Darimana Nenek Moyang Bangsa Indonesia Berasal?

Saat ini bangsa Indonesia mengalami tantangan terkait kebhinekaan. Ada beberapa pihak yang seolah berupaya memperuncing perbedaan dan ingin menerapkan kembali divide et impera yang bertahun-tahun silam sukses membuat bangsa Indonesia terjajah sangat lama. Padahal Indonesia sejak dulu kaya akan keragaman dan itu adalah kekayaan bangsa Indonesia yang sepatutnya malah disyukuri.

Ketika masih ada orang-orang yang menyebut dirinya pribumi dan menuding lainnya nonpribumi, maka sekiranya patut mempelajari sejarah. Siapa sebenarnya nenek moyang bangsa Indonesia? Tentang asal-usul bangsa Indonesia dan tentang pentingnya persatuan kesatuan serta menjaga kebhinekaan dibahas dalam kursus singkat di Indonesia X bertajuk “Nation Building: Unity in Diversity”.

Awalnya saya mengira materi kursus online ini sederhana dan general. Tapi ketika membaca materi minggu pertamanya saya terpaku. Ini luar biasa. Sesuatu yang jarang didapatkan dan sebenarnya penting untuk diketahui banyak kalangan. Materi tentang asal-usul bangsa Indonesia yang dibawakan oleh pakar biologi molekular bernama Prof Herawati Sudoyo, PhD. Perempuan yang cerdas ini adalah sosok di balik keberhasilan identifikasi pelaku bom bunuh diri di Bali pada tahun 2004.

Prof Herawati Sudoyo membahas tentang manusia Indonesia dalam sudut pandang fakta antropologi dan genetika dalam materi berjudul Asal-Usul Keanekaragaman Manusia Indonesia. Ia pakar DNA forensik dari Lembaga Biologi Molekular Eijkman dan penerima anugerah Habibie Award tahun 2008.

Sejarah evolusi Homo Sapiens atau manusia modern diawali di benua Afrika sekitar 150 ribu tahun silam. Pada 30 ribu tahun berikutnya terjadilah perjalanan menuju Mesir dan Israel dimana kemudian jejaknya hilang. Namun pada 72 ribu tahun lalu terjadi migrasi kelompok manusia ke bagian selatan semenanjung Arab menuju India, kemudian ada yang ke Indonesia kemudian berakhir ke Australia. Gelombang berikutnya ke Indonesia berasal dari China Selatan sekitar 5-6 ribu tahun lalu dengan membawa bahasa Austronesia.

Di Indonesia dari 730 bahasa yang ada, sebagian besar adalah bahasa Austronesia. Ada juga bahasa non-Austronesia yaitu bahasa Papua yang digunakan penduduk pulau Timor. Alor, Papua, dan kawasan Indonesia Timur lainnya.

Meskipun sama-sama berasal dari Afrika, bangsa Indonesia kemudian mengalami perubahan DNA dikarenakan paparan ultraviolet, pengaruh lingkungan dan sebagainya sehingga DNA-nya pun beragam meskipun ada tiga kelompok utama, yaitu Austronesia, formosa Aborigin dan Papua dengan persebaran persentase mana di antara kelompok DNA itu yang dominan. Seperti misalnya di Alor ada yang 90 persen Papuan, tapi ada juga yang Austronesia. Jadi bisa saja Kalian tidak seratus persen Austronesia, tapi ada DNA Papuanya, tapi bisa jadi teman kalian 100 persen Austronesia. Hehehe beragam kan?!

Pembauran Genetik Bangsa Indonesia

Selain Profesor Herawati Sudoyo, ada Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud yang menjelaskan materi kebhinekaan serta korelasinya dengan kesenjangan dan ketidakadilan. Materi yang disampaikan Hilmar Farid, Ph.D ini berjudul Kemajemukan dan Keadilan.

Kebhinekaan terkikis karena masyarakat merasa terjadi ketidakadilan sehingga menumbuhkan sekterianisme. Oleh karenanya keadilan perlu segera diimplementasikan dan berjalan seiring dengan gagasan untuk memelihara persatuan dan kesatuan bangsa.

Semantara Yudi Latif Ph.D dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia menjelaskan titik harmoni antara identitas mayor di Indonesia dengan Pancasila dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dalam materi kursusnya yang bertajuk Ideologi Inklusif bagi Kemajemukan Indonesia. Melengkapi paparan Hilmar, Yudi memaparkan bahwa keadilan dan persatuan harus berjalan seiring, jangan dipertukarkan.

Para Pengajar Kursus Nation Building: Unity in Diversity

Indonesia pernah mengalami kerusuhan tahun 1998. Sebelumnya di Malaysia juga ada kerusuhan anti-China tahun 1969 sehingga kemudian pemerintahan Malaysia menerapkan kebijakan yang disebut affirmative action dengan harapan kesenjangan sosial antara Melayu dan China semakin kecil. Kalau dari segi ekonomi kesenjangan menurun maka harapannya hubungan sosial kedua belah pihak akan membaik. Tapi kenyataannya berbeda, kesenjangan memang berhasil relatif menurun tapi kedua ras itu makin terpisah dan seolah berdiri sendiri-sendiri. Sehingga keadilan bisa dimaknakan membantu proses persatuan tapi keadilan tidak bisa berdiri sendiri untuk menjamin persatuan dan kesatuan sebuah bangsa. Untuk membentuk persatuan kesatuan bangsa perlu kontruksi sosial. Dalam kontruksi sosial perlu pandangan hidup. Pandangan hidup di Indonesia adalah Pancasila dimana selaras dengan seluruh ajaran di nusantara, yaitu keselarasan dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.

Kursus online ini bagian dari program Koentjaraningrat Memorial Lectures XIII yang diselenggarakan Forum Kajian Antropologi Indonesia. Diharapkan dalam forum ini masyarakat dapat lebih mengenal bangsanya dan leluhurnya. Materi ini cocok dengan kondisi saat ini dimana perlu kerja sama dari masyarakat untuk saling menjaga kebhinekaan. Materinya baru usai 2 Juli silam, tapi kelas baru dimulai 3 Juli dimana Kalian bisa mengikutinya.

gambar dari 123rf dan IndonesiaX

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 7, 2017.

4 Tanggapan to “Darimana Nenek Moyang Bangsa Indonesia Berasal?”

  1. Jadi benar ya nenek moyang ku seorang pelaut

  2. Mnrt sang prof apa sj alasan kedua ras yg4 dipaparkan diatas sulit berbaur?

    • Ini kutipan Pak Yudi dari Indonesia X: “Tetapi, hubungan sosial, inklusi sosial yang diharapkan, tidak terjadi. Bahkan di antara kedua golongannya, even makin devided. Belum lagi kesenjangan baru muncul, karena ternyata kebijakan affirmative action, ‘the new action economic policy’ itu memang, lebih menguntungkan lapis tipis elit Melayu yang, karena perburuan rente itu dia mendapatkan keuntungan ekonomi. Tetapi tetap, orang-orang Melayu lapisan bawah tidak naik secara ekonomi. Masyarakat yang adil secara ekonomi belum tentu kohesi sosialnya baik. Kohesi sosial memerlukan semacam, tergantung kepada konstruksi sosial. Tergantung pada system of signification. Sebenarnya di sini antropologi bekerja. Sistem makna, bagaimana cara kita membangun, memandang perbedaan. Bagaimana konstruksi sosial kita bangun.”
      Jika belum terjawab, maka bisa langsung ikuti kuliahnya dan berdiskusi dengan Beliau langsung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: