Blog to Book

Para narasumber blogger hangout

Bagi blogger, adalah suatu hal yang prestisius dan membanggakan apabila artikelnya atau karya fiksinya suatu saat dibukukan. Saya juga ingin sih suatu saat tidak lagi nulis keroyokan, tapi punya satu buku yang diterbitkan dan dibaca banyak orang. Nah ketika Ang Tek Khun, kompasianer sekaligus editor berpengalaman, menawarkan workshop menulis mengundang penerbit, saya pun kontan tertarik ikut serta.

Acara bertema Blog to Book ini diselenggarakan oleh Bloggercrony bekerja sama dengan penerbit Moka Media. Kegiatan blogger hangout 7.0 ini berlangsung Sabtu (17/7) dari siang hingga petang hari di Foodcourt Cikini Gold Center.

Sambil menunggu acara dimulai kami pun jelajah rasa dulu. Ada beragam stan makanan di sini. Akhirnya pilihan dijatuhkan ke roti bakar keju dan es cappuccino karena perut belum terlalu lapar. Tentang ulasan makanan, mungkin bakal ditulis di artikel lainnya.

Content is the king“, tegas narasumber Ang Tek Khun yang berpengalaman menjadi editor sekitar 24 tahun. Ia sebagai editor menyukai artikel yang dikerjakan dengan tulus dan sungguh-sungguh. Apalagi yang menggunakan konsep story telling. Artikel semacam inilah yang kemungkinan dilirik oleh mata-mata editor untuk diundang sebagai penulis atau artikelnya tersebut dibukukan. Konten sendiri sebaiknya dibuat yang tak lekang oleh waktu, sehingga bisa dibaca kapan saja.

Ang Tek Khun

Memang ada beberapa pilihan ketika seorang editor terpikat dengan artikel blogger. Yang pertama, artikel blog tersebut dipilih dan kemudian diminta untuk lebih detail menuliskan sehingga setebal buku. Atau, Kalian juga bisa dipesan untuk menuliskan tema tertentu.

Jika dirasa kumpulan artikelnya mumpuni untuk diterbitkan sebagai buku, blogger bisa memilih antara ditawarkan ke penerbit mayor dan indie. Kedua penerbit tersebut punya plus minusnya tersendiri. Jika memilih penerbit mayor maka perlu kesabaran tersendiri karena setiap editor perlu membaca terlebih dahulu isi buku tersebut baru bisa memberikan jawaban apakah naskahnya. Namun seandainya diterima maka penulis tinggal ongkang-ongkang kaki, tidak perlu memikirkan strategi promosi dan lain-lain. Untuk pembayarannya ada metode putus atau dibayar sekali di awal atau juga bisa secara sistem royalti.

Sedangkan pada penerbit indie, penulis diuntungkan karena bukunya bisa dicetak kapan saja. Ada beberapa sistem yang ditawarkan penerbit indie seperti penulis menanggung biaya produksi, penulis diharuskan membeli sejumlah ekslempar dan lain-lain. Dengan sistem ini penulis juga ikut repot, seperti ikut memikirkan strategi promosi dan pemasaran.

Dari tema, ada beragam hal yang bisa dijadikan buku. Yang umum digunakan adalah konsep piramida. Yang teratas adalah buku yang bersifat spesifik, yang paling bawah adalah buku yang bisa menjangkau semua kalangan. Setiap lapisan tersebut memiliki metode promosi dan pemasaran tersendiri juga segmen pembaca sendiri. Yang di lapisan teratas belum tentu kurang laku, dan sebaliknya.

Penulis juga bisa memilih mengikuti tren dan menciptakan tren. Hal ini juga diamini oleh perwakilan Moka Media dan grup. Tidak semua orang bisa menciptakan tren tapi juga tidak menutup kemungkinan sebuah buku dari penulis pemula menjadi tren baru. Jika dulu teenlit sempat merajai, sekarang tema romance dan komedi lagi marak.

Ang Tek Khun juga memberikan tips menulis fiksi. “Show, don’t tell“. Ia mencontohkan kata cantik, ganteng, tinggi yang bisa dideskripsikan lebih menarik dengan menghilangkan kata sifat tersebut. Misalnya untuk menyebutkan seseorang yang menarik, …ketika ia hadir di pertemuan tersebut, sontak setiap mata memandangnya. Ia seperti yang terlihat di majalah, wajahnya bersih, rambut ikalnya terpotong rapi, dan senyumnya seakan seolah membayang di wajahnya…Tujuan dari metode ini adalah menghidupkan apa yang kita tulis, menghidupkan panca indera, dan lebih banyak kata yang digunakan.

Proses penerbitan buku

Pada sesi berikutnya adalah sesi perwakilan dari Wahyu Media Group, yang terdiri dari Bintang Wahyu yang menerbitkan buku ajar sekolah, UMPTN, Toefl dll; Wahyu Media tentang buku balita, buku untuk anak SD dan parenting; Wahyu Qolbu untuk buku islami; dan Moka Media untuk fiksi.

Dari penjelasan Endro Wahyono dkk, penerbit terbuka untuk menerima naskah blogger tentang apa saja. Menjadi penulis buku tentunya menguntungkan karena karyanya bisa dibaca banyak orang, nama jadi terangkat dan dapat menerima royalti. Selain menerima naskah, Moka Media juga membuka peluang bagi blogger untuk membuat ulasan buku terbitan mereka atau mensponsori kegiatan blogger dengan hadiah buku, seperti giveaway dan blog tour.

Siapkah Kalian membuat buku? Jika tertarik diterbitkan oleh Moka Media, maka Kalian bisa mengirim email ke berikut.

Mengirim naskah

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Desember 19, 2016.

2 Tanggapan to “Blog to Book”

  1. saudara saya juga ada yang blognya dijadiin buku gitu.
    saya juga diajak buat masuk tapi blog saya apalah ahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: