam kota. Yang terjadi mereka yang pulang kerja dan ingin pulang ke rumah pun merasakan imbas kemacetan. Jika biasanya mereka berjibaku sekitar dua jam menuju rumah, saat esoknya long weekend mereka bisa tertahan hingga lebih dari empat jam. Ini sangat menyesakkan nafas.

Saya mengalami imbas macet parah ini saat liburan menjelang natal. Saat itu ada acara di sekitar Lebak Bulus. Saat pulang menuju rumah di kawasan Pasar Rebo, saya terpekur melihat kendaraan motor, angkot, dan kendaraan pribadi yang seakan parkir masal baik di tol maupun jalan biasa. Dan kemacetan ini terjadi dari malam sebelumnya. Jadinya sudah dua hari tol dan jalan di Jakarta terimbas macet. Jika biasanya Lebak Bulus-Pasar Rebo bisa ditempuh 30 menit, kami harus sabar dengan dua jam perjalanan.

Mengapa saat ini masyarakat gila long weekend? Bahkan libur sehari di tengah-tengah seperti Rabu saja sudah bikin macet? Apakah karena gaya hidup atau tren berwisata? Atau ada sebab lainnya?

Tren berwisata memang mulai merasuki kaum urban sejak lima tahun terakhir. Apalagi didukung dengan media sosial. Mereka ingin kelihatan sebagai netizen yang aktif dan rajin piknik dengan mengupdate status dengan foto-foto liburan mereka. Bahkan ada juga yang berlomba siapa di antara mereka yang paling sering piknik. Ini bisa ditengarai dari foto-foto yang kebanyakan selfie di foto liburan daripada foto panorama sendiri.

Tapi tidak semua yang berwisata hanya karena tren. Ada juga yang bersilaturahmi dengan keluarga dan sekedar refreshing. Kehidupan di metropolitan semakin mudah membuat stres sehingga mereka perlu pelampiasan untuk membuat kehidupan mereka seimbang. Akan tetapi jika mereka juga menemukan kemacetan saat liburan, entah apa yang ada di benak mereka. Apa tidak makin stres?

Selain dua hal di atas, bisa jadi ironi long weekend disebabkan kondisi kota yang makin tidak nyaman. Kehidupan sehari-hari yang makin menyesakkan bisa jadi membuat banyak penghuni kota yang tidak bahagia. Mereka ingin menemukan dan berada di ‘surga’ sesaat dan kemudian kembali mengarungi kehidupan mereka yang berat.

Selain jalanan menuju daerah wisata macet, tempat wisata juga toko oleh-oleh pun sarat wisatawan. Penginapan dan tempat makan pun penuh sesak. Ya bisnis wisata menjadi cemerlang dan ditunggu-tunggu pelaku bisnis wisata.

Saya kemudian juga berhitung-hitung seberapa banyak pendatang di Jakarta. Apakah limapuluh persen adalah pendatang sehingga saat long weekend mereka merasa perlu pulang kampung sehingga membuat kemacetan seperti saat mudik.

Apakah jumlah angkutan umum kurang mencukupi dan apakah membeli kendaraan pribadi semakin mudah sehingga semakin banyak pelaku wisata yang membawa kendaraan pribadi? Hal ini juga bisa menjadi catatan khusus.

Bagaimana dengan daerah dan warganya yang menjadi sasaran berlibur, apakah mereka senang atau malah susah melihat banjir wisatawan ini?

Saya tidak tahu bagaimana perasaan warga Puncak yang setiap akhir pekannya dipenuhi lautan mobil dari luar kota, terutama yang tidak berusaha di bidang wisata? Saya sendiri sebagai Arema merasa tidak nyaman berlibur di kampung halaman dimana saat akhir pekan disesaki warga Surabaya dan dari luar kota lainnya. Kadang ada rasa tidak adil, mengapa mereka yang tinggal di daerah tersebut malah tidak bisa menikmati panorama daerahnya karena serbuan wisatawan dari daerah lainnya.

Hal ini sekiranya menjadi catatan Kemenpar dan Pemerintah Daerah agar tidak terus-terusan menggenjot pariwisata daerah tapi mengesampingkan kenyamanan warga daerah tersebut. Bisa jadi ada pembatasan jumlah wisatawan seperti yang dilakukan negara lain sehingga ada win-win solution, wisatawan senang dan warga daerah tersebut juga tetap nyaman.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 27, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: