Bertemu Berbagai Penghuni Halaman

Membersihkan paving

Membersihkan halaman rumah, termasuk mencabuti rumput dan merawat tanaman perlu bersiap-siap untuk bertemu berbagai penghuninya. Dasar penakut! Mengaku suka berkebun, tapi mudah pias jika bertemu makhluk-makhluk tersebut.

Saat awal pindah rumah ke daerah Jakarta Timur, halaman rumah dipadati rumput liar yang tinggi. Saya dan suami berjibaku mencabuti rumput tersebut sedikit demi sedikit saat akhir pekan, saya juga melakukannya sebelum berangkat dan setelah pulang kerja.

Di balik rumput yang tinggi tersebut terdapat berbagai makhluk yang menjadikan rerumputan tersebut sebagai rumahnya. Terkadang saya tak siap bertemu mereka dan alhasil langsung memasang wajah jijik atau langsung lari ketakutan ke dalam rumah.

Makhluk yang membuatku terkejut kali pertama kupikir ular. Aku sedang asyik mencabuti rumput yang rimbun, lalu nampaklah wajah itu. Aku lari sambil teriak-teriak membuat Ovi keheranan. Dia langsung menginvestigasi sambil membawa tongkat.

Lalu tawanya merebak. Ia rupanya mengetahui makhluk yang membuatku heboh sendiri tersebut. Bukan ular, melainkan kodok besar berwarna kemerahan. Seolah mengejekku, ia pun melompat-lompat. Aku terpana.

Kodok itu masih suka sesekali muncul. Menyapaku di balik pot tanaman, tapi kubiarkan saja. Konon kodok merah itu pertanda air di lingkungan sekeliling masih terjaga dengan baik.

Beberapa hari lalu saya pusing juga melihat rumput yang subur menghijau karena hujan yang rajin mengguyur. Saya sih senang-senang saja hujan, tapi enggan mencabuti rumput. Tapi melihat rumah yang berantakan, alhasil saya pun selama tiga hari harus berjongkok dan mencabuti rumput dengan dipelototi para captor.

Ada saja ‘harta karun’ yang saya temukan. Ada lintah…waduh ini muncul darimana? Membuat saya geli dan langsung lari dan mandi. Eh ada juga berbagai makhluk lunak yang membuat saya hampir menangis dan merinding.

Belum cukup dengan kejutan tersebut ada kotoran para captor. Astaga ini membuat saya gila marah…saya menghujani para captor dengan amunisi berupa air dengan selang. Eh para captor malah asyik pindah ke jalan dan main lompat-lompatan. Huuh kapan para captor tersebut pindah rumah ya.

Ujian kesabaran tak berhenti di situ. Karena hujan saya pun menghentikan aksi mencabuti rumput.

Eh keesokan paginya, kresek isi rumput sudah berantakan dipakai mainan para captor. Juga ada jejak ala kucing dari tanah merah bangsa. Astaga captor ini pandai sekali memainkan emosi seseorang.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juni 26, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: