Maraton Setrika

Menyetrika

Setelah maraton membaca buku dilanjutkan menulis dua artikel di Kompasiana dan yang dikirim, maka kulanjutkan dengan maraton setrika. Awalnya hanya ingin menyetrika baju-baju yang penting, tapi karena ingin rumah cepat rapi dan baju kering yang tidak terlalu ‘tanak’ (kayak nasi saja) maka kuputuskan untuk menyetrika semuanya. Huh ternyata menghabiskan waktu lima jam hehehe. Setelah selesai aku merasa puas dan ingin bermalasan.

Lima jam adalah waktu terlamaku setrika. Biasanya jika sudah mencapai empat jam aku sudah mencapai pegal. Dan jarang-jarang sih bersetrika hingga empat jam. Yang pertama karena menyetrika itu membosankan dan yang kedua, empat jam itu berarti menyetrika pakaian yang dua minggu kuabaikan. Rata-rata seminggu sekali aku sudah menyetrika atau malah seminggu dua kali.

Tapi hujan membuat rutinitas tak lagi sama. Menunggu baju kering perlu waktu. Sehingga menyetrika pun tak bisa lagi disetel mingguan.

Untunglah sejak 2015 ada mesin cuci sehingga lumayan membantu saat musim hujan. Sebelumnya, ketika harus mencuci tangan, bagian terepot adalah proses pengeringan. Tanganku sampai merah memeras pakaian. Saat musim penghujan aku pun terpaksa memasukkan jemuran dan mengipasinya dengan kipas angin agar lumayan kering. Tapi keringnya tidak enak dan masih perlu matahari. Jika masih ‘nyemek-nyemek’ maka harus cepat disetrika panas-panas agar tidak bau dan jamuran. Jika ada panas maka baju yang telah tersetrika itu pun kujemur.

Setrika bagi perempuan itu pekerjaan rumah tangga paling membosankan dan berat. Aku tidak suka setrika diganti dengan istilah menggosok, karena aktivitasnya bukan hanya itu, perlu mengaturnya agar sesuai lipatan, membuatnya licin dan memeriksa pakaian apakah ada kancingnya yang lepas, sobek, masih ada noda atau yang terparah berjamur.

Karena setrika dianggap memberatkan maka laundry pun laris manis. Kawan-kawanku yang bekerja atau menjadi ibu rumah tangga sangat suka mengirimkan pakaian laundry atau meminta bantuan pekerja khusus mencuci dan menyetrika.

Terkadang aku juga ingin melakukannya. Toh tarifnya tak begitu mahal. Tapi gara-gara suatu kali pernah melaundry-kan jaket semi jas dan malah rusak maka pasangan pun meminta dicuci dan disetrika sendiri. Ya…ya…ya apa boleh buat. Lagipula Ibu pernah berkata jika sesuatu bisa dilakukan sendiri kenapa perlu minta bantuan orang lain?

Dari kecil memang keluarga kami tak punya ART dan semua dikerjakan sendiri. Aku teringat bagaimana para keluarga di luar negeri umumnya juga melakukannya sendirian dan hanya yang kaya mampu memperkerjakan asisten rumah tangga. ART di sana mahal dan profesinya dihargai. Jika terbiasa mandiri di dalam negeri maka tinggal di luar negeri dalam kondisi pas-pasan juga akan tidak merasa sulit. Itu kulihat dari pasanganku yang berbulan-bulan sendirian di Jerman dan melakukan semua pekerjaannya sendiri. Eh balik ke tanah air jadi manja lagi:p

Tentang jasa menyetrika aku teringat akan tetanggaku. Ia bekerja sebagai buruh setrika dan saat itu ia masih menggunakan setrika arang. Aku melihat sendiri bagaimana susahnya ia mengatur panas, kadang kepanasan sehingga perlu dibiarkan sejenak, kadang juga kurang panas sehingga dikipasi. Ia nampak lelah tapi juga tabah karena semuanya demi keluarganya.

Waktu aku melihat tarif laundry perkilogram yang semakin murah, aku mengira-ngira berapa upah yang diterima mereka yang menyetrikanya? Kasihan jika upahnya minim karena pekerjaan mereka cukup berat.

Eh kalau aku sih setrikanya santai kok. Biasanya di depanku ada video, kipas angin, minuman dan cemilan sehingga tidak begitu membosankan. Setiap beberapa saat aku juga mengetik atau melakukan hal yang kusukai. Si Nero juga rajin menemani sehingga aku tidak merasa sepi.

Pasca setrika, aku merasa lemas dan jadi malas menatanya di lemari. Duh buku-buku masih berantakan dan belum kusampuli. Rumah harus rapi nih sebagai kejutan bagi pasangan.

Gambar dari clipartpanda

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Februari 26, 2017.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: